alexametrics
Minggu, 27 Sep 2020
radarmadura
Home > Resensi
icon featured
Resensi

Korona; Siksaan atau Musibah

03 Agustus 2020, 19: 05: 49 WIB | editor : Abdul Basri

Korona; Siksaan atau Musibah

Share this      

DI tengah merebaknya virus korona, membuat manusia resah dan gelisah dengan ketetapan Tuhan yang mereka anggap siksaan atau musibah. Kedati demikian, kehadiran virus ini sebenarnya menjadi titik kesadaran umat manusia yang selalu disibukan dengan hal-hal yang berbau materi. Hingga pada akhirnya mereka lupa bahwa ada banyak kegiatan yang mereka lupakan bersama keluarga atau lebih bemanfaat dengan berada di rumah saja demi mencari rupiah. Dengan adanya pandemi ini, banyak dari mereka mengatakan, kehadiran virus ini sebagai teguran untuk dirinya yang jarang meluangkan waktu bersama keluarga. Sehingga mereka memberikan persepsi kepada situasi yang kita jalani ini sebagai siksaan.

Paradigma di atas teramat dangkal untuk di utarakan dan dikoarkan ke khalayak umum. Misalnya ada dari sebagian khlayak umum percaya, ini aka nada dua pilihan, maka banyak yang menduga bahwa situasi saat ini adalah tanda akhir zaman yang semakin dekat. Padahal hal itu tidak demikian, banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk mengklarifikasi bahwa kiamat sudah dekat, bahkan sebagian ayat al-Quran dan hadist-hadist Nabi banyak menguraikan tentang tanda-tanda akhir zaman. Misalnya seperti buku terbaru sang mufasir Indonesia, M. Quraish Shihab, yang berjudul ”Corona Ujian Tuhan, Sikap Muslim Menghadapinya. Dalam buku ini, Ayah dari Najwa Shihab tersebut memberikan banyak pandangan terhadap fenomena yang sedang kita nikmati dalam keadaan berduka, karena banyak aktifitas yang tidak bisa kita lakukan di luar rumah.

Secara tegas, dia menyatakan, bahwa corona bukanlah siksaan  seperti anggapan  mereka yang memiliki ilmu keagamaan yang dangkal sehingga menggunakan dalil al-Quran yang maknanya masih ada konotasinya atau tidak memiliki relasi sama sekali dengan Covid-19 ini. Inilah kekeliruan individu yang hanya mengatasnamakan dirinya agamawan tetapi tidak mengetahui secara detail ayat yang dikoar-koarkan. Sehingga dengan seperti itu, apa yang dia katakan menjebak banyak orang pada lubang ketakutan. Dan hal ini pula, bisa dikategorikan pada fitna karena menyebarkan berita bohong yang dasarnya memang dari al-Quran tapi maksudnya jauh dari substasi yang al-Quaran maksudkan.

Dalam buku ini, yang namanya siksaan adalah tidak mengenai kaum muslim atau non-muslim yang berbuat kebajikan, justru sebaliknya, siksaan hanya dikhususkan pada umat manusia—tanpa memandang agama—yang berbuat mungkar. Karana sesuai sejarah yang pernah terjadi pada kaum Nabi Nuh A.S yang ketika itu diperintahkan oleh Allah untuk membuat perahu untuk memuat kaumnya yang beriman. Dan terjadi pula pada umat Nabi Luth A.S yang diperintahkan untuk menjaga umatnya yang beriman kepada Allah. Sehingga kaum dari dua Nabi tersebut mendapatkan siksaan akibat kamungkaran yang diperbuat mereka sendiri. Hal ini tidak berlaku pada virus corona yang disebut siksaan, karena masih berlaku pada orang yang beriman dan tidak beriman. Tidak dapat dinamai siksa Ilahi karena ia masih menimpa muslim dan non-muslim yang durhaka maupun taat (Hal.7)

Pengkultusan redaksi yang tidak tepat pada posisinya selalu meresahkan dan menyesakkan pikiran. Sebab banyak kegamangan yang akan dihadapi jutaan kepala dan pikiran. Disinilah kehadiran buku ini memimiliki perang yang sigifikan untuk meluruskan paradigma jutaan orang yang sudah terkena imbasnya. Apalagi hal seperti itu diorasikan saat dunia mengalami paceklik seperti saat ini. Sunggu kebodohan yang lebih rendah dari bodoh.

Sedangkan yang dinamai musibah, M. Quraish Shihab jungan menjabarkan dengan detail apa yang disebut musibah atau dalam Istilah Islam bala’. Menurutnya, sesuai dengan beberapa ayat yang beliau kutip di surah Muhammad [47]:31.  Yang menjelaskan bahwa setiap yang hidup akan Allah uji, dengan demikian implikasi dari problem disini adalah, bahwa musibah atau bala’ masuk dalam ranah ujian dari-Nya. Arti ujian secara formal sangat universal. Sehinga beliau memberikan spesifikasi untuk apa yang disebut musibah atau bala’. Misal Allah menguji kita dengan anugerah berupa anak, bila di lain waku anka itu menangis dan kita (Naudzubillah) tidak sabar, maka anak itu akan menjadi amukan nafsu kita, seandainya kita bisa melawan itu akan menjadi hidayah buat kita. Misal juga kita diberikan banyak rezeki berupa uang, andai kita tidak bisa mengontrol nafsu kita, maka uang yang biasanya untuk kebutuhan hidup, justru dibuat burjudi, bermain sek atau menggunakan pada maksiat lainnya. Inilah yang disebut nafsu.

Dalam konteks ini, Sayyindina Ali r.a pernah berkata, kalau ada musibah, jika ia menimpa yang durhaka, maka itu adalah pendidikan. Bila menimpa yang taat, maka itu adalah ujian. Jika terjadi pada Nabi dan Rosul itulah peniningkatan derajat dan kedekatan pada Allah sedang jika menimpa para wali maka itu adalah penghormatan untuknya. (Hal.15-16) begitulah sistematika dalam pengujian Allah terhadap umat manusia. Sehingga dari sini sangat jelas bahwa yang namanya siksaan lahir dari golongan yang kolektif tidak taat atau durhaka pada Allah, sedangkan kalau musibah atau bala’ adalah ujian yang substansinya ingin meningkatkan derajat manusia, lebih-lebih pada kekasih-Nya.

Dari sini kita juga bisa menyadari, bahwa yang namanya Coronavirus disease 2019  adalah ujian dari sang pencipta untuk umat manusia. Sebab imbasnya bukan pada orang yang durhaka, melaikan orang yang taat pun tak luput tersisisr oleh virus yang pertamakali ditemukan pada bulan Desember 2019 ini. Kehadiran virus ini banyak menimbulkan streotip dari berbagai kalangan, ada yang mengatakan bahwa virus ini disebabkan oleh cara makan orang Cina, ada pula yang mengatakan ini adalah tentara Allah. Untuk persepsi yang kedua ini, banyak menimbulkan cacat pemikiran, kenapa, telah kita ketahui bersama, bahwa yang namanya tentara Allah itu untuk melawan kaum yang (dalam konteks sekarang) kriminalis dan seksualis. Nah virus ini bukan untuk melawah hal demikian, justru orang alim mati, dan yang berbuat kejahatan hidup dengan legowo.

Musibah atau kehadiran virus ini tidak perlu diratapi dengan air mata, sepatutnya kita berdoa dengan harap sangat kita bisa melewatinya dan menjadi manusia yang dicintai-Nya. Sebab tidak mungkin Allah menguji hambanya tanpa kemampuan untuk melawannya. Musibah adalah keniscayaan hidup, semua kita mengalaminya dan semua kita dianugerahi kamampuan oleh Allah untuk memikulnya. (Hal.18) sehingga sangat mungkin dan lebih baik kita menggunakan waktu lowong kita dengan dengan banyak berdoa dan melakukan ibadah bersama dengan keluarga. Karena dengan begitu kita akan mengetahui makna hidup yang sebenarnya.

MUHTADI ZL.

Pengurus Perpustakaan PP Annuqayah daerah Lubangsa

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia