alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Apa Kabar, Petani Tembakau?

oleh: HAZMI BASYIR*

20 Juni 2020, 17: 39: 18 WIB | editor : Abdul Basri

Apa Kabar, Petani Tembakau?

Share this      

ORANG Indonesia menyebutnya tembakau, serapan dari bahasa Spanyol, tabaco. Bahasa Latinnya adalah nicotiana tabacum (Wikipedia). Menurut informasi paling umum, tanaman tembakau berasal dari Benua Amerika, lalu dibawa orang Eropa ke segala penjuru dunia. Ke Indonesia, ia dibawa oleh orang Portugis pada masa kolonial Belanda. Saat ini di Indonesia terdapat banyak varietas tembakau sesuai dengan daerah tempat tumbuhnya. Ada daerah yang menghasilkan tembakau yang cocok dibuat rokok biasa. Ada yang pas untuk bahan cerutu. Salah satu varietas yang terkenal adalah tembakau Madura, khususnya yang ditanam di daerah pegunungan. Sebab, jenis ini terbukti menghasilkan daun tembakau berkualitas tinggi dan cocok dengan standar pabrikan besar sekelas Gudang Garam dan Sampoerna. Tembakau Indonesia juga memiliki pangsa pasar di luar negeri sehingga diekspor ke negara-negara yang memiliki pabrik pembuat rokok atau cerutu.

Beberapa tahun silam pasar tembakau, sebagai bahan baku utama rokok, pernah mengalami puncak kejayaannya. Sampai-sampai ada yang menyebutnya sebagai daun emas. Saat itu harganya masih kompetitif dan memberikan keuntungan besar bagi petani. Hasil panen melimpah karena musim penghujan dan kemarau masih stabil, berjalan sesuai siklus waktunya sehingga saat musim kemarau –sebagai waktu yang tepat menanam tembakau– ketersediaan air terjamin dan tembakau bisa tumbuh normal. Masa jaya itu kebetulan bersamaan dengan berkembang pesatnya industri rokok di seluruh dunia dan belum berhadapan dengan isu kesehatan sehingga belum ada aturan yang membatasi ruang geraknya. Karena komoditas itu menjangkau pasar global dan konsumennya terdiri atas berbagai lapisan usia, ia menjadi sebuah industri besar yang magnet bagi industri lainnya. Di antara buktinya, pernah menjadi sponsor kegiatan olahraga balap prestisius formula 1 dan konser-konser musik, baik level nasional maupun internasional.

Namun, lambat laun masa jaya itu mulai meredup dan kesejahteraan petani tembakau mendapat dampak terbesarnya. Sebagai efek pemanasan global, anomali cuaca dan musim menjadi fenomena lumrah. Ada saatnya musim penghujan berlangsung setahun penuh sehingga tak ada waktu ideal untuk menanam tembakau. Di saat lain, justru terjadi kemarau panjang yang membuat petani kesulitan air untuk menyiram tembakaunya. Ini terjadi berulang kali, bukan hanya sekali dua kali. Juga, permainan harga mulai menekan petani dan menempatkannya pada posisi yang tidak memiliki daya tawar tinggi. Adapun terkait ruang gerak industri rokok yang kini mengalami pembatasan, orang tak lagi boleh merokok di ruang publik, rokok tak boleh lagi menjadi sponsor kegiatan olahraga atau kegiatan lain yang strategis dari segi pemasaran. Bahkan, iklan rokok pun sudah tak lagi leluasa muncul di media massa. Semua itu sebenarnya tak berpengaruh signifikan terhadap pasar rokok yang tetap tumbuh dan penjualannya terus meningkat. Artinya, pasar tembakau sebenarnya tetaplah prospektif. Yang jadi pokok masalah adalah rendahnya harga tembakau, bukan mengecilnya pangsa pasar rokok.

Di mata pemerintah, industri rokok seperti buah simalakama. Di satu sisi, pemerintah membatasi ruang geraknya karena terikat isu kesehatan global. Tapi, di lain sisi pemerintah mendapat berkah serapan tenaga kerja yang tinggi dan menikmati pendapatan menggunung dari cukai yang dikenakan pada tiap batang rokok yang dijual. Bahkan, ada kecenderungan untuk terus menaikkan tarif cukainya. Nah, setiap terjadi kenaikan tarif cukai pasti berimbas pada kenaikan harga jual rokok. Dan ketika berbicara tentang kenaikan harga jualnya, biasanya orang akan mengajukan komparasi dengan situasi yang dihadapi petani berupa tetap rendahnya harga jual tembakau, bahkan cenderung stagnan tidak paralel dengan laju naiknya harga jual rokok. Ironisnya, rendahnya harga jual tembakau tak bisa dengan mudah dikerek naik karena harga tidak ditentukan petani sendiri sebagai pemilik komoditas, tetapi oleh sebuah sistem yang konon sulit ditembus, melibatkan banyak mata rantai. Ketika masalah ini dibawa ke pemerintah (daerah), biasanya alasan klise usang yang disampaikan bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan membuat regulasi pengaturan harga karena tembakau bukan termasuk sembilan bahan pokok. Padahal, urusan harga bukan tak mungkin untuk diintervensi ulang dalam suatu grand design bisnis tembakau yang lebih komprehensif, yang inisiatif pemerintah dalam hal ini bisa sangat strategis sesuai dengan otoritasnya.

Salah satu harapan dan kesempatan untuk memperjuangkan kesejahteraan petani tembakau adalah saat pilkada. Sebab, para calon pasti berlomba-lomba meraup simpati melalui kampanye visi dan misinya dan isu harga tembakau untuk daerah tertentu, misalnya di Madura, termasuk isu yang ’seksi’ untuk menaikkan elektabilitas. Apalagi dari pengalaman pemilu yang terlaksana, kadang terbukti ada kebijakan baru dari kepala daerah terpilih yang seolah memberikan angin segar kepada petani, meskipun ternyata belum cukup karena hanya menyentuh bagian kecil dari setumpuk masalah. Dan pada akhirnya, plot ceritanya tetaplah tak banyak berubah. Para petani kembali meratapi buah keringatnya yang bahkan tak cukup membayar utang yang dibuat modal menanam tembakaunya.

Saat ini adalah bulan dimulainya masa tanam tembakau. Ada petani yang kukuh menanam. Ada juga yang sudah menyerah dengan narasi pesimistis mengkhawatirkan instabilitas cuaca dan harga. Saat ini pula sudah ditetapkan ulang jadwal pilkada serentak yang sempat tertunda akibat pandemi. Bisa diyakini isu tembakau akan kembali menjadi salah satu topik kampanye para calon beberapa bulan ke depan. Alangkah layak dicermati dan ditunggu pembuktiannya jika nanti ada calon yang mengangkat isu ini sebagai target untuk diimplementasikan menjadi sebuah program dengan strategi yang logis dan dijadikan taruhan kepemimpinannya jika kelak terpilih. Petani tembakau sudah terlalu lama menunggu ”ratu adil” yang benar-benar mampu menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Sudah saatnya bulan Juni sebagai awal musim tanam dijadikan bulan optimisme, bulan mimpi indah untuk kelak membuat nyata daun hijau itu kembali mendapat julukan daun emas. 

*)Ketua Kopontren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia