alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Bukan Hanya soal Kopi, Pengelola Kafe Beri Wadah Membaca

25 Juli 2020, 18: 47: 30 WIB | editor : Abdul Basri

TAMBAH GIZI: Pengunjung membaca buku puisi karya penyair BH Riyanto di Kafe Singgabatu di Jalan Jokotole, Pamekasan, kemarin.

TAMBAH GIZI: Pengunjung membaca buku puisi karya penyair BH Riyanto di Kafe Singgabatu di Jalan Jokotole, Pamekasan, kemarin. (ONGKY ARISTA UA./RadarMadura.id)

Share this      

Pamekasan sudah lama menyandang status sebagai Kota Pendidikan. Namun, hanya terkesan berkembang di lembaga pendidikan formal. Pengelola kafe berinisiatif mendekatkan pengunjung dengan dunia literasi.

ONGKY ARISTA UA., Pamekasan, Jawa Pos Radar Madura

GELIAT literasi tidak hanya bergerak di sektor formal seperti di sekolah dan perguruan tinggi. Tapi juga di kafe-kafe. Jumlah kafe yang menggerakkan sayap literasi di Pamekasan terus bertambah.

Selain Kafe Manifesco di Desa Jalmak, Kecamatan Kota Pamekasan, sekarang muncul Kafe Singgabatu. Kafe di Jalan Jokotole, Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Kota Pamekasan, itu berdiri sejak 2019.

Kafe tersebut saat ini memiliki website. Khusus untuk menampung tulisan atau karya. Kafe ini akan mulai membentuk penggerak literasi yang akan menyusun tulisan para penulis di Pamekasan. Tulisan mereka kemudian akan digarap menjadi buku.

Misi utama kafe ini tidak hanya menjadi tempat minum kopi dan sejenisnya. Tidak hanya untuk memajang buku. Tidak hanya menggerakkan geliat membaca beragam referensi bacaan. Namun yang pokok adalah melahirkan generasi penulis di Bumi Pamelingan.

Mohammad Jamaluddin, pemilik Kafe Singgabatu, mengaku gelisah ketika Jawa Pos Radar Madura (JPRM) berkunjung kemarin (24/7). Dia mengatakan, di Pamekasan begitu banyak kampus. Disayangkan bila tidak ada gerakan literasi hingga kafe-kafe.

Jamal mengungkapkan, generasi milenial adalah aset negara. Mereka tidak bisa lepas dari kafe. ”Untuk menguatkan kemampuan literasi generasi ini, salah satunya bergotong royong mendorong gerakan literasi di kafe,” ungkapnya.

Menurut dia, Pamekasan sebagai Kota Pendidikan akan keropos kalau tidak ditopang dengan kegiatan literasi. Sementara di Pamekasan sendiri, belum ada kafe literasi yang benar-benar mewadahi masyarakat.

”Jogjakarta menjadi episentrum pendidikan karena kemampuan menulis masyarakatnya terwadahi, dan terbukti melahirkan banyak tokoh intelektual. Kami tidak ingin hanya pajang buku, tapi juga mewadahi kepenulisan,” ungkapnya.

Jamal menilai, gerakan literasi di kafe ini kalau diseriusi akan menjadi identitas milenial. Sebab, pendekatan pendidikan saat ini perlu diubah dari formal ke nonformal. Termasuk memberikan wadah literasi di kafe,” sambung lelaki yang berprofesi sebagai dosen di IAIN Madura tersebut.

Jamal berharap, kafe literasi yang digagasnya bisa membantu kerja pendidikan. Utamanya untuk para pelajar yang masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi.

Seorang penggerak literasi Sivitas Kotheka Royyan Julian mengungkapkan, semakin banyak kafe literasi di Pamekasan, akan semakin bagus. Keberadaan kafe-kafe itu akan mendukung secara bersama-sama pengembangan pengetahuan. Agar sirkulasi pengetahuan tidak hanya di lembaga pendidikan dan seminar. Tapi, juga di tempat publik seperti di kafe-kafe.

”Tujuannya, menambah media di mana pengetahuan itu ditransmisikan,” katanya.

Penulis novel Tanjung Kemarau itu juga mengatakan, ketika literasi masuk kafe, pengetahuan tidak hanya dinikmati orang berpendidikan formal. Tapi juga akan dinikmati oleh orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan formal. ”Orientasinya, tidak hanya persoalan kafe. Tapi bagaimana pendidikan itu atau pengetahuan itu bukan hanya ditransfer atau terjadi di lembaga pendidikan, melainkan juga di ruang-ruang publik lain semisal kafe,” paparnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia