alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Pamekasan
icon featured
Pamekasan

Target Produksi Tembakau Turun Drastis

29 Juni 2020, 12: 46: 50 WIB | editor : Abdul Basri

KERJA KERAS: Petani mencakul di lahan tembakau di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, beberapa hari lalu.

KERJA KERAS: Petani mencakul di lahan tembakau di Desa Bunder, Kecamatan Pademawu, beberapa hari lalu. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Pemerintah kabupaten (pemkab) telah menetapkan target produksi tembakau tahun ini. Yakni, 16.458 ton. Turun drastis dari tahun sebelumnya yang mencapai 24 ribu ton.

Sayangnya, pemkab belum menetapkan break-even point (BEP) tembakau untuk tahun ini. Pada 2019 lalu, BEP Rp 42.600 per kilogram. Namun fakta di lapangan, mayoritas pabrikan membeli di bawah ketentuan.

Kabid Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distan PHP) Pamekasan Ahmad Suaidi mengatakan, target tersebut berkurang signifikan dibandingkan tahun lalu. Sementara target lahan tanam tembakau tahun ini juga berkurang menjadi 23.511 hektare dari 29.875 hektare di 2019.

”Jumlah itu pasti terpenuhi, karena antusiasme menanamnya cukup tinggi,” kata Suaidi kemarin (28/6).

Target produksi yang dipatok tidak berdasarkan angka riil kebutuhan pasar. Yakni, hanya didasarkan pada perkiraan target serapan yang akan dilakukan oleh pabrikan. Semua pabrikan menyampaikan akan mengurangi target serapan 30–40 persen dari tahun lalu. Namun, yang menyetorkan target serapan secara resmi baru tiga pabrikan.

”Dari kalkulasi kami, dengan pengurangan serapan oleh pabrikan, ditemukan angka segitu. Apalagi Bentoel sudah mengonfirmasi tidak akan menyerap,” terangnya.

Dia menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa target serapan oleh pabrikan berkurang. Misalnya, cukai tembakau naik. Kemudian, iklan berisi imbauan tidak merokok yang semakin masif, sehingga menurunkan daya beli masyarakat.

Pihaknya telah mendorong petani agar menanam tembakau asli Madura, misalnya Prancak 95. Varietas tembakau Prancak 95 selama ini menjadi primadona pabrikan. ”Memang kami arahkan sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pabrikan,” ujarnya.

Suaidi mengklaim telah melakukan sosialisasi agar penanaman tembakau dilakukan di daerah produktif. Itu dimaksudkan agar ketersediaan tembakau di masa panen nanti kualitasnya sesuai dengan yang diinginkan pabrikan. ”Kalau daerah irigasi kami anjurkan untuk tidak menanam,” sambungnya.

Suaidi mengakui masih ada lahan kurang produktif untuk komoditas tembakau, tetapi tetap ditanami. Misalnya di Desa Ambat, Kecamatan Tlanakan. ”Kami hanya mengimbau. Selebihnya terserah petani, karena kami tidak bisa melarang petani untuk tidak menanam tembakau,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Pamekasan Harun Suyitno mendesak pemerintah untuk tetap mendapat target serapan dari pabrikan. ”Pemerintah harus proaktif datang kepabrikan untuk memfasilitasi tembakau masyarakat,” pintanya.

Harun juga meminta agar pemerintah tidak terpaku pada target yang dipatok. Pihaknya berharap petani tembakau tetap diberikan pembinaan supaya kualitas dan kuantitas daun emas yang dihasilkan lebih baik. ”Jika hanya memasang target dan memenuhi target itu sebuah kemunduran,” sindirnya.

Pihaknya juga meminta pemerintah untuk rutin ke lapangan dan menginformasikan kepada petani tentang tembakau. Misalnya, terkait dengan harga. ”Kami harap sering ke lapangan agar petani memiliki pilihan mau menanam atau tidak,” tandansya. (jup)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia