alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Wali Murid Keluhkan Pembelajaran Jarak Jauh

Anak Tak Fokus Belajar, Malah Main Game

16 Juli 2020, 20: 21: 00 WIB | editor : Abdul Basri

SERIUS: Guru kelas B (untuk siswa tunarungu dan autis) sedang melangsungkan pembelajaran daring pada muridnya di SLB Cinta Ananda Sumenep, Selasa (14/7).

SERIUS: Guru kelas B (untuk siswa tunarungu dan autis) sedang melangsungkan pembelajaran daring pada muridnya di SLB Cinta Ananda Sumenep, Selasa (14/7). (AMINATUS SUHRA/RadarMadura.id)

Share this      

Belajar dari rumah (BDR) dinilai tidak efektif. Terutama bagi anak berkebutuhan khusus. Kemampuan anak menurun. Bahkan, harus mengulang dari nol.

MATAHARI belum menampakkan sinarnya saat jam dinding di SLB Cinta Ananda sudah menunjukkan pukul 09.00 kemarin (15/7). Awan yang membawa butiran-butiran air berjatuhan membasahi halaman sekolah di Kelurahan Karangduwak, Sumenep, itu.

Anak didik menggandeng tangan orang tua masing-masing memasuki ruangan sekolah. Tetesan air hujan membasahi wali murid yang akan melakukan registrasi siswa. Terdengar riuh guru memberi arahan pengisian formulir.

Sahut-menyahut orang tua dan guru juga meramaikan suasana pagi itu. Sebagian siswa ditemani orang tuanya saat melakukan registrasi ulang.

Pertemuan pertama antara guru dan wali murid membawa tetesan air mata. Pilu, resah, dan gundah saat pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilantunkan para orang tua. Tidak hanya dialami orang tua yang melakukan registrasi kemarin.

Wali murid yang mengisi formulir di hari sebelumnya juga merasakan hal serupa. Salah satunya Arfiah Rini. Ibunda Rizal Fahmi Ardiansyah itu menuturkan, pembelajaran di rumah selama pandemi menurunkan kemampuan anak. ”Tidak seperti saat kegiatan sekolah aktif,” ucapnya.

Guru SMA itu menuturkan, PJJ sangat berdampak pada perkembangan anak. Anak menjadi tidak semangat untuk belajar. ”Awal pembelajaran menggunakan daring (dalam jaringan, Red), anak saya masih semangat,” ucapnya.

Lambat laun semangatnya menjadi pudar. Bahkan, saat pembelajaran video call langsung dimatikan. Apalagi saat diberi tugas dengan gurunya. Tidak bisa dipaksa untuk ngirim hari itu juga karena anak tidak mau.

Ibunda Fahmi kebingungan karena tumbuh kembangnya tidak baik. ”Sekarang ngulang dari nol lagi. Karena anak tidak fokus belajar malah bermain game online,” ucapnya ketika ditemui di Jalan Payudan Timur, Desa Pabian.

Hampir semua orang tua menginginkan pembelajaran dilakukan secara tatap muka. Paling utama, terapi untuk anak berkebutuhan khusus dilakukan secara langsung. ”Minimal satu minggu tatap muka,” harapnya.

Arfiah Rini mengharapkan pembelajaran secara langsung. Dengan tatap muka, antara guru dan siswa terjalin komunikasi. Juga, supaya ada motivasi diri untuk belajar pada anak. Karena semua orang tua berusaha yang terbaik untuk anak.

Kesulitan mendidik anak juga dialami Zahra Sury. Ibunda Habibi Abdurrahman Ali itu menyatakan, anak menjadi malas saat mengerjakan tugas sekolah selama PJJ. ”Kalau belajar di rumah, anak manja sama orang tua,” ucap Zahra di SLB Cinta Ananda Sumenep Selasa (14/7).

Zahra mengungkapkan, kalau tugas pagi, baru selesai malam. Ketika siswa belajar di rumah tidak patuh seperti saat belajar di sekolah. ”Harus nunggu mood anak membaik. Karena anak tidak seperti siswa yang sekolah di lembaga pendidikan umum,” terangnya.

Orang tua Lutfi Maulana Ahmad, Vony Novita Sari juga mengatakan, semangat belajar anak berkebutuhan khusus menurun. Tidak seperti saat belajar langsung dengan gurunya. ”Itu yang saya alami,” ucapnya di SLB Cinta Ananda.

Hampir semua orang tua siswa lama yang melakukan registrasi ulang mengeluhkan hal serupa. Walaupun pandemi belum reda, wali murid berharap pembelajaran untuk siswa berkebutuhan khusus ini dilakukan secara langsung. Sebab, siswa jenuh saat belajar dari rumah. Selain itu, orang tua kerepotan jika pembelajaran melalui online.

Imania, guru tunarungu dan autis SLB Cinta Ananda mengakui banyak orang tua mengeluhkan PJJ. Mereka mengeluh karena anaknya susah nurut.

Sementara Operator SLB Cinta Ananda Agus Suwanto menyampaikan, memori jangka panjang anak tunarungu lemah. Jika terlalu lama tidak diajarkan, siswa akan lupa. ”Sekarang diajari, minggu depan belum tentu ingat,” ucapnya.

Kemampuan yang sudah dimiliki bisa kembali dari nol lagi. Dengan demikian, guru harus mengajar dari awal lagi. Masa pandemi ini diakui memang meningkatkan kekhawatiran guru tentang hal itu.

Kemampuan siswa berkebutuhan khusus yang lain juga akan berkurang. Sebab, guru tidak bisa mengetahui secara langsung perkembangan anak selama pembelajaran jarak jauh. ”Apalagi tidak ada support dari orang tua,” tandasnya.

Kemampuan anak akan menurun karena mereka tidak bisa dipaksa. Karena itu, orang tua juga harus telaten. Selain pembelajaran, juga dilakukan terapi. Tiap anak memiliki model terapi berbeda. Sesuai dengan tingkat dan ketunaan yang dialami.

Pihaknya menyampaikan ada program khusus untuk meningkatkan respons motorik dan sensorik anak. Misalnya tunarungu, terapinya menggunakan auditory verbal therapy (AVT).

Tunagrahita juga dilakukan terapi bina diri. Seperti memakai baju sendiri, makan sendiri, dan melakukan semua aktivitas sendiri. Bagi penderita autisme bisa diterapi dengan bina sosial. ”Lebih ke interaksinya,” jelas Agus.

Dia mengatakan, untuk anak tunanetra lebih mengarah pada orientasi modul. Teknik terapi menyesuaikan dengan tingkat kekurangan yang dialami, baik ringan, sedang, ataupun berat. (mi)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia