alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Salman Al Rasyid Bangun Museum Uang Mancanegara

Kumpulkan 2.207 Mata Uang dari 154 Negara

02 Agustus 2020, 16: 16: 06 WIB | editor : Abdul Basri

ISTIMEWA: Kolektor uang mancanegara Salman Al Rasyid (berkalung medali penghargaan) menunjukkan koleksi uangnya di museum uang mancanegara, tepatnya di Jalan KH Moh. Kholil Gang IX, Nomor 36, Bangkalan.

ISTIMEWA: Kolektor uang mancanegara Salman Al Rasyid (berkalung medali penghargaan) menunjukkan koleksi uangnya di museum uang mancanegara, tepatnya di Jalan KH Moh. Kholil Gang IX, Nomor 36, Bangkalan. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Lahir prematur dan digerogoti sejumlah penyakit membuat pertumbuhan Salman Al Rasyid lambat. Dia sering disepelekan. Tapi, setelah dewasa, dia sangat membanggakan.

HELMI YAHYA, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

SENYUM renyah tersungging dari pemuda berbaju putih lengan pendek. Medali yang mengalung di lehernya itu membuatnya tampak gagah. Arloji di pergelangan tangannya membuat penampilannya terlihat elegan. Namun, yang membuat mata tertegun adalah album yang dipegang.

Album itu tidak berisi foto. Tetapi berisi mata uang kuno dari berbagai negara. Mata uang itu mungkin tidak lagi beredar di pasaran. Tetapi benda bersejarah tersebut tetap dalam kondisi baik di tangan pemuda bernama Salman Al Rasyid.

Salman lahir 8 Mei 2001. Dia hadir ke dunia secara prematur. Bahkan, dokter pernah memvonis siswa SMAN 2 Bangkalan itu tidak akan hidup lama. Sejak kecil terdapat kelainan. Kemudian, dia juga mengalami disleksia.

Namun, Hj R. Ayu Yuliana, sang ibunda, tetap berkeyakinan bahwa anaknya mampu bertahan hidup. Bahkan, perempuan berdarah biru itu yakin buah cintanya itu akan membanggakan keluarga. Keyakinannya pun terbukti.

Salman mendapat apresisasi dari sejumlah pihak. Bahkan, dia menerima penghargaan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) pada 15 September 2019. Pemuda berusia 19 tahun itu mendapatkan penghargaan sebagai kolektor mata uang kuno terbanyak.

Yakni, dengan jumlah 2.207 mata uang dari 154 negara. Perinciannya, 927 uang kertas dan 1.280 uang koin. Seluruh uang kuno itu diperoleh dari hasil tabungan uang saku sekolah yang tidak digunakan untuk jajan.

Kepada JPRM, Yuliana mengatakan, masa kecil anaknya itu penuh duka dan haru. Lahir dengan kondisi kurang sempurna membuat Salman harus berjuang keras. Berbagai cobaan menghampiri.

Di antaranya, berbagai kendala kesehatan seperti susah napas, kesulitan bicara, susah jalan, dan disleksia. Disleksia adalah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja.

Namun, perempuan yang biasa disapa Yuli itu tetap berkeyakinan anaknya akan tumbuh baik dan bisa membanggakan orang tua. Keyakinan itulah yang membuat perempuan berkerudung itu terus semangat merawat buah hatinya.

Salman terus tumbuh dan berkembang. Saat sekarang duduk di kelas akhir SMAN 2 Bangkalan. Dia tidak hanya tumbuh. Tetapi juga berprestasi berkat kegemarannya mengoleksi uang kuno dari berbagai negara. ”Saya terus mendampingi dengan sabar dan penuh kasih sayang,” katanya.

Yuli mengatakan, ketertarikan Salman dengan dunia numismatis dimulai sejak 6 Januari 2008. Berbagai cara dilakukan untuk mengumpulkan mata uang kuno dari berbagai negara. Yakni, mulai dari nitip kepada kerabat yang bekerja pelayaran hingga membeli pada kolektor dan toko uang.

Semua uang kuno yang dikumpulkan menggunakan dana pribadi. Uang saku dari orang tuanya ditabung. Jika ditotal, bisa mencapai ratusan juta. Salman sempat kesulitan mendapat uang dari negara yang jarang dikunjungi warga Madura.

Di antaranya, negara di Afrika Timur seperti Vanuatu, Kwait, dan Zimbabwe. Namun, berkat kegigihannya, uang yang dicari akhirnya didapatkan.

Salman mengatakan, kegemarannya mengumpulkan uang kuno dari berbagai negara itu terinspirasi dari museum uang di Sumatera. Inspirasi itu yang juga mendorong Salman membangun museum uang kuno pribadi.

Museum uang kuno itu menempati salah satu rumah kuno. Rumah tersebut peninggalan kakek Salman yang masih keturunan Belanda. ”Saya ingin memiliki gedung baru untuk museum uang mancanegara satu-satunya di Madura ini,” inginya.

Bagi Salman, uang kuno itu bisa menjadi bahan edukasi bagi masyarakat. Khususnya, kalangan muda. Sebab, mata uang itu bukan sekadar alat transaksi. Tetapi, mengandung sejarah yang layak dipelajari. ”Sejarah uang adalah sejarah bangsa,” katanya.

Pemuda yang berulang tahun tiap 8 Mei itu banyak mencari referensi tekait mata uang yang dimiliki. Dia paham betul sejarah dan perkembangan mata uang. Pengetahuannya itu dirangkum dalam buku berjudul Perkembangan Uang dalam Sejarah Dunia. 

(mr/pen/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia