alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Sumenep
icon featured
Sumenep

Semester Pertama 83 Kasus Demam Berdarah

28 Juni 2020, 20: 21: 33 WIB | editor : Abdul Basri

JENGUK PASIEN: Warga ketika berada di lobi RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep kemarin.

JENGUK PASIEN: Warga ketika berada di lobi RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep kemarin. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Sebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD) harus diwaspadai. Pasalnya, penyakit yang berasal dari virus nyamuk Aedes aegypti ini berisiko pada kematian. Sejak Januari 2020 ada puluhan warga Sumenep terserang DBD.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumenep Kusmawati mengakui, sebaran Covid-19 sangat menyita perhatian publik untuk diwaspadai. Semua elemen bersinergi aktif melakukan pencegahan. Apalagi, pandemi yang melanda mayoritas daerah di Indonesia itu masih belum berakhir.

Akibatnya, timbul kesan virus korona adalah virus yang sangat ganas. Hal ini, baik dan perlu ditingkatkan sebagai upaya keselamatan bersama. Namun, perlu diimbangi dengan tetap waspada terhadap penyakit lain seperti DBD. ”Semua wajib waspada dengan persebaran Covid-19. Tapi, harus diimbangi dengan mewaspadai potensi persebaran penyakit yang lain,” jelasnya.

Hingga Sabtu (27/6), sebanyak 83 orang terjangkit DBD di Kota Keris. Beruntung dari puluhan kasus tersebut tidak ada pasien yang meninggal dunia. Maraknya penyakit DBD karena beberapa waktu tarakhir Sumenep diguyur hujan.

Saat musim hujan, potensi persebaran wabah penyakit DBD cenderung meningkat. Mengingat banyaknya genangan air menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Apalagi nyamuk jenis ini berkembang biak dengan menempati air yang jernih.

Meski demikian, persebaran DBD tidak bergantung pada musim hujan. Setiap rumah memiliki lokasi yang berpotensi menjadi tempat nyamuk tersebut berkembang biak. Seperti kamar mandi yang perlu dilakukan pengurasan rutin, sekalipun airnya belum keruh.

Menurut Kusmawati, tim kewaspadaan penyakit DBD sudah dibentuk dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga tingkat desa. Namun, tim ini tidak berpengaruh maksimal jika tanpa kesadaran masyarakat sendiri. Misalnya, menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal, terutama dari pengecekan genangan air.

”Tidak hanya fokus bak mandi, sisa minuman pada botol dan kaleng juga harus diperhatikan. Karena tidak harus tempat besar, yang penting ada genangan air, nyamuk ini bisa berkembang biak,” jelasnya. (jun)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia