alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Berita Kota
icon featured
Berita Kota

Nase’ Rasol Tompang Tellor

27 Juli 2020, 18: 02: 15 WIB | editor : Abdul Basri

DILESTARIKAN: Nase’ rasol terhidang di depan undangan sebuah acara di Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, Sumenep.

DILESTARIKAN: Nase’ rasol terhidang di depan undangan sebuah acara di Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura, Sumenep. (LUQMAN HAKIM/RadarMadura.id)

Share this      

PERINGATAN Hari Ulang Tahun Ke-21 Jawa Pos Radar Madura (JPRM) tidak seperti sebelumnya. Selain digelar sederhana, ada yang berbeda. Yakni, penggunaan nase’ rasol menjadi menu utama dalam tasyakuran.

Penggunaan nase’ rasol ini untuk mengingatkan khazanah kebudayaan Madura agar generasi muda tidak melupakan akar. Bahwa nase’ rasol ini mencerminkan sikap dan karakter orang Madura.

Direktur JPRM Abdul Aziz mengatakan, penggunaan nase’ rasol ini sengaja dilakukan untuk semakin meneguhkan JPRM sebagai Korannya Orang Madura. Menurut dia, saat ini banyak yang lupa tentang nase’ rasol. Padahal, ini perlu dilestarikan dan berpotensi untuk dikembangkan. ”Apalagi, nase’ rasol memiliki makna filosofis yang sangat dalam,” katanya.

Pemerhati budaya Madura Syukri Tusy menjelaskan, nase’ rasol merupakan simbol ungkapan syukur kepada Tuhan. Meskipun terlihat sederhana, nase’ rasol memiliki nilai mulia daripada menu lain dalam sebuah semo.

Misal, dari cara menempatkan kepada hadirin dalam sebuah acara. Nase’ rasol selalu berada di depan kiai yang memimpin doa atau orang yang dituakan. Sebelum nase’ rasol terhidang, sebuah acara tidak mungkin dimulai.

Biasanya, kata Syukri, nase’ rasol disajikan di atas satu nampan. Selain nase’ rasol, di nampan yang sama ada sesisir pisang dan kembang tujuh rupa (kembang babur). ”Kembang babur ini salah satunya berarti bahwa orang Madura sejatinya suka yang harum-harum,” katanya.

Budayawan Ibnu Hajar mengapresiasi penggunaan nase’ rasol dalam peringatan HUT Ke-21 JPRM. Menurut dia, JPRM bisa menjadi pengingat bahwa orang Madura punya nase’ rasol. ”Kebudayaan nase’ rasol ini mulai pudar ketika bupati di Madura mengimpor kebiasaan tumpeng,” katanya kemarin (26/7).

Ibnu menjelaskan, semua yang melekat pada nase’ rasol memiliki makna. Kata rasol berasal dari rasul. Yang berarti kecintaan orang Madura kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Lalu, bentuk rasol seperti kubah masjid. Menandakan spritulitas orang Madura atau setidaknya memiliki jiwa religius. Penggunaan nasi putih menandakan kesucian hati yang dicerminkan dalam sikap dan perilaku orang Madura.

Selanjutnya, ada sekkol tono atau serundeng bakar. Simbol kelapa karena pohon ini bisa tumbuh di mana-mana. Semua yang ada pada pohon kelapa juga bermanfaat. Pohon kelapa bisa tumbuh dan bertahan di semua kondisi cuaca.

”Itu bukti orang Madura bisa bertahan hidup dalam semua kondisi dan semua tempat. Di sudut mana pun ada orang Madura,” ungkap penulis buku Tak Ada Cinta buat Penyair itu.

Sedangkan daging kelapa yang dibakar (etono) mencerminkan prinsip hidup orang Madura. Sekkol tono itu berwana hitam putih. Seperti itulah orang Madura yang jelas dan tegas. Tidak pernah abu-abu.

Di atas nasi putih itu ada telur ayam. Diutamakan telur ayam kampung. Ini menandakan bahwa untuk mencapai kesempurnaan butuh proses alamiah. Pasangan nasse’ rasol ini ajam kella pathe. Minumannya adalah lembur dan poka’.

Pria asal Sumenep itu menambahkan, penggunaan lembur dan poka’ juga punya maksud tersendiri. Jika mau dijabarkan secara lengkap pasti panjang. Karena itu, dia mengapresiasi JPRM yang mengingatkan orang Madura tentang kekayaannya sendiri. ”Terima kasih, Radar Madura,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia