alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Catatan
icon featured
Catatan

JPRM Merawat Bahasa Madura

27 Juli 2020, 19: 48: 51 WIB | editor : Abdul Basri

FAHRUS REFENDI

FAHRUS REFENDI (RadarMadura.id)

Share this      

MENURUTMU, hal apa yang paling susah dilupakan selain cinta pertama yang paling memabukkan? Bagiku satu, apa itu? Kenangan manis. Berbicara tentang kenangan, pastinya tidak terlepas dari tiga pilar pokok. Ya, saya sengaja mengklasifikasikan kenangan menjadi tiga aspek: kenangan pahit, kenangan hambar, dan kenangan manis. Sekarang saya mau memaruh kenangan manis antara Jawa Pos Radar Madura, saya, dan intrik estetika yang berkelindan di dalamnya.

Berbekal beberapa buku yang sudah saya baca, saya memberanikan diri untuk mengirim naskah. Pada awalnya, karya yang saya kirim tidak ada kabar alias ditolak. Harus berbesar hati memang. Akan tetapi, perjuangan harus tetap berlanjut. Meskipun ditolak beberapa kali, saya tetap berpedoman pada kalimat yang selalu sukses membuat saya bersemangat lagi. Yaitu. ”Doamu yang mana, usahamu yang ke berapa kau tak pernah tahu mana yang akan membuahka hasil. Tugasmu hanya satu di antara keduanya. Perbanyaklah!” Kalimat inilah yang selalu saya baca di langit-langit kamar. Dan ampuh menstimulus kembali semangat yang lagi anjlok.

Setelah beberapa kali ngirim, akhirnya hal yang saya inginkan tercapai. Karya saya dimuat. Pada hari itu juga saya mencari bukti terbitnya. Membeli dua koran sekaligus. Buat dibingkai di rumah dan dikliping sebagai laporan kepada dosen pengampu. Ucapan selamat serta harus selalu semangat dalam berliterasi selalu saya ingat. Di samping itu, saya dikasih hadiah berupa buku serta nilai yang membanggakan pada salah satu mata kuliah sastra.

Jawa Pos Radar Madura hadir sebagai tirta amerta bagi pers nasional maupun bagi masyarakat Madura khususnya. Di samping memberikan berita-berita teraktual setiap hari, ada kolom khusus untuk para penulis mengekspresikan karyanya (opini, cerpen, puisi, dan resensi buku).

Jawa Pos Radar Madura juga memberikan kesempatan para penulis lokal Madura  untuk eksis menulis cerita berbahasa Madura. Hal itu merupakan bentuk menjaga bahasa Madura agar terhindar dari kepunahan. Karena tanpa dimungkiri, banyak orang Madura tidak tahu bahasanya sendiri. Bahasa leluhurnya. Pegawainya yang ramah serta murah senyum pada tamu yang berkunjung semakin menambah keeksotisan peran JPRM di mata masyarakat. Panjang umur kebaikan. Salam. 

FAHRUS REFENDI

Mahasiswa Universitas Madura, Prodi Bahasa & Sastra Indonesia, asal Pamekasan.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia