alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kemenkum HAM Bakal Jadikan Lapas Arjasa Tempat Napi Berisiko Tinggi

21 Juni 2020, 18: 40: 18 WIB | editor : Abdul Basri

TEMPAT PEMBINAAN: Pengendara melintas di depan Lapas kelas III Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, kemarin.

TEMPAT PEMBINAAN: Pengendara melintas di depan Lapas kelas III Arjasa, Pulau Kangean, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Pulau Kangean kembali menjadi perhatian. Lapas Kelas III Arjasa bakal dijadikan tempat mengurung narapidana dengan risiko tinggi. Rencana tersebut masih digodok oleh Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Timur. 

BADRI STIAWAN, Sumenep, RadarMadura.id

PLAKAT nama yang terpampang di bagian depan penjara Pulau Kangean berubah menjadi Lapas Kelas III. Sebelumnya, tempat mengurung para narapidana (napi) itu masih menjadi cabang Rumah Tahanan Negara (Rutan) Sumenep di Arjasa. Status tersebut bertahan hingga 2019.

Terakhir, ketika masih cabang rutan tempat tersebut memiliki catatan pengamanan buruk. Seorang napi atas nama Asmuni ditangkap petugas kepolisian Polsek Arjasa. Terpidana narkoba itu berkeliaran saat masih menjalani masa tahanan, tanpa pengawalan maupun pengamanan tertentu.

Pria yang divonis 9 tahun penjara itu diketahui berada di Pelabuhan Batu Guluk, Pulau Kangean, Rabu, 24 Juli 2019. Saat ditangkap, Asmuni mengaku tengah menjemput istri dan anaknya. Kejadian itu menjadi perhatian di lingkungan Kemenkum HAM serta masyarakat umum. Berdasarkan keterangan warga sekitar, keluar masuk napi sudah biasa.

Tempat pembinaan para napi itu direncanakan akan dijadikan lapas high risk. Rencana itu disampaikan Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jatim Krismono saat menghadiri serah terima jabatan kepala Rutan Kelas II-B Sumenep Kamis (18/6). Rencana itu masih dalam proses pengusulan ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM).

Lapas di Pulau Kangean dianggap strategis. Dari pusat Kota Sumenep membutuhkan waktu sekitar 10 jam perjalanan laut. Dengan jarak sekitar 100 kilometer dari ujung timur Pulau Madura. Lapas Kelas III Arjasa bisa menjadi tempat pembinaan dengan kategori super maximum security (SMS).

”Di Jawa Timur membutuhkan lapas dengan pengamanan superketat. Seperti Lapas Nusakambangan,” ungkapnya.

Lapas dengan tingkat pengamanan khusus biasa digunakan untuk menjerujibesikan para napi berisiko tinggi atau high risk. Bisa dibilang, para warga binaannya merupakan terpidana kejahatan luar biasa, seperti teroris hingga bandar narkoba.

Krismono menyebut, lapas high risk merupakan tempat dengan sistem pengamanan ekstra ketat dibandingkan lapas biasa. Satu sel penjara hanya boleh dihuni satu napi. ”Pembangunan lapas seperti ini memang perlu rencana yang betul-betul matang. Termasuk, menyiapkan berbagai fasilitas agar bisa memenuhi syarat menjadi lapas high risk,” ujar Krismono kepada awak media.

Rencana peningkatan status Lapas Kelas III Arjasa itu mendapat respons baik dari masyarakat. Utamanya soal peningkatan pengamanan yang lebih ketat. Sebab, mengacu pada pengalaman sebelumnya, napi penjara tersebut kerap bebas keluar tanpa pengamanan.

”Masyarakat jadi resah. Pelaku kejahatan kok dibiarkan berkeliaran begitu saja. Percuma kalau begitu, penjara tidak bisa memberikan efek jera,” ujar A. Samsuri, 33, warga Kecamatan Arjasa kemarin (20/6).

Dia berharap rencana itu juga bisa dikoordinasikan terlebih dahulu dengan tokoh masyarakat. Sebab, jika Pulau Kangean dijadikan tempat mengurung napi dengan kejahatan tinggi, dikhawatirkan akan ada dampak tertentu, baik sosial maupun segi keamanan.

”Jadi, masyarakat juga bisa mengetahui lebih jelas soal rencana ini,” ucapnya. Pada saat Komisaris Jenderal Budi Waseso menjabat kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) juga pernah mewacanakan untuk mendirikan penjara khusus di Pulau Kangean.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia