alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Abdul Halim Buktikan Kehebatan Orang Madura melalui Miniatur Kapal

Ditawar Rp 800 Ribu Malah Dipatok Rp 400 Ribu

24 Juli 2020, 19: 03: 31 WIB | editor : Abdul Basri

ISTIMEWA: Abdul Halim menunjukkan hasil garapan miniatur kapal di rumahnya di Kampung Dumarah, Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Bangkalan, kemarin.

ISTIMEWA: Abdul Halim menunjukkan hasil garapan miniatur kapal di rumahnya di Kampung Dumarah, Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Bangkalan, kemarin. (HELMI YAHYA/RadarMadura.id)

Share this      

Madura punya dua sosok hebat bernama Halim. Halim Perdanakusuma ahli penerbangan. Sedangkan Abdul Halim ahli bidang perkapalan. Dua-duanya mendunia.

HELMI YAHYA, Bangkalan, Radar Madura

NIAT iseng dan coba-coba membuahkan hasil memukau. Usaha yang dirintis Abdul Halim ini menunjukkan bahwa orang Madura memang hebat. Karya miniatur kapal warga Kampung Dumarah, Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Bangkalan, ini sudah dikenal hingga penjuru dunia.

Halim tinggal di lingkungan pesisir Kamal. Lelaki kelahiran Bangkalan, 17 Desember 1969, itu mengawali karirnya di PT PAL Indonesia. Halim bekerja di perusahaan galangan kapal itu sejak 1991 sebagai tenaga harian. Halim bekerja di kapal niaga bagian hull outfitting (HO).

”Padahal, saat itu saya masih berstatus siswa SMA,” katanya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) kemarin (23/7).

Saat berada di PT PAL Indonesia, Halim mengikuti pameran terapung. Halim mengagumi karya miniatur kapal di pameran tersebut. Saat itulah awal niat percobaan itu muncul. ”Masak orang Madura tidak bisa menciptakan miniatur kapal semacam itu?” katanya menggoda dua rekannya, Moh. Taufik dan Hariyanto.

Setelah tiga tahun bekerja di PT PAL, Halim berhenti pada 1993. Kemudian, dia meneguhkan niat bersama Taufik dan Hariyanto untuk memulai usaha miniatur kapal awal 1994. Ketiganya memulai dengan otodidak dan bahan seadanya. Mereka memanfaatkan mika, fiberglass, dan beberapa plastik. ”Saat itu kami benar-benar memulai tanpa persiapan. Kami berbagi pekerjaan hingga berhasil sesuai dengan harapan,” cerita Halim.

Nama Cakraningrat menjadi pilihan nama usaha miniatur kapalnya. Salah satu yang menginspirasi karena Cakraningrat berasal dari Madura. ”Kami ingin pahlawan Madura tetap dikenal. Kami juga ingin membantu membangun Madura dengan usaha ini,” teguh Halim.

Setelah berhasil mendalami pekerjaannya, Halim, Taufik, dan Hariyanto mulai berkelana. Mereka mencari pembeli dan peminat karyanya. Dari satu ke kantor lain menjajakan karyanya dengan membawa berkas dalam map.

”Dulu saat mencari peminat di kalangan Madura sangat sulit, hingga akhirnya kami menemukan garapan kapal perang BFP 57,” ungkapnya menggebu-gebu di ruang kerjanya.

Kapal perang dengan model BFP 57 jadi garapan mereka. Pesanan anggota TNI AL Surabaya. Mereka tertarik untuk memiliki miniatur kapal, namun tidak bisa membeli secara langsung. Karena itu, mereka membuat arisan. Tiap lotre yang keluar itulah dibelikan miniatur kapal perang tersebut.

”Karena para anggoata TNI itu belum punya uang, ingin membuat miniatur kapalnya, maka kami buatkan,” tambah Halim.

Setelah itu, Halim dihubungi PT PAL Indonesia. Perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) itu seolah tidak percaya pada karya mantan pekerjanya. Kemudian, perwakilan PT PAL mendatangi rumah produksi di Kampung Paseraman, Desa/Kecamatan Kamal, Bangkalan.

”Mereka, PT PAL, sampai datang langsung untuk menyurvei, apakah benar saya pembuat miniatur kapal perang BFP 57 itu,” kata Halim sambil tertawa.

Setelah itu, perusahaan tersebut memesan satu miniatur kapal. Saat itu PT PAL menawarkan harga Rp 800 ribu untuk miniatur kapal dengan skala 1:100. Tetapi, Halim menolak lantaran belum berani mematok harga tinggi dan masih meragukan kualitas garapannya.

”Saat itu saya bingung, mau dihargai Rp 800 ribu kok malah saya larang. Lalu, saya beri harga Rp 400 ribu,” ungkap Halim.

Mengenai usaha yang baru berjalan setahun tersebut, dia belum yakin garapannya layak dijual dengan harga mahal pada perusahaan ternama. Namun, PT PAL mengakui miniatur kapal Cakraningrat milik Abdul Halim dan dua temannya tersebut. Akhirnya, PT PAL terbiasa membeli dengan harga murah saat itu. ”Itu juga karena saya kebingungan,” gurau Halim.

Karya terbesar yang pernah digarap yaitu miniatur kapal pesanan Dirjen Perhubungan RI 2013. Panjangnya dua meter. Kini miniatur itu dipajang di Taman Mini Indonesia Indah. Miniatur karya Halim terdiri atas kapal ikan dan kapal minyak. 

”Paling kecil dihargai Rp 1.500.000. Sedangkan yang paling besar mencapai Rp 13.000.000. Semua bergantung kesulitan,” katanya.

Halim sudah mendapat pesanan dari Australia, Belanda, dan beberapa negara lain. Karya Halim juga pernah diikutkan pameran di Eropa. Setelah itu, dia diajak kerja sama oleh salah seorang pengusaha miniatur kapal di Australia.

Saat ini usaha tersebut menjadi usaha sampingan. Sebab, Halim menjadi staf pegawai negeri sipil (PNS) di Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Halim mengangkat empat pekerja dan dirinya sebagai penerima order.

”Pekerjaan miniatur kapal kecil mungkin selesai dalam tiga sampai seminggu. Sedangkan yang skala besar bisa sampai dua puluh hari atau sebulan,” tuturnya.

Beberapa perusahaan kapal sudah menjadi mitra kerja Halim. Yakni, PT Adiluhung Saranasegara Indonesia (ASSI) dan PT Dharma Lautan Utama Surabaya. ”Mereka rutin memesan kapal pada saya setiap tahun sehingga pemesanan sudah bisa dipersiapkan dari jauh hari,” ungkap Halim.

Dua kawannya, Taufik dan Hariyanto, hingga saat ini masih menggeluti miniatur kapal. Taufik, 55, yang tinggal Perumahan Graha Candra Land, Mlajah, Bangkalan, masih bekerja sama dengan Halim. Sedangkan Hariyanto, 48, warga Perumahan Talon Permai, Desa Kebun, Kamal, buka usaha sendiri.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia