alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Bangkalan
icon featured
Bangkalan

Ruang Isolasi RSUD Tak Mampu Menampung

Pasien OTG Dirawat di Balai Diklat

04 Juni 2020, 05: 40: 59 WIB | editor : Abdul Basri

MENGECEK: Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron didampingi Kapolres AKBP Rama Samtama Putra, Kadinkes Sudiyo, dan Ketua DPRD Muhammad Fahad tinjau gedung balai diklat kemarin.

MENGECEK: Bupati Bangkalan R. Abdul Latif Amin Imron didampingi Kapolres AKBP Rama Samtama Putra, Kadinkes Sudiyo, dan Ketua DPRD Muhammad Fahad tinjau gedung balai diklat kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Pasien dalam pengawasan (PDP) dan positif Covid-19 di Bangkalan terus bertambah. Kini, RSUD Syamrabu tak mampu lagi menampung orang yang terpapar virus korona. Semua ruang isolasi terpakai.

Pemkab Bangkalan memilih balai diklat BKPSDA untuk dijadikan tempat merawat pasien Covid-19 yang berstatus orang tanpa gejala (OTG). Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron sudah meninjau langsung ke RSUD Syamrabu kemarin (3/6). Dia juga mendatangi gedung balai diklat di Jalan Soekarno-Hatta.

Bupati Abdul Latif Amin Imron membenarkan, meningkatnya jumlah PDP dan pasien positif Covid-19 membuat rumah sakit kekurangan ruang isolasi. Dari 56 ruangan yang tersedia, semuanya sudah terisi.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, terpaksa gedung balai diklat BKPSDA difungsikan untuk menampung pasien positif Covid-19 yang berstatus OTG. Semua sudah dipersiapkan, termasuk fasilitas kesehatan dan tenaga medis.

”Mulai besok (hari ini, Red) sudah bisa digunakan. Tetapi, khusus pasien positif OTG,” terangnya.

Diperkirakan ada tujuh pasien positif Covid-19 yang akan pindah ke gedung balai diklat hari ini. Secara medis, sebenarnya mereka sudah sembuh. Tetapi, hanya menunggu hasil swab evaluasi yang belum turun.

”Biar tidak tambah overload, jalan satu-satunya balai diklat difungsikan untuk pasien yang berstatus OTG,” jelasnya.

Wadir RSUD Syamrabu Bangkalan dr Farhat Suryaningrat menyebutkan, semua ruang isolasi itu berkisar 12 kamar. Namun, karena jumlah pasien PDP dan pasien positif kian tak terbendung, akhirnya ruang inap dan asrama mahasiswa dijadikan ruang isolasi.

”Tapi, sekarang semua sudah penuh. Tidak bisa lagi buka kamar untuk ruang isolasi,” tegasnya.

Pilihan terakhir, pasien yang sudah sembuh itu dipindah ke Gedung Balai Diklat. Mereka sudah tidak perlu infus dan penanganan seperti awal masuk rumah sakit.

”Karena sejatinya pasien OTG itu sudah sembuh. Hanya, untuk dinyatakan sembuh dari Covid-19 perlu menunggu hasil swab evaluasi,” tandasnya.

(mr/daf/onk/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia