alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Politik Pemerintahan
icon featured
Politik Pemerintahan

Dukungan Para Kiai Lebih Berpengaruh

Pengamat: Koalisi Gemuk Bukan Modal Utama

27 Juli 2020, 17: 51: 39 WIB | editor : Abdul Basri

Surokim Abdussalam  Pengamat Politik UTM

Surokim Abdussalam Pengamat Politik UTM (SUROKIM FOR RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP, Jawa Pos Radar Madura – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sumenep 2020 bakal seru. Sebab, diprediksi hanya mempertemukan dua kontestan. Yakni, Fattah Jasin-KH Moh. Ali Fikri A. Warits dan Achmad Fauzi-Nyai Dewi Khalifah.

Dua kandidat tersebut sudah memiliki modal dukungan parpol. Hanya, secara jumlah dan perolehan kursi di DPRD Sumenep, pasangan Fattah-Ra Fikri sejauh ini paling gemuk.

Melihat peta politik tersebut, Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam menilai koalisi gemuk belum menentukan kemenangan dalam pesta demokrasi. Sebab, bukan pemilihan partai, melainkan pemilihan langsung terhadap sosok pasangan bakal calon bupati dan wakil bupati (bacabup-bacawabup).

Tidak hanya itu, solidaritas kader partai-partai pengusung tidak selalu 100 persen. Menurut Surokim, solidaritas kader partai pada pemilihan langsung berkisar antara 40 pesen hingga 50 persen.

Potensi itu bukan tanpa dasar. Sebab, pada pemilihan langsung, posisi partai dalam memengaruhi suara pemilih tidak sama dengan pemilihan legislatif (pileg). Meski ada beberapa parpol yang bisa menggerakkan solidaritas kader di atas 60 persen, namun tidak menyeluruh.

”Dukungan partai tetap penting. Tapi pada saat pemilihan langsung seperti ini, penilaian terhadap sosok bacabup-bacawabup ini paling dominan,” jelasnya kemarin (26/7).

Saat pileg, partai mampu meraup banyak suara karena suara pemilih mengarah pada calon dan parpol pengusung. Berbeda dengan pilbup. Pasangan bacabup-bacawabup menjadi sorotan utama bagi masyarakat pemilih. Dalam kondisi demokrasi yang sehat, kedekatan kandidat dengan pemilih lebih berpotensi mengantarkan kemenangan pada takhta kursi bupati dan wakil bupati Sumenep.

Selain itu, dukungan tokoh masyarakat bisa jadi lebih berpengaruh dari parpol. Di Madura, arah dukungan para Kiai atau ulama memiliki peran penting. Beberapa faktor itulah yang saat ini harus menjadi pertimbangan kedua kandidat untuk bisa meraih kemenangan pada pilkada kali ini.

”Jadi banyak parpol pendukung dan peroleh kursi di DPRD, belum tentu menjadi faktor kemenangan,” kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya (FISIB) UTM itu.

Peneliti Surabaya Survei Center (SSC) itu menyebut, di sisi lain jika koalisi parpol pendukung salah satu kandidat mampu menggerakkan solidaritas kader-kadernya hingga 60 persen, tidak menutup kemungkinan juga akan menjadi faktor kemenangan.

Namun, potensi besar tetap pada sosok kandidat dan dukungan para tokoh. Apalagi, sejauh ini peran tokoh masyarakat di Madura terbukti banyak yang mampu mengantarkan kemenangan dalam perhelatan pesta demokrasi.

Meskipun secara angka pendulangan suara pada Pileg 2019 suara pemilih di gerbong koalisi parpol Fattah-Ra Fikri paling besar, tapi belum tentu bisa dipertahankan. Bisa berkurang, juga bertambah.

”Seperti yang saya sampaikan, saat pileg, suara pemilih terarah pada caleg dan parpol. Jadi hasil itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan dasar,” papar dosen Ilmu Komunikasi FISIB UTM itu.

Secara umum dua kandidat memiliki modal cukup. Fattah Jasin yang saat ini menjabat Kepala Bakorwil Pamekasan sebagai birokrat menggandeng Ra Fikri yang berbasis pondok pesantren. Begitu juga Fauzi yang masih aktif menjabat Wakil Bupati Sumenep dipasangkan dengan Nyai Eva untuk memperoleh dukungan dari kalangan ulama/kiai.

”Birokrat-tokoh masyarakat ini modal yang cukup. Tinggal bagaimana setiap kandidat dan parpol pendukung mempererat solidaritas dalam pemenangan,” jelasnya.

Sebagai tambahan informasi, ada lima partai peraih kursi di parlemen Kota Keris yang resmi memberikan rekomendasi kepada pasangan Fattah-Ra Fikri. Meliputi PKB dengan 10 kursi yang memperoleh 145.915 suara berdasarkan hasil rekapitulasi KPU Sumenep 2019. Kemudian, Nasdem 3 kursi dengan perolehan 36.647 suara, PPP 7 kursi dengan 65.431 suara, Demokrat 7 kursi dengan 74.011 suara, dan Hanura 3 kursi dengan 41.589 suara.

Kemudian Golkar juga merekomendasikan Fattah-Ra Fikri walaupun tidak mendapatkan kursi di DPRD. Namun pada Pemilu 2019, partai berlambang pohon beringin itu mendulang 26.916 pemilih. Dengan demikian, bacabup-bacawabup tersebut memiliki modal 30 kursi pada pemilihan legislatif DPRD Sumenep tahun lalu.

Sementara parpol pengusung Fauzi-Eva yakni PDI Perjuangan dapat 5 kursi dengan 66.011 suara dan PAN 6 kursi dengan 82.062 suara hasil perolehan Pileg 2019. Dengan demikian, total pasangan ini memiliki modal 11 kursi parpol di DPRD Sumenep. Sisanya, Partai Gerindra yang mendapat 6 kursi, PKS 2 kursi, dan PBB 1 kursi belum menentukan arah dukungan politiknya.

(mr/bad/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia