alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Cerita Dandim 0829/Bangkalan Lawan Korona

Vaksin Covid-19 Sesungguhnya Disiplin

27 Juli 2020, 17: 45: 28 WIB | editor : Abdul Basri

TEGAS: Komandan Kodim 0829/Bangkalan Letkol Kavaleri Ari Setyawan Wibowo saat ditemui di ruangan kerjanya, Jumat (24/7).

TEGAS: Komandan Kodim 0829/Bangkalan Letkol Kavaleri Ari Setyawan Wibowo saat ditemui di ruangan kerjanya, Jumat (24/7). (HELMI YAHYA/RadarMadura.id)

Share this      

Pandemi Covid-19 jadi masalah bersama. Termasuk bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Prajurit juga terlibat dalam perang melawan virus korona.

HELMI YAHYA, Jawa Pos Radar Madura

RUANG kerja Komandan Kodim 0829/Bangkalan Letkol Kavaleri Ari Setyawan Wibowo bersih. Beragam cenderamata dan piagam penghargaan dipajang di lemari. Banyak hal yang dibincangkan bersama Jawa Pos Radar Madura di ruang tersebut pada Jumat pagi (24/7) menjelang siang.

Obrolan kian serius saat membahas penanganan Covid-19 di Kota Salak. Letkol Kavaleri Ari Setyawan Wibowo turut andil bahkan sering turun langsung dalam upaya pencegahan virus korona.

Covid-19 baru masuk Kota Bangkalan pada Maret 2020 lalu. ”Saya sudah memprediksinya, apalagi melihat jenis wabah yang masih baru dan sulit dideteksi,” kata Ari.

Penanganan Covid-19 di Bangkalan tidak mudah. Berjuang melawan dan mendeteksi virus yang belum ditemukan vaksinnya itu tentu harus hati-hati. Sehingga, risiko penularan bisa ditekan. ”Kinerja petugas kesehatan kala itu memang menjadi atensi utama, karena jumlahnya yang masih minim,” ceritanya.

Selain jadi garda terdepan, tenaga medis dan kesehatan juga dituntut untuk tidak boleh sakit dan terpapar. Pembentukan tim dan strategi pelayanan terus ditingkatkan demi mengurangi risiko persebaran virus.

”Saya tidak ingin petugas medis malah ikut terpapar. Sebab, jika mereka terpapar, bagaimana selanjutnya,” ujarnya.

Tim medis kemudian diberikan batasan jam kerja dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan imun yang harus terjaga. Setiap beberapa jam petugas harus diganti dan beristirahat.

”Kami berhasil mencegah penularan pada petugas medis saat minggu-minggu pertama kasus positif itu muncul di Bangkalan,” katanya.

Upaya sosialisasi pada masyarakat kemudian menjadi rancangan pencegahan selanjutnya. Saat itu, pertimbangannya karena menjelang Idul Fitri.

”Kami sudah menduganya, pencegahan dan imbauan tidak mudik itu tidak dipatuhi. Keinginan dan upaya masyarakat untuk mudik lebih besar daripada ketakutan pada Covid-19,” paparnya.

Dugaannya benar terjadi. Warga Bangkalan yang terpapar virus korona melonjak drastis. Pihaknya sudah mengupayakan dan memaksimalkan sosialisasi di desa-desa dengan melibatkan personel TNI dan perangkat desa.

Pihaknya juga mengajak muspika, tokoh agama, dan tokoh masyarakat agar bersama-sama memerangi Covid-19. ”Saya sendiri tidak kaget, kasus Covid-19 naik drastis setelah banyak pemudik yang pulang,” imbuhnya.

Dia menyadari masyarakat sulit didisiplinkan. Terlebih saat Idul Fitri, seolah bersalaman itu sudah menjadi bagian dari hari raya. ”Awalnya saya juga kebingungan, tetapi untung ada sebagian masyarakat yang menuruti protokol kesehatan tersebut,” ungkap Ari.

Pihaknya saat itu jadi bagian dari Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bangkalan. Sampai saat ini pemkab tidak mengendurkan semangat untuk mencegah Covid-19. Terus mengedukasi masyarakat agar menjalankan pola hidup sehat, menggunakan masker, rajin cuci tangan, dan tetap menjaga jarak.

”Saya kalau melihat warga tidak pakai masker, menurunkan petugas, mereka akan segera menggunakan masker. Tetapi saat ditinggalkan, masker kembali mereka buka,” ungkap Ari sambil tertawa.

Menurut Ari, vaksin Covid-19 sesungguhnya memang disiplin. Sekeras apa pun petugas memberikan imbauan dan peringatan akan percuma jika masyarakat tetap tidak sadar dan disiplin.

”Kami tidak bisa menghentikan imbauan itu. Karena saat ini, cara seperti itu sudah tepat, sehingga nantinya masyarakat dapat terbiasa,” jelasnya.

Negara yang disiplin dan dapat dicontoh adalah Jepang. Mereka semua tertib menggunakan masker. Bahkan, cara bersalaman dan memberi hormatnya pun tidak membuat mereka bersentuhan satu sama lain. ”Sebenarnya masyarakat kita juga bisa, tetapi butuh waktu yang cukup panjang,” pungkasnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia