alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Yang Tak Terlupakan dan Tak Akan Pernah Kembali

27 Juli 2020, 20: 04: 41 WIB | editor : Abdul Basri

HOMAEDI

HOMAEDI (RadarMadura.id)

Share this      

MINGGU pagi itu sebelum pendar perak benar-benar terpancar dari ufuk timur. Tepat delapan  tahun silam,  antara tahun 2012 sampai 2014 adalah kali pertama saya mengenal yang namanya  koran Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Semasa itu, bagi saya, membaca ibarat minum jamu yang tak pernah saya bayangkan sekaligus inginkan. Namun seiring berjalannya bulan dan hari, jamu itu seperti kebutuhan primer yang wajib saya konsumsi setiap minggu pagi.

Tak dinyana, bersamaan dengan  tahun itu pula, saya menumbuhkan benih-benih semangat untuk belajar menulis apa pun yang  ingin saya tulis. Apa pun yang terlintas, seembus angin pun yang berkelebat, seketika saya titahkan di atas kertas.

Singkat cerita, ketika bersama komunitas dalam sebuah gubuk, ada pertanyaan menarik sekaligus menggelitik, namun saya tak menanggapinya. ”Annuqayah”, begitu ucapnya, lalu ia meletakkan kembali lembaran koran JPRM satelah dirasa cukup membaca kolom Sastra Budaya. Dan faktanya memang pada tahun itu, hampir setiap minggu kolom Sastra Budaya koran JPRM selalu dihiasi penulis yang berasal dari Annuqayah.

Setelah hitungan bulan, saya pun terngiang dengan pertanyaan teman saya yang tak saya tanggapi itu. Tepat pada hari Minggu entah tanggal berapa, saya memberanikan diri menghampiri loper koran utara Pasar Senenan. Saya tidak membelinya. Saya hanya meminjam dan membacanya di bawah lampu merah depan gedung sebuah rumah.

Setiap Minggu tak pernah alpa. Uniknya, penjual koran itu menerima dengan ikhlas kehadiran saya meski saya benar-benar mengandalkan belas kasihannya untuk membaca secara gratis kolom Sastra Budaya koran JPRM.

Setiap Minggu saya lakukan hingga kurang lebih setahun. Menemani si loper koran hingga terik benar-benar terasa menyengat. Namun, hanya sebulan saya membacanya secara gratis. Selebihnya, saya tekun menyisihkan uang makan untuk berlangganan koran edisi Minggu JPRM untuk mengikuti perkembangan sastra di Madura.

Itulah sedikit kisah saya mengenai pengalaman seputar JPRM. Saya tak perlu panjang lebar bercerita tentang kegirangan saya saat mendapat SMS dari seorang dosen kalau puisi pertama saya dimuat Radar Madura tahun 2012. Saya pun tak perlu menjelaskan lebih jauh bagaimana kegemasan saya saat berbalas esai di kolom Sastra Budaya dengan seorang penulis Sumenep. Saya juga tak pernah sungkan mendatangi kantor Radar Madura hanya untuk mengambil kaus sebagai tanda bahwa karya saya dimuat di sana; puisi, cerpen, esai, dan resensi. Saya juga turut bangga punya teman kos 10 orang dan semuanya memakai kaus pemberian Radar Madura saat kami berjalan santai mengelilingi alun-alun kota.

Jika di atas sudah telanjur saya kisahkan, mungkin ini sebagian kecil luapan kegirangan saya untuk mengenang masa-masa gila itu. Masa-masa yang membuat saya mengerti, betapa membaca koran jauh lebih berharga daripada hanya mantengin status orang-orang di media sosial. Sebab, yang tak terlupakan, ia mungkin tak akan pernah kembali.

HOMAEDI

Penggemar dangdut koplo dan pencinta musik tradisional Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia