alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Sumenep
icon featured
Sumenep

Sembilan Pekerja Positif Covid-19, Gugus Tugas Tutup PT Tanjung Odi

168 Karyawan Reaktif

24 Juni 2020, 17: 29: 10 WIB | editor : Abdul Basri

TEGAS: Bupati Sumenep A. Busyro Karim memberikan keterangan kepada awak media terkait penutupan sementara PT Tanjung Odi kemarin.

TEGAS: Bupati Sumenep A. Busyro Karim memberikan keterangan kepada awak media terkait penutupan sementara PT Tanjung Odi kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – PT Tanjung Odi di Desa Patean, Kecamatan Batuan, menjadi klaster terbanyak sebaran Covid-19 di Sumenep. Karena itu, Bupati A. Busyro Karim menutup aktivitas produksi rokok tersebut kemarin (23/6).

Busyro menyampaikan, penutupan sementara selama 14 hari PT Tanjung Odi berdasar hasil rapat bersama forkopimda. Penutupan itu disertai surat yang ditandatanganinya dengan nomor 443.42/1020/435.031/2020 tertanggal 22 Juni 2020. Dalam surat itu disebutkan bahwa PT Tanjung Odi merupakan klaster terbanyak persebaran Covid-19.

Keputusan itu atas dasar sejumlah pertimbangan. Di antaranya, untuk memutus mata rantai persebaran korona. Selain itu, agar lingkungan perusahaan disterilkan sebelum kembali aktif mempekerjakan karyawan.

”Untuk memastikan lingkungan perusahaan bersih dari virus. Sehingga ketika karyawan kembali masuk sudah menjamin keamanan dari segi kesehatan,” ungkapnya.

Dia menuturkan, sebelumnya terdapat 168 karyawan reaktif setelah menjalani rapid test. Namun, baru 20 orang yang dites swab. Sembilan karyawan di antaranya positif Covid-19. Tes swab dilakukan tim Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Sumenep karena perusahaan tidak tanggap merespons hasil tes cepat.

”Dilakukan secara acak. Ini baru 20 karyawan. Sedangkan 148 karyawan yang reaktif lainnya belum diswab,” ujar bupati dua periode itu.

Mantan ketua DPRD Sumenep tersebut sudah meminta perusahaan menguji swab 148 karyawan itu. Sebab, pemeriksaan kepada karyawan menjadi tanggung jawab perusahaan. Namun, tidak ada tindak lanjut dari PT Tanjung Odi. Karena itu, pemkab memilih melakukan swab secara acak kepada 20 karyawan.

Jika dari klaster PT Tanjung Odi menyebar pada keluarga atau tetangga karyawan, itu menjadi tanggung jawab pemkab. Pihaknya sudah menelusuri orang-orang yang kontak dengan pasien dan langsung di-rapid test.

”Kami memberikan waktu agar bisa langsung dilakukan (tes swab). Tapi, pihak manajemen tidak melakukan itu,” ucap Buya.

Selama menunggu pertemuan bupati dengan pihak perusahaan, beberapa awak media menemukan tiga bak air tempat mencuci tangan dalam keadaan kosong. Padahal, mencuci tangan menjadi salah satu langkah pencegahan Covid-19 sesuai protokol kesehatan.

Manajemen PT Tanjung Odi berkilah bak air tersebut dipersiapkan untuk pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) hari ini (24/6). Pemeriksaan itu akan dilakukan bagi 148 karyawan reaktif.

Manajemen PT Tanjung Odi mengaku sudah mengikuti arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sehari sebelum masuk kerja setelah libur Lebaran, pihaknya melakukan pemeriksaan selama tiga hari. Sebanyak 1.900 karyawan di-rapid test. Ditemukan 168 karyawan reaktif.

Karena itu, mereka diistirahatkan di rumah masing-masing selama 14 hari. Hasil tes diserahkan kepada Gugus Tugas Covid-19 Sumenep untuk pemantauan dan tindak lanjut. Pihak perusahaan tidak mengetahui perkembangan jumlah karyawan yang diswab dengan alasan masih ditangani tim gugus tugas.

”Sisanya besok (hari ini, Red) kami akan lakukan PCR untuk mengetahui kondisi karyawan lainnya yang belum diswab,” kata penanggung jawab sementara (Pjs) Personalia dan Keuangan PT Tanjung Odi Riki Cahyo.

Riki menyebut setelah rapid test dan diketahui reaktif, 168 karyawan itu belum pernah masuk kerja. Sebab rapid test dilakukan sebelum produksi. ”Jadi, kami pastikan karyawan yang masuk dalam kondisi sehat berdasarkan hasil medical check up,” terang Riki.

Menurut dia, tes swab terhadap 20 karyawan dilakukan pemkab karena kapasitas pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Sumenep terbatas. Dengan demikian, pihaknya tidak bisa segera melakukan swab pada seluruh karyawan yang reaktif. ”Per minggu hanya 40 kali swab,” kelitnya.

Pihaknya tetap memenuhi hak-hak para buruh. Misalnya, memberikan upah atau gaji karyawan yang dirumahkan.”Kalau sudah ada instruksi seperti ini harus diikuti,” ucapnya menanggapi keputusan bupati tentang penutupan perusahaan, termasuk memberhentikan sementara proses produksi.

Lonjakan pasien Covid-19 semakin tak terbendung. Jumlah pasien melampaui jumlah ruang isolasi RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. Sejumlah pasien terpaksa dievakusi ke gedung SKD Batuan.

Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Erliyati menyampaikan, langkah antisiapsi sudah lama disiapkan. Termasuk ruang isoalasi. Tanpa mengesampingkan layanan kesehatan.

Sepuluh ruang isolasi rumah sakit pelat merah itu tidak lagi mampu menampung semua pasien. Sekalipun beberapa pasien dirawat di RSI Garam Kalianget dan di Surabaya. Karena itu, beberapa pasien kategori orang tanpa gejala (OTG) dipindahkan ke SKD Batuan.

”Koordinasinya masih dengan rumah sakit karena di sana juga tetap ditangani dokter. Yang tidak ada keluhan kami evakuasi ke sana,” jelasnya.

Koordinator Rumah Isolasi Darurat Covid-19 SKD Sumenep Abd. Madjid menyampaikan, tujuh pasien korona 9 sudah menjalani perawatan di gedung Batuan. Mereka terdiri atas enam perempuan dan seorang laki-laki. Sebanyak 17 kamar yang disiapkan untuk ruang isolasi.

Selain kamar tidur, pihaknya menyediakan area taman dan lapangan olahraga. Hal itu akan mendukung percepatan kesembuhan pasien. Sebab, aktivitas itu mampu meningkatkan imun pasien. ”Bukan pasien lama maupun pasien baru. Tapi, pasien yang dinilai tidak memiliki keluhan atau gejala hebat,” jelasnya. (jun)

(mr/luq/bad/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia