alexametrics
Rabu, 15 Jul 2020
radarmadura
Home > Kedai
icon featured
Kedai

New Normal: Politik Tubuh

Oleh: Mohammad Tojjib*

23 Mei 2020, 16: 37: 00 WIB | editor : Abdul Basri

New Normal: Politik Tubuh

Share this      

DUNIA berubah dimulai awal 2020. Perubahan itu begitu cepat. Hingga akhir Mei ini-selama lima bulan. Dampak perubahan masuk ke semua lini kehidupan masyarakat dunia. Baik itu negara miskin hingga yang superpower. Perubahan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan. Ya, akibat virus korona –yang disebut Covid-19– kehidupan sosial, budaya, keagamaan, hingga ekonomi dunia tidak normal.

Sudah lima bulan masyarakat dunia berperang melawan korona. Peperangan diprediksi bakal lama. Semakin lama, bakal semakin banyak nyawa yang akan melayang. Data 21 Mei 2020, kasus Covid-19 Indonesia 20.162 kasus, sembuh 4.838 orang, dan meninggal 1.278 orang. Data dari laman Worldometers, hingga 22 Mei pagi, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi 5.188.656. Data ini akan terus menanjak karena korona belum bisa dikendalikan.

Belum ada kepastian bencana nonalam ini sampai kapan akan berakhir. Tapi yang pasti, jika bencana ini semakin lama, semakin besar dampaknya pada kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat dunia. Senjata pemungkas berupa vaksin belum ada kepastian kapan bisa ditemukan. Ketidakpastian ini membuat ketidakpastian kembalinya kehidupan normal.

Mau tidak mau, suka tidak suka, ada yang ”terpaksa” memilih beradaptasi dengan Covid-19 yang tengah jadi pendemi. Adaptasi agar bisa bertahan hidup. Agar hidup tetap berjalan. Agar masyarakat bisa segera produktif lagi. Sebab, biaya hidup diperoleh dengan bekerja dan berproduksi. Bantuan sosial negara pasti terbatas bagi warganya agar bisa bertahan hidup.

Lantas, frasa ”new normal” semakin kencang terdengar sebagai model hidup normal yang baru. Beraktivitas hidup ”seakan-akan” normal di tengah pandemi korona. Pemerintah kita pun merancang penerapan normal baru (new normal). Negara-negara lain yang mulai reda dari korona telah melakukan itu.

Apa itu normal baru? Yaitu, perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal –seperti sebelumnya, namun ditambah menerapkan protokol kesehatan. Maksudnya, untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19. Seperti menjaga jarak, sering cuci tangan, pakai masker, dan hidup bersih.

Perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan suatu keniscayaan dan gejala yang normal. New normal merupakan bentuk perubahan sosial: perubahan dalam pola perilaku dan interaksi sosial. Perubahan sosial bertujuan agar ada keseimbangan dalam bentuk adaptasi. Dampak perubahan yang terjadi bisa terbatas atau luas, bisa lambat atau cepat. Normal baru merupakan perubahan yang sangat cepat dan luas, beriringan dengan pandemi Covid-19. ”Masa berlaku” normal baru tidak pasti, mungkin akan berakhir hingga vaksin yang tepat ditemukan. Kata ”tepat” karena virus korona termasuk yang cepat bermutasi.

Jika pun vaksin korona ditemukan, tentu butuh waktu lama untuk bisa memvaksin masyarakat dunia. Artinya, new normal akan berlangsung lama. Pola perilaku atau kebiasaan yang berlangsung lama akan menjadi budaya yang akan sulit hilang dari masyarakat. Belum tentu masyarakat langsung meninggalkan kebiasaan normal baru. Mungkin banyak orang meyakini lebih baik tetap berperilaku seperti saat new normal, karena pengalaman traumatik atau beralasan agar terhindar dari virus korona. Hidup new normal akan menjadi budaya di masa mendatang, pasca-Covid-19.

Covid-19 telah mengubah perilaku dan kebiasaan kita yang sudah lama ”mapan” itu begitu cepat. Hanya dalam hitungan bulan. Biasanya, perubahan sosial, apalagi budaya, butuh waktu lama untuk bisa diterima. Tapi beda sejak Coivd-19 datang, hidup normal seakan-akan dibalik begitu saja.

Saat pandemi Covid-19, sekolah dan kerja dari rumah. Tatap muka diganti dengan virtual. Tidak boleh keluar rumah. Tinggal di rumah, tidak boleh bertetangga, apalagi keluyuran. Beribadah juga dianjurkan di rumah saja. Tidak boleh berjamaah. Rumah menjadi pusat aktivitas manusia.

Aktivitas sosial dibatasi. Jarak fisik antarmanusia diatur. Tidak boleh berjabat tangan. Tidak boleh berkerumun. Keluar rumah harus pakai masker. Harus selalu hidup bersih. Itu semua demi mencegah penularan Covid-19 yang telah makan banyak korban meninggal di dunia.

Memang, sangat sulit mengubah budaya, apalagi perubahan itu datangnya mendadak dan dipaksakan. Protokol kesehatan yang dikeluarkan Pemerintah RI untuk mencegah penularan Covid-19, buktinya, masih banyak diabaikan. Masyarakat masih sulit untuk belajar dan bekerja dari rumah. Apalagi, diimbau tidak salat atau beribadah secara jamaah, sangat sulit diterima. Sulit untuk tidak saling berkunjung atau silaturahmi, karena masyarakat kita adalah komunal. Sulit untuk jaga jarak dengan orang lain, apalagi dengan anggota keluarga sendiri.

Masih banyak masyarakat yang mempertahankan hidup normalnya di tengah pandemi korona. Padahal, masalah korona ini bukan kasus satu orang, satu keluarga, satu RT/RW, tapi berkaitan dengan orang lain, keluarga lain, RT/RW dan lebih luas lagi. Korona adalah masalah bersama. Ketika satu orang tidak disiplin protokol kesehatan, akan berdampak kepada banyak orang. Coba tengok lagi kasus pertama korona, berawal dari kasus satu orang di Wuhan, Tiongkok. Dalam rentang hampir lima bulan sejak Januari lalu telah menginfeksi 5 juta lebih orang di dunia.

New normal, barangkali, menjadi alternatif pilihan model perubahan sosial-budaya. Meskipun masih menjadi kontroversi, karena tidak ada jaminan bisa mencegah penularan Covid-19, malah dikhawatirkan semakin banyak orang yang terpapar virus. Alasan ini masuk akal juga: karena warga negara kita kurang disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Kedisiplinan saat new normal berkorelasi dengan kekuasaan. Meminjam konsep kekuasaan Foucault: titik beratnya pada pola disiplin. Kekuasaan bukanlah struktur politis, seperti pemerintah, raja, atau kelompok sosial yang dominan. Kekuasaan, menurut Foucault, ciri-cirinya: tersebar, tidak dapat dilokalisasi, tatanan disiplin dan dihubungkan dengan jaringan, memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tetapi produktif, serta melekat pada kehendak untuk mengetahui. Foucault menyebutnya biopower: politik atas tubuh.

Kekuasaan ditujukan untuk membentuk tubuh-tubuh yang terkontrol dan patuh pada regulasi tertentu. Politik tubuh dijalankan untuk mempertahankan biopower. Pada dasarnya, menurut Foucault (1990), strategi biopower sebagai usaha untuk mendisiplinkan setiap individu. Pendisiplinan melibatkan kekuasaan (pemerintah, agama, keluarga, masyarakat), pengetahuan, dan kenikmatan (yang ditujukan dalam pembentukan tubuh yang patuh).

Sebagai bentuk strategi, kunci new normal bisa mencegah dan mengurangi orang-orang yang terinfeksi Covid-19: disiplin protokol kesehatan. Ketika tidak disiplin, maka new normal akan terus berlanjut dan akan menjadi budaya kita. Jika tidak disiplin, akan semakin kuat #indonesiaterserah, yang menyiratkan kuat ungkapan kekecewaan: korona bakal lama berlalu.

Setiap orang bisa menjadi pahlawan bagi orang sekitarnya. Setiap kepala keluarga bisa menjadi pahlawan bagi keluarganya. Siapa pun bisa menjadi pahlawan bagi sesama. Selamat Idul Fitri 1441. Hari raya sebagai ungkapan rasa syukur dan gembira telah melewati puasa di tengah pandemi Covid-19. Momentum kita kembali ke fitrah, peduli kepada sesama, dan mempererat kebersamaan menghadapi masa depan. Momentum menjadi pahlawan bagi sesama.

Mohon maaf lahir dan batin. (

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia