alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Cara Komunitas G-25 Indonesia Bantu UMKM Terpuruk

Sumbangan Rp 25 Ribu untuk Warga Kurang Mampu

17 Juli 2020, 19: 50: 07 WIB | editor : Abdul Basri

INISIATOR: Ketua Komunitas G-25 Indonesia Dasuki Rahmat saat ditemui di Bangkalan, Minggu (12/7).

INISIATOR: Ketua Komunitas G-25 Indonesia Dasuki Rahmat saat ditemui di Bangkalan, Minggu (12/7). (HELMI YAHYA/RadarMadura.id)

Share this      

Bantuan besar atau kecil bukan menjadi pengaruh utama, tetapi manfaat penggunaannya akan menentukan suksesnya sebuah usaha untuk meningkatkan potensi lokal Bangkalan.

HELMI YAHYA, Bangkalan, Jawa Pos Radar Madura

KOMUNITAS Gerakan 25 (G-25) Indonesia merupakan sekumpulan pemuda dan mahasiswa. Komunitas ini aktif membantu sesama dan berbagi sedekah secara periodik. Dikemas menjadi program produktif. Sehingga, penerima bantuan dapat merasakan manfaat tersebut.

Anggota Komunitas G-25 Indonesia sekitar 120 orang. Mereka rutin memberikan sumbangan harian. Jumlahnya tidak ditentukan. Bantuan diberikan kepada mereka yang tidak mampu. Terutama pada pelaku usaha kecil dan menengah (UKM).

Biaya kegiatan dan bantuan menggunakan sumbangan. Tiap anggota minimal Rp 25 ribu tiap bulan. Nominal itu yang kemudian menjadi nama komunitas.

Dasuki Rahmat, warga Kecamatan Socah, Bangkalan, yang menjadi inisiator komunitas ini sekaligus menjadi ketua. Dia bersama anggota aktif membantu masyarakat kurang mampu. ”Dengan adanya G-25 yang sempat kami dirikan kurang lebih 1 tahun lebih, kami yakin mampu (membantu),” tegas Dasuki kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Minggu (12/7).

Bantuan G-25 membidik para pelaku usaha kecil dan masyarakat tidak mampu. Kebanyakan mereka sudah punya usaha dan ingin mengembangkan tapi terkendala modal. ”Saat-saat seperti ini pemerintah nyatanya harus lebih terdepan mendampingi pengusaha,” ujarnya.

Komunitas seumur jagung tentu tidak bisa dikatakan besar. Tetapi, cara sederhana dan dimulai dari sedekah rutin setiap bulan, mampu menggugah kesadaran untuk berbagi. Tiap anggota menyisihkan rezekinya untuk orang lain. Angka boleh kalah saing, tetapi telaten dan kepedulian pada kemanusiaan tentu harus lebih diperjuangkan,” teguh Dasuki.

Dengan cara seperti itu pihaknya bisa memberikan semangat terhadap para pelaku usaha agar tidak putus di tengah jalan. Semangat pelaku usaha hampir kendur di tengah pandemi Covid-19. Sudah banyak yang memutuskan untuk gulung tikar.

Saat itulah teman-teman Komunitas G-25 Indonesia terpanggil. Mereka memberikan motivasi agar para pelaku usaha bangkit lagi. ”Kami tentu tidak hanya memberikan semangat, tetapi bantuan. Tidak hanya modal usaha, tetapi barang atau bahkan model penjualan yang benar-benar dibutuhkan,” tuturnya.

Pihaknya bergerak cepat bersama mahasiswa untuk melakukan survei kondisi di lapangan. Penentuan layak dan tidak untuk menerima bantuan tersebut dilakukan proses identifikasi. Upaya itu dilakukan untuk memastikan bantuan nanti benar-benar diterima keluarga miskin.

Menurut dia, jika memang ada keluarga yang kategori masyarakat miskin, kondisi semacam itu mestinya menjadi tantangan bersama. Tetapi, menjadi beban moral yang harus dibantu. ”Kadang mereka punya potensi, tetapi tak bisa mengembangkannya. Kadang juga memiliki modal, tetapi tidak tahu peruntukannya,” sebut Dasuki.

Komunitas G-25 Indonesia didirikan tidak hanya sebagai pemberi bantuan. Komunitas ini digagas sebagai advokasi, pendampingan pada masyarakat dan pelaku usaha untuk mendapatkan solusi. G-25 akan terus mendampingi hingga masyarakat atau pelaku usaha tersebut mampu mandiri dan memiliki peluang kesuksesan. ”Kalau hanya memberikan bantuan tentu semua komunitas sama,” katanya.

Kondisi sosial masyarakat beragam. Keterbatasan dan ketidakmampuan juga tidak sama. Maka dari itu, perlu ada perhatian yang bisa menyentuh masyarakat. Baik mereka yang memiliki keterbatasan sosial, anak yatim, atau bahkan yang dilahirkan dengan bentuk fisik kurang sempurna.

”Kami merasa itu adalah bagian tanggung jawab. Kenapa manusia harus menunggu bantuan dari orang lain dulu jika kita mampu membantunya,” paparnya.

Kondisi perekonomian yang minim membuat banyak warga terbatas meraih mimpi, seperti putus sekolah. Itu akan berdampak pada kondisi sosial masyarakat. ”Kami akan merangkul mereka. Jika tak bisa merasakan pendidikan di dalam sekolah, maka akan kami bantu mendidiknya,” terang Dasuki. 

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia