alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Paradoks Tubuh dalam Biografi Garam

oleh SANGAT MAHENDRA*

19 Juli 2020, 16: 49: 16 WIB | editor : Abdul Basri

HUJAN GARAM: Wail Irsyad, aktor kelahiran Sumenep, mementaskan Biografi Garam.

HUJAN GARAM: Wail Irsyad, aktor kelahiran Sumenep, mementaskan Biografi Garam. (BERNANDO J. SUJIBTO FOR RadarMadura.id)

Share this      

GARAM merupakan salah satu zat dasar terpenting bagi organisme tubuh. Bagi manusia, seperti ditulis Reay Tannahill dalam Food in History (1973), garam bukan hanya merangsang selera, tetapi juga kebutuhan biologis. Ketika manusia berkeringat, dia kehilangan beberapa garam alami di tubuhnya dan harus diganti dari makanan yang dia makan.

Garam selalu menyimpan paradoks. Di dalam posisinya sebagai pelengkap, garam ternyata menyimpan sejarah panjang manusia. Itu artinya, membaca garam tidak bisa sembarangan. Sebab, banyak yang tidak terungkap; apa sebenarnya yang terjadi di balik mitos, sejarah, dan perjalanan garam hingga menjadi industri macam sekarang. Garam dicari orang di seluruh dunia, tetapi para petaninya hidup biasa-biasa saja; dipakai pula untuk industri dari makanan sampai kosmetik dan produk-produk kecantikan, tetapi dapur produksinya amatlah sederhana; rasanya menempel di lidah, tetapi tidak cukup membuat orang peduli mengingat keberadaannya.

Begitulah garam terus menyimpan ironi dari paradoks tentang dirinya. Begitu juga Madura, sama-sama menyimpan segala paradoks kehidupan. Mitos, manusia, sejarah kehidupan, dan narasi-narasi yang dimunculkan, akhirnya Madura sering kali hanya berakhir sebagai dagelan picisan tak bertanggung jawab.

Namun, garam menjadi berbeda di tangan Wail Irsyad, seorang aktor kelahiran Sumenep lulusan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung.  Seniman yang memilih menetap di Bandung ini coba menghidupakan kembali sebagai sebuah biografi tubuh (Madura) melalui dirinya. Wail mementaskan teater tubuh, sebuah teater eksperimental, di mana dia seorang diri menjadi aktor dengan ornamen dominan berupa garam yang ditempatkan dalam sebuah ruang, semacam kamar, yang merepresentasikan ”dunia Madura”: celurit, sarung, baju takwa (koko), sapu lidi, gedek, air minum dengan gelas besi, dan sebagainya.

Cuplikan dari Reay Tannahill  di atas menjadi sangat penting dalam penggarapan Biografi Garam karya Wail. Dalam pentas, garam sebagai unsur penting di dalam tubuh, lahir sebagai identitas kemaduraan. Garam seperti kristalisasi dari mitos, folklor, manusia, kebudayaan, dan seluruh daya tubuh orang Madura, sebuah biografi tubuh yang melahirkan identitas budaya yang melingkupinya.

***

Pementasan yang disebarkan melalui video itu dimulai dengan hujan garam, tepatnya garam yang dijatuhkan dari atas, menyentuh kepala dan tubuh Wail. Dari air hujan, sebuah anugerah Tuhan yang tiada terkira meresap menjadi butiran-butiran kristal mineral garam. Visualisasi hujan garam menjadi narasi tunggal di Madura, di mana kehidupan Madura berangkat dari hikmah nalar atas semacam itu. Prinsip hujan secara spiritual menjelaskan bahwa segalanya dari Tuhan, dan pilihan dijatuhkan dari atas menjelaskan kerja spiritualitas penciptaan Wail dalam memandang garam dan Madura dalam dirinya. Dengan diiringi suara tembang, yang secara verbal hanya merupakan bunyi ”a reng-reng”, kita seperti dibawa pada sebuah suasana religiusitan madura; surau, ngaji, syi’iran, santri, dan pesantren.

Paradoks lain dari tubuh yang dihadirkan oleh Wail adalah upaya menaturalkan dirinya. Seperti jamak ketahui, Wail aktif dalam sebuah kelompok teater di Bandung bernama Payung Hitam yang secara konsisten menampilkan physical theater dengan memanfaatkan seluruh perangkat teori tubuh. Akan tetapi, dalam Biografi Garam kita seperti dibawa kepada suasana natural dari tubuhnya sendiri. Kita tidak menemukan kerumitan yang tidak penting, distorsi, stilisasi, atau fleksibilitas tubuh keaktoran Wail. Kita seperti diseret pada kenyataan tubuh santri, yang santun, lemah lembut tetapi waspada dan mawas.

Di sinilah justru saya jadi sadar paradoks tubuh Madura—keras tapi lembut, liat tapi lentur, berotot tapi tunduk, dan seterusnya. Mungkin itulah yang dicari Wail dari tubuh Madura dirinya. Tidak berlebihan menyebut Wail sebagai ”tubuh Madura”.

Dilema Tubuh Rantau

Tubuh dihadirkan tidak sebagai mimpi artistik belaka, tetapi diurai menjadi pengalaman-pengalaman personal, di mana keterkaitan dan hubungan tubuh ”akar” dan tubuh stereotip bersitegang. Saya merasa ada yang diambangkan—sengaja dibiarkan mengambang, saya tidak tahu juga. Saya menangkap resistensi narasi tubuh garam atau garam tubuh Wail dalam adegan penghancuran garam balok. Garam ditaruh ke dalam ruangan dengan gedek dengan ukuran 1 m x 1 m, kemudian diinjak-injak hingga halus. Praktik menghancurkan garam balok hingga menjadi butiran kembali, sebuah upaya penolakan Wail atas kenyataan industri garam yang tidak memihak petani, yang dalam kerja tafsir kemudian dibayangkan sebagai tubuh madura yang dicabut dari akar kemaduraannya.

Upaya menginjak seperti kerja negasi dalam praktik pengetahuan di mana penolakan atas satu produksi wacana tertentu atas garam yang ekonomis, kemudian ditarik kembali ke dalam butiran kristal akar tubuhnya. Wail sedang melakukan tafsir ulang atas kenyataan tubuh/garam sekarang. Atau, mengurai/mencurigai bagaimana tubuhnya dibentuk, dengan terus melakukan praktik intwrogasi tubuh rantaunya. Semua terlihat dalam tegang/lentur otot lengan, kaki, dan wajahnya.

Identitas rantau masih merupakan tegangan bagi Wail—tarik ulur antara harus melepaskan dan memasukkan. Dia menghadirkan celurit ”kembang turi” yang sedari awal sudah digantung di bagian sisi belakang panggung. Perlahan dia hunus celurit itu dan bergetar.

Kenapa bergetar bukan melakukan kembangan silat? Tentu saja itu tegangan yang dirasakannya selama di Bandung. Sejak kuliah sampai menikah. Wail tidak mau main-main dengan identitas, makanya dia tidak memilih silat. Petitih Madura ja’ pera’ acaca’a ta’ kera labu tergambar nyata di kepala saya. Tubuh Wail seperti teks yang berbicara langsung, upaya keluar dari stereotip semakin terlihat ketika celurit itu jatuh dan dia kubur dengan garam.

Setelah merenungi teater tubuh dari Wail, saya merasakan kehadiran Rabindranath Tagore dalam buku Tukang Kebun, dengan digambarkan mengubur pedang dan memilih merawat bunga-bunga. Begitulah jika seseorang telah sampai pada kesadaran perjalanan tubuhnya, kata menjadi tidak penting, sebab ia sering kali menjerumuskan kita kepada kehancuran dirinya. Walaupun ta’ kera labu bukan berarti kejatuhan secara fisik melainkan ”malu”.

Pertunjukan ditutup dan Wail kembali ”a reng-reng” menembangkan ketidakmampuan dirinya di tengah tegangan identitas yang dialaminya selama ini. Sambil membalut wajahnya dengan kain putih yang dipotong kecil panjang menyerupai perban. Seperti ingin menutup kalau tidak menghilangkan wajah aslinya.

Akhirnya saya berkeyakinan, menguatnya wacana identitas, rantau dan akar dalam pertunjukan Wail memunculkan dugaan-dugaan lain dalam pembacaan saya: mungkinkah identitas dibangun atas kecurigaan primordial kita tentang tubuh stereotip? Sementara saya yakin tubuh akar dalam pilihan Wail adalah keyakinan. Dan prinsip keyakinan menerabas segala kegamangan epistemologi. 

*)Sutradara dan pendiri Language Theatre Indonesia serta pembina teater di Pondok Pesantren Annuqayah

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia