alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Madura+Investasi=Pembangunan

oleh: ISKANDAR DZULKARNAIN*

20 Juni 2020, 17: 26: 26 WIB | editor : Abdul Basri

Madura+Investasi=Pembangunan

Share this      

PEMBANGUNAN di Madura hanya bisa dilakukan melalui investasi dari para investor? Hal inilah yang tergambar dalam Halalbihalal Keluarga Madura Lintas Provinsi Lintas Negara yang diselenggarakan oleh Yayasan Gasisma Cendekia Madura pada Sabtu (13/6). Investasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus dijadikan sebagai sumber utama pembangunan Madura. Semua bupati di Madura bersepakat dengan keniscayaan ini, bahkan semua pembicara dalam halalbihalal tersebut bersepakat dan mendorong untuk meningkatkan investasi di Madura. Benarkah Madura butuh investasi?

Madura Menguasai Dunia  

Madura sebagai daerah maritim dengan 126 pulau di dalamnya memiliki potensi luar biasa untuk dijadikan sebagai sumber pengembangan kemajuan Madura, belum lagi berbicara ragam potensi sumber daya alam di dalamnya. Madura sebagai daerah pesisir dengan curah hujan yang sangat terbatas tidak salah jika kemudian masyarakat Madura menciptakan sistem pertanian ala tegalan untuk bercocok tanam. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari cara resiliensi masyarakat Madura dalam pemenuhan sumber pangan hidupnya. Dengan begitu, pola sistem pertanian tegalan menjelma menjadi sistem sosial kultural dan religiusitas masyarakat Madura (Kuntowijoyo, 2003).

Keterbatasan sistem tegalan untuk dijadikan sebagai potensi perekonomian bagi masyarakat Madura, memaksa mereka untuk berpikir dan menciptakan peluang perekonomian dengan segala keterbatasan dan potensi sumber daya alam yang dimilikinya. Di sinilah ide untuk mengembangkan ’garam’ sebagai sumber penghidupan perekonomian muncul. Garam menjelma sebagai sumber penghidupan yang sangat menjanjikan bagi masyarakat Madura. Garam Madura dengan ragam potensinya yang begitu sangat prospektif telah memaksa VOC maupun pemerintahan kolonialisme Belanda untuk menguasai Madura.  

Begitu sangat berharganya garam Madura di mata kolonialisme Belanda memaksa mereka untuk membuat perjanjian dengan Panembahan Notokusumo untuk melakukan monopoli produksi dan penjualan garam (Archief Ministerie van Kolonien, Verbal 15-12-1854, No. 499, National Archief Den Haag Belanda). Garam Madura telah menguasai seluruh pasar Nusantara bahkan eksport (Jonge, 2012; Rachman, 2011). Dengan dalih untuk kemakmuran masyarakat pegaraman Madura, Belanda hadir dengan program Reorganisasi Total 1936–1937 (Jonge, 2012).

Pembangunan garam yang dilakukan oleh Kolonialisme Belanda ini menjadi titik awal ’kesenjakalaan masyarakat pegaraman’ yang terpuruk dalam belenggu kemiskinan. Kemandirian dan kreativitasan yang terbangun oleh karakter sosial budaya dan religiusitas masyarakat Madura (masyarakat pegaraman) telah dirampas dan dibasmi oleh ekstraksi kapitalisme (investasi).

Selain garam, kopra (kelapa) juga pernah menguasai eksport dunia, sebagaimana yang tergambarkan dalam catatan Rafles dalam The History of Java (1817). Kini, lahan tegalan dengan kelapanya telah banyak beralih fungsi menjadi tambak-tambak udang yang dimiliki oleh korporat-korporat atau orang luar Madura.

Karakter Madura Yang Hilang 

Investasi dengan dalih pembangunan telah banyak melakukan pengalihfungsian lahan pesisir dan tegalan Madura. Dengan semakin menghilangnya lahan-lahan yang dirampas oleh ekstraksi kapital memaksa masyarakat Madura untuk beradaptasi dan merubah beragam karakter sosial budaya dan religiusitasnya. Karakter-karakter dengan ragam etos kerja, kebersamaan, saling bantu, dan menolak diri maupun keluarganya dikategorikan miskin telah semakin menipis kalau tidak mau dibilang musnah. Sikap individualis, menjual lahan warisan untuk kepentingan diri demi membeli mobil, enggan bekerja yang sulit dan berat, misal sebagai petani, nelayan, atau bekerja di lahan garam, maupun jargon abantal omba’ asapo’ angen hanya menjadi catatan historis dalam beragam deskripsi teoritik mengenai Madura di bangku-bangku akademik. Manusia Madura yang digambarkan oleh Mien A Rifa’i (2007) hanya akan menjadi penghias pajangan di perpustakaan sebagai gambaran deskriptif masa lalu Madura.

Harusnya pemerintah sadar bahwa untuk membangun Madura bukan hanya slogan ’Islamis, Indonesianis, Maduranis, dan Manusiawi’ sebagaimana yang disampaikan Prof Mahfud MD, yang dilumuri oleh ektraksi kapitalis melalui investasi. Namun, masyarakat Madura telah terbiasa terbangun untuk membangun dirinya melalui kreativitasan menggali potensi lokal yang dimilikinya dengan tidak menghilangkan karakteristik tegalan dan pesisirnya. Masyarakat Madura memiliki kemandirian dan resilisensi untuk keluar dari ragam keterbatasan alam dan dirinya, bukan dengan bantuan, subsidi, maupun pengalihfungsian lahan-lahan pertanian dan pesisirnya.  Tegal dan pesisir telah menjelma menjadi nadi kehidupan bagi masyarakat Madura, sehingga seharusnya rumus pembangunan di Madura adalah: Madura+Potensi Lokal (Tegal/Pesisir)=Pembangunan. 

*)Dosen Sosiologi UTM dan mahasiswa doktoral Sosiologi Pedesaan IPB

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia