alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Lusiana Dewi, Pasien Positif Covid-19 Ke-6 yang Berhasil Sembuh

Tidak Merasa Sakit, Syok saat Terpapar

22 Mei 2020, 16: 14: 03 WIB | editor : Abdul Basri

SEMBUH: Lusiana Dewi, pasien Covid ke-12 di Bangkalan yang sudah diperkenankan pulang dan menjalani isolasi mandiri di rumahnya.

SEMBUH: Lusiana Dewi, pasien Covid ke-12 di Bangkalan yang sudah diperkenankan pulang dan menjalani isolasi mandiri di rumahnya. (Istimewa)

Share this      

Tak semua pasien positif Covid-19 menunjukkan gejala. Seperti yang dialami Lusiana Dewi. Dia tidak merasakan sakit dan keluhan apa pun. Namun, dia syok saat dinyatakan terpapar virus korona.

DAFIR FALAH, Bangkalan, RadarMadura.id

ALHAMDULILLAH. Satu lagi pasien positif Covid-19 di Bangkalan sembuh. Dia adalah Lusiana Dewi, pegawai Kejaksaan Negeri (Kejari) Bangkalan.

Kini, perempuan berusia 29 tahun ini sudah berada di rumahnya di Kelurahan Bancaran. Dia harus menjalani masa isolasi mandiri 14 hari ke depan.

Saat dihubungi Jawa Pos Radar Madura kemarin (21/5), dia mengaku sangat sehat. Sesekali ketawa lepas. Dia juga menceritakan pengalaman saat dinyatakan positif Covid-19 hingga bisa sembuh.

Pada 20 April lalu, di Kejari Bangkalan melakukan rapid test masal. Hasilnya, lima orang dinyatakan reaktif berdasar tes cepat tersebut. Termasuk, Lusiana Dewi. ”Saya kaget, kok bisa saya positif,” ceritanya.

Lalu, 21 April dilakukan pengambilan sampel untuk swab test. Saat itu dia belum percaya dengan hasil rapid test yang menyatakan reaktif. ”Saya kan nggak sakit. Ya sudah masuk kerja seperti biasanya. Malah ketika rapid test, saya sempat video teman-teman yang di-rapid test. Karena memang tidak menyangka,” kenangnya.

 Bahkan, saat dinyatakan positif Covid-19 pada 1 Mei, dia sangat kaget. ”Dari mana saya bisa tertular. Diingat-ingat, ya memang nggak ada, nggak tahu, kok bisa,” kata Lusiana Dewi melanjutkan ceritanya.

Padahal, teman-teman kantor tidak ada yang positif Covid-19. Termasuk, keluarga besar juga demikian. ”Serius, benar-benar nggak sakit. Itu yang saya heran,” sambungnya.

Lusiana mengaku sempat depresi saat dinyatakan terpapar virus korona. Sebab, dia merasa tidak pernah kontak langsung dengan pasien Covid-19. ”Rutinitas saya masuk kerja, terus ikut sidang. Itu-itu saja,” urainya.

Selama 20 hari menjalani perawatan di RSUD Syamrabu, dia tidak pernah mengalami gejala Covid-19. ”Saya nggak batuk, nggak flu, nggak panas. Biasa, nggak kenapa-kenapa,” terangnya.

Tetapi karena sebagai pasien Covid-19, dia tetap mengikuti anjuran dari tenaga medis. Termasuk, rutin beribadah. Yang semula jarang mengaji, pasca dinyatakan positif, tambah rajin dan itu hikmahnya.

”Tambah dekat dengan Allah. Itu hikmah yang saya ambil. Karena bisa rajin salat. Pokoknya apa-apa selalu beroda yang terbaik kepada Allah,” tuturnya.

Pengalaman semacam itu juga dirasakan pasien yang lain. Hampir tiap kali selesai salat, pasien Covid-19 menangis. ”Kalau saya, yang bikin sedih dan menangis, selain jauh dari keluarga, juga pengucilan terhadap pasien covid,” paparnya.

Karena itu, dia benar-benar memohon, siapa pun agar tidak mengucilkan pasien positif Covid-19. Sebab, pada dasarnya mereka juga tidak ingin terpapar virus korona. ”Lebih baik doakan. Itu yang dibutuhkan. Bukan dihindari dan dikucilkan,” pungkasnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia