alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Sekolah Belum Ditempati Pembelajaran Tatap Muka

Siswa dan Guru Melingkar di Halaman Masjid

23 Juli 2020, 23: 43: 43 WIB | editor : Abdul Basri

TETAP SEMANGAT: Siswa kelas 2 SDN Manding Laok 1 belajar di halaman Masjid Besar Babul Jannah Manding, Sumenep, disaksikan wali murid mereka kemarin.

TETAP SEMANGAT: Siswa kelas 2 SDN Manding Laok 1 belajar di halaman Masjid Besar Babul Jannah Manding, Sumenep, disaksikan wali murid mereka kemarin. (Aminatus Suhra/RadarMadura.id)

Share this      

Sekolah di zona merah belum bisa ditempati untuk pembelajaran tatap muka. Namun, guru dan siswa punya cara agar pendidikan tetap berlangsung. Tak ada kelas, halaman masjid pun jadi.

LALU-lalang kendaraan di depan Masjid Besar Babul Jannah ramai. Sebagian sepeda motor berhenti di samping pagar. Pengendara yang memarkir kendaraannya mulai memasuki halaman.

Secara bergiliran anak-anak yang diantarkan orang tuanya menuju sudut halaman. Mereka mendekati tikar yang terhampar di bagian kiri halaman. Suara mereka terhenti saat seorang guru bergabung dalam lingkaran itu.

Satu per satu siswa berpindah saling berjauhan. Lalu, sibuk mengeluarkan buku dari dalam tas. Buku tema dan perlengkapan lainnya diletakkan di bagian depan mereka.

Tepat pukul 08.00 seorang perempuan memulai pelajaran. Dialah Yuni Anandari, guru kelas 2 SDN Manding Laok 1. Perhatian siswa terpusat pada sosok berkerudung tersebut. Pembelajaran tatap muka baru dimulai kemarin (22/7).

”Saya senang bisa sekolah dengan teman-teman lagi,” ucap Difa Ezza Athira Zakiyah. Siswa kelas 2 itu semakin semangat karena bisa belajar langsung dengan guru. Apalagi bertemu dengan teman-temannya walaupun hanya sebagian.

Perlengkapan kegiatan belajar mengajar (KBM) memakai seadanya. Papan tulis yang dipakai untuk menerangkan pada siswa hanya berukuran 40 x 40 cm. Dilengkapi dengan spidol tinta hitam.

Saat menulis, siswa harus duduk di lantai beralas tikar. Tidak ada meja kecil. Walaupun fasilitas yang digunakan minim, siswa tetap semangat saat melangsungkan aktivitas pendidikan.

Pembelajaran tatap muka ini sedikit melegakan kekhawatiran masyarakat akan kelangsungan dunia pendidikan. Terlebih pada masa pandemi saat ini. ”PTM ini sebagai solusi bagi wali murid yang kebingungan masalah gadget,” ucap Yuni Anandari.

Dia mengungkapkan, banyak orang tua mengeluhkan pembelajaran daring. Mulai dari paket data, siswa pinjam HP tetangga, dan masalah lain. ”Juga ada wali murid yang belum memahami dunia digital,” Yuni.

Pembelajaran secara langsung hanya dilakukan satu jam per kelompok siswa. Dalam satu kelas dibagi tiga kelompok. Pembagiannya berdasarkan lokasi terdekat siswa. ”Ini untuk siswa kelas dua,” ucapnya.

Setiap guru mendatangi kelompok-kelompok kecil tersebut. Dalam satu minggu hanya ada satu kali KBM tatap muka. ”Tiap pertemuan satu jam pelajaran, dengan 30 menit setiap mata pelajaran,” terangnya.

Sementara 5 hari lainnya dilakukan pembelajaran daring. Dengan membuat video pembelajaran yang dikirim ke grup WA. Siswa diminta melihat video yang dikirim sambil membuka buku pelajaran. Pemberian tugas paling banyak hanya tiga soal.

Pembelajaran di halaman Masjid Besar Babul Jannah itu merupakan kelompok siswa kelas 2 yang berdekatan dari sekolah. Jarak masjid dengan sekolah sekitar tiga kilometer.

Kabid Pembinaan SD Disdik Sumenep Abd. Kadir menyampaikan, pembelajaran tatap muka di daerah zona merah tidak bisa dilangsungkan, khususnya KBM di lingkungan sekolah. Aktivitas pendidikan diperbolehkan jika pembelajaran dilakukan per kelompok. Guru mendatangi murid. ”Guru harus aktif,” ucapnya.

Mengenai metode pembelajaran daring dan luring bisa dikombinasikan. Dengan begitu, pendidikan tetap berlangsung dengan baik walaupun tidak seperti sebelum pandemi. Koordinasi guru, orang tua, dan murid harus baik. Mereka harus proaktif menyikapi pola pembelajaran dengan model seperti ini. (mi)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia