alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Kiai, Sosmed, dan Belajar dari Covid-19

Oleh: SAMSUL AR.*

23 Mei 2020, 19: 05: 13 WIB | editor : Abdul Basri

Kiai, Sosmed, dan Belajar dari Covid-19

Share this      

KIAI merupakan sosok panutan masyarakat luas. Ia merupakan sosok pengganti para nabi, penerus perjuangan ajaran agama islam. Dhafier (2010:93) mendefinisikan kiai adalah pangkat bagi seorang yang memiliki pengetahuan keagamaan yang tinggi, menjadi pengasuh sebuah pesantren, dan mengajari kitab-kitab klasik (kitab kuning).

Sosok kiai biasanya hidup dalam kesederhanaan. Tidak tergiur dengan urusan dunia walaupun padanya kenyataannya mereka berasal dari orang-orang elit, keturunan para raja-raja Jawa, memiliki banyak usaha, pertanian, dan lain sebagainya (Dhafier, 2010:94). Hidup dalam kesederhaan ini dilakukan kiai untuk mengajari dan mendidik santri-santrinya agar lebih mementingkan kehidupan akhirat dari pada kehidupan dunia.

Kiai merupakan elemen penting bagi keberlangsungan sebuah pesantren. Sosok kiai menjadi barometer utama besar tidaknya sebuah pesantren. Semakin populer seorang kiai, maka semakin banyak santrinya dan semakin besar pesantrennya.   

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat sosok kiai cepat beradaptasi dengan keadaan zaman, walaupun tetap hidup dalam kesederhanaan. Penggunaan gaget yang lengkapi aplikasi media sosial tidak lepas dari kehidupan kiai karena kebutuhan untuk mengikuti perkembangan informasi. Sejumlah kiai sudah memiliki akun resmi media sosial seperti Facebook, Youtube, Instagram dan lain sebagainya dengan jutaan pengikut. Media sosial menjadi kebutuhan dasar sebagai alat komunikasi dan penyampaian pesan-pesan agamis kepada jamaahnya.

Adanya media sosial yang berkembang pesat membuat para kiai menjadi bagian pengguna manfaat. Sejumlah kiai sudah tergabung dengan group-group WhatsApp hanya untuk berbagi informasi dan mendapatkan informasi, atau berdiskusi dan bermusyawarah untuk menentukan sebuah kebijakan.

Di masa pandemi virus korona seperti sekarang ini telah merubah pradigma kiai terhadap kegiatan mengaji dan memberikan bimbingan kepada masyarakat luas. Para kiai berinovasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini dapat dilihat pada sebelum pandemi melanda bangsa Indonesia, kegiatan mengaji kitab kuning hanya dilaksanakan di dalam pondok pesantren. Santri mengelilingi kiai untuk mendengarkan dan mencatat sesuai penjelasan kiai. Karena itu, jika terdapat santri atau alumni ingin mengaji kitab kuning kepada kiai, maka harus datang ke pondok.

Hal berbeda terjadi pada saat pandemi Covid-19. Kegiatan mengaji kitab kuning tatap muka (face to face) beralih menjadi mengaji online. Kajian kitab kuning online ini tidak hanya dinikmati oleh santri atau alumni, tetapi juga siapapun yang ingin mendalami ilmu agama dengan sumber-sumber otoritatif, maka cukup mengikuti kajian yang disiarkan langsung oleh kiai. Santri, alumni dan masyarakat sudah dapat belajar agama secara langsung pada kiai dengan sumber-sumber rujukan yang mu’tabarah dengan bermodal paketan data dan Android.

Kajian kitab kuning secara online dimaksudkan agar masyarakat belajar agama pada ahlinya dan sumber terpercaya. Belajar ilmu agama pada buku-buku terjamahan yang kualiatas terjamahannya masih dipertanyakan (unqualified) dapat menyebabkan salah memahami ajaran agama. Akibatnya, klaim kebernaran (truth claim) sering kali tidak dapat dielakkan. Karena itu, belajar ilmu agama pada sumber yang kredibel dan rujukan yang mu’tabaroh lebih baik dari pada belajar agama melalui buku terjamahan yang kredibitasnya masih dipertanyakan.  

Sudah menjadi mafhum bahwa sebelum era millinal, sulit kita temukan kiai menggunakan sosial media untuk kepentingan kajian kitab kuning. Tetapi di era sekarang, sosial media sudah menjadi kebutuhan dasar bagi umat manusia termasuk para kiai sebagai media untuk berdakwah.

Tentu saja kajian kitab kuning yang disiarkan secara langsung (live streaming) menggunakan sistem bendongan. Sebuah sistem pembelajaran khas pesantren yang tetap bertahan sampai saat ini. Kiai menerjamahkan kitab-kitab kuning. Kemudian, santri-santrinya memberikan syakal dan membuat catatan sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh kiai (Ulum, 2019:666).

Tren Ngaji Kitab Kuning Online

Akhir-akhir ini, ngaji kitab kuning online menjadi tren dikalangan para kiai. Mereka tidak sungkan untuk menyiarkan secara live kegiatan kajian kitab kuning seperti Tafsir Jalalin, kajian Hadist Arbain Nawawi, dan kitab-kitab lainnya. Pengguna sosial media cukup di rumah, tanpa harus datang ke pesantren untuk mengaji secara langsung pada kiai.

Kajian kitab kuning melalui sosial media secara langsung ini merupakan tren positif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terlebih dan untuk belajar dan mendalami ilmu agama. Karena kitab kuning menjadi rujukan utama dalam penetapan hukum Islam (istibatul hukm)

Tentu ngaji kitab kuning tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Untuk membaca kitab kuning, seorang harus mengatehui nahwu dan sharaf sebagai dasar, sehingga pembaca dapat mengetahui maknaa yang terkandung.

Karena itu, Covid-19 menjadi ibroh bagi kiai dan pesantren agar kajian kitab kuning online dipertahankan dan dikembangkan agar dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat umum untuk mempelajari ilmu-ilmu agama. 

*)Dosen STIBA DUBA Pamekasan

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia