alexametrics
Minggu, 09 Aug 2020
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Sejarah Madura di Tangan Sastrawan

Oleh FARIS MAULANA AKBAR*

05 Juli 2020, 18: 45: 48 WIB | editor : Abdul Basri

Sejarah Madura di Tangan Sastrawan

Share this      

SEBUAH janji merupakan karya pertama yang saya baca dan sangat berkesan hingga membekas dalam ingatan. Dilanjutkan dengan serial kedua dan ketiganya, The Lost Prince dan The Road to The Empire, trilogi karya epik Sinta Yudisia yang berlatar sejarah pergulatan antara kerajaan Mongolia dan dunia Islam itu sepenuhnya telah memenangkan hati saya. Secara tidak langsung, novel-novel itu mengajari saya sejarah peradaban Islam saat saya duduk di kelas dua madrasah tsanawiyah pada 2009. Karya itu lebih berhasil membuat saya paham dan hafal tentang sejarah Islam dan Mongolia dibandingkan dengan materi yang sama disampaikan dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Sekitar awal 2014, Hilmy Firdausy, salah seorang teman, merekomendasikan saya untuk membaca Kitab Omong Kosong. Novel karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang memenangi penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2005 kategori prosa ini membuat saya berdecak kagum. Berbeda dengan pengalaman membaca karya Sinta Yudisia. Saat itu saya tak habis pikir bagaimana bisa kisah epos Ramayana yang ”kuno” dapat diceritakan kembali dengan gaya dan cita rasa baru. Dengan cara penceritaan seperti itu, saya pikir karya sastra klasik dapat diterima dengan baik oleh masyarakat, terutama generasi muda yang umumnya lebih tertarik pada karya bergenre pop dan bertema kekinian.

Saya kemudian meminta rekomendasi karya lain yang serupa. Hilmy lalu meminjamkan dua jilid Nagabumi yang juga dikarang SGA. SGA berhasil menggambarkan konteks sosial-budaya kerajaan Mataram abad ke-8 M yang menjadi latar cerita Nagabumi. Sastrawan yang identik dengan rambut gondrong itu juga berhasil menghidupkan jalinan cerita yang disangkutpautkan dengan data-data historis seperti pembangunan Candi Borobudur, perniagaan di Selat Malaka, hingga konflik di daratan Asia Tenggara-Tiongkok (jilid II). Membaca Nagabumi sama saja dengan membaca sejarah sekaligus mempelajari budaya Nusantara.

Pengalaman membaca karya Sinta Yudisia dan SGA tersebut membuat saya bertekad untuk berkenalan lebih jauh dengan karya-karya sastra bergenre sejarah, wabil khusus karya yang berlatar sejarah Nusantara. Saya berkenalan dengan Senopati Pamungkas Arswendo Atmowiloto, Musashi Eiji Yoshikawa, Amurwa Bhumi Langit Kresna Hariadi (LKH), Arus Balik Pramoedya Ananta Toer, Nagasasra S. H. Mintardja, dan beberapa karya sastrawan lain. Pembacaan saya terhadap karya-karya tersebut bukan hanya soal menikmati keindahan sastra yang disajikan oleh para penulisnya, melainkan juga upaya mempelajari sejarah yang diangkat dan bagaimana cara mereka menampilkannya. Masing-masing karya tersebut mempunyai karakteristik khas dan berhasil membuat saya geleng-geleng kepala.

Misalnya, Senopati Pamungkas yang bercerita mulai dari berakhirnya kerajaan Singasari hingga menjelang kejayaan Majapahit. Dalam salah satu masterpiece­-nya ini, Arswendo berhasil menggambarkan beberapa babakan sejarah penting kerajaan di Nusantara seperti konflik eksternal dan internal keraton Singasari dan Majapahit, perlawanan menghadapi pasukan Mongolia, perebutan pengaruh agama di Pulau Jawa, dan lain-lain. Dengan menyajikan penokohan yang kuat lewat puluhan tokoh yang sebagian besar termaktub dalam sejarah, Arswendo berhasil memvisualisasikan sejarah peradaban Nusantara dalam tulisannya.

Mungkin pembaca Senopati Pamungkas atau karya serupa lainnya akan sepakat bahwa membaca sejarah lewat karya sastra lebih mengasyikkan daripada membaca buku-buku sejarah formal. Dalam beberapa review novel sejarah yang saya amati selama ini, pernyataan serupa juga sering dilontarkan. Mereka –reviewer itu– dapat menikmati sejarah melalui karya sastra dan oleh karenanya sejarah tetap mendapatkan tempat di hati pembaca.

Sastrawan dan Nasib Sejarah

Sastrawan sejatinya berperan penting dalam upaya melestarikan sejarah dan budaya Nusantara. Mengingat, pada era milenial ini, generasi muda seperti saya butuh pengetahuan tentang sejarah dan warisan budaya setempat. Apalagi disertai dampak teknologi informasi yang semakin canggih, yang akhir-akhir ini budaya asing sudah merambah dan merasuki identitas kami. Jika pengetahuan terhadap sejarah dan budaya bangsa sendiri tidak ditingkatkan (di-upgrade), bisa jadi dalam periode dua dekade mendatang, tatkala generasi muda kini menjadi generasi tua, generasi muda masa depan sudah tidak dapat mengenali identitas dirinya sendiri sebagai suatu bangsa yang memiliki sejarah dan budaya.

Saya bersyukur dan berterima kasih kepada sastrawan yang berupaya menjaga identitas bangsa melalui karya-karyanya. Mereka tidak hanya menjaga sejarah masa lalu, tetapi juga menyelamatkan sejarah masa depan. Tokoh-tokoh seperti Pramoedya, Arswendo, Langit Kresna, dan Seno Gumira adalah segelintir nama dari golongan mereka yang saya sebutkan. Masih ada nama-nama lain yang tak kalah berjasa beserta karya-karyanya yang menginspirasi seperti Mangunwijaya dengan Rara Mendut, Agus Sunyoto dengan Syekh Siti Jenar, Saini K. M. dengan Kesatria Hutan Larangan, Damar Shashangka dengan Sabda Palon, Makinuddin Samin dengan Ahangkara, E. Rokajat Asura dengan Kesatria Terakhir, dan banyak nama penulis serta karya lainnya.

Banyak karya lain yang terus bermunculan dengan mengangkat berbagai macam latar sejarah. Sependek pengamatan saya, sejarah Jawa masih mendominasi latar karya-karya itu. Selebihnya sedikit sekali yang mengangkat sejarah daerah lain, termasuk Madura. Saya belum menemukan satu pun karya yang mengangkat sejarah Madura. Padahal, Madura memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara. Madura juga mempunyai tokoh-tokoh hebat yang kisahnya mungkin sekali dapat diangkat menjadi sebuah karya.

 

Sastrawan dan Sejarah Madura

Minimnya karya sastra yang mengangkat sejarah Madura bukan berarti Madura tidak memiliki sastrawan. Ada banyak sekali sastrawan Madura yang malang melintang di jagat kesusastraan Indonesia. Kualitas mereka tidak perlu diragukan. Mereka turut berjasa memopulerkan adat dan budaya Madura melalui karya tulis mereka. Namun, mungkin karena saya kurang mengeksplorasi lebih jauh sehingga belum menemukan karya yang saya maksudkan sebagaimana dibahas dari awal.

Sejauh ini, saya merasa sejarah Madura seperti sejarah pinggiran (atau terpinggirkan?). Ia tenggelam dalam hegemoni sejarah Jawa. Dalam karya sastra pun begitu. Padahal, barangkali lewat karya sastra, sastrawan dapat menyuarakan kembali sejarah Madura itu. Bahwa, Madura tidak hanya berperan sebagai figuran dalam sejarah Nusantara, bahwa sejarah Madura memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri, bahwa budaya Madura patut dilestarikan oleh generasi muda, patut diutarakan.

Menilik kelahiran karya-karya yang saya sebutkan di awal tulisan ini, peluang untuk menuliskan sejarah Madura dalam sebuah karya sangat besar. Penulisan karya-karya tersebut dibidani oleh sebuah wadah, yaitu media massa cetak –koran dan majalah– yang menerbitkan tulisan-tulisan sastra bernilai sejarah itu secara bersambung. Dalam hal ini, sepertinya Radar Madura dengan halaman ”Sastra dan Budaya”-nya dapat melakukan hal serupa dengan menyiapkan kolom khusus bagi pengarang yang ingin menulis cerita bersambung.

Di samping itu, melimpahnya sumber-sumber ide yang dapat digali dari tokoh-tokoh serta peninggalan sejarah di Madura adalah faktor lain yang semakin memperbesar peluang terciptanya karya bernilai sejarah itu. Tokoh-tokoh fenomenal seperti Arya Wiraraja, Ranggalawe, Rato Ebu, Jokotole, Trunojoyo, Cakraningrat I–IV, Ke’ Lesap, dan lainnya sungguh menarik untuk dinantikan kisahnya. Kisah-kisah di balik keberadaan keraton dari Sumenep hingga Bangkalan serta peninggalan sejarahnya di museum merupakan sumber-sumber informasi yang dapat digali lebih jauh dan dieksplorasi lebih mendalam. Di era teknologi yang serbacanggih ini, kiranya akses terhadap objek-objek tersebut lebih mudah didapatkan sehingga tidak ada alasan untuk tidak berkarya.

Namun harus diakui, meskipun sekilas tampak mudah dan peluangnya demikian besar, tantangan menulis kembali sejarah Madura dalam suatu karya juga besar. Sebagai orang awam, saya tidak tahu apakah nanti ada pihak-pihak tertentu, misalnya keluarga keturunan keraton atau pihak-pihak berwenang seperti sejarawan yang berkeberatan atas penulisan karya tersebut. Karena itu, mungkin dapat disosialisasikan terlebih dahulu maksud dan tujuan penulisan itu. Alangkah lebih baiknya jika penulisan karya semacam ini juga dapat dukungan dari pemerintah setempat, terutama bagian yang mengurusi bidang kebudayaan.

Akhirnya, saya teringat dua kasus kontroversial yang muncul beberapa waktu lalu, Keraton Agung Sejagat dan Sunda Empire. Saat itu saya sempat bertanya-tanya dengan cemas, apakah di Madura akan muncul kasus serupa mengingat Madura juga mempunyai sejarah dipimpin oleh raja-raja. Terlepas dari sisi kontroversialnya, saya mengambil pelajaran bahwa pengetahuan terhadap sejarah memegang peranan penting pada masa sekarang. Bukan untuk dibangga-banggakan. Sejarah kita gunakan untuk menapak tilas dan menjadikannya pelajaran untuk kehidupan yang lebih baik.

Jika selama ini sejarah semacam itu lebih bersifat eksklusif untuk kalangan pribadi, kini saatnya menjadikannya inklusif untuk umum. Inilah saat di mana sastrawan dapat mengambil peran besar dengan menghasilkan karya-karya terbaiknya. Inilah saat di mana nasib sejarah. 

*)Anggota Komunitas Saung, Ciputat, asal Mlajah, Bangkalan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia