alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Kesan Alfiatus Sholehah Usai Video Conference dengan Mendikbud Nadiem

21 Mei 2020, 18: 47: 09 WIB | editor : Abdul Basri

BERCERITA: Wartawan JPRM Jupri berbincang dengan Alfiatus Sholehah di rumahnya di Dusun Karang Dalam, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, kemarin.

BERCERITA: Wartawan JPRM Jupri berbincang dengan Alfiatus Sholehah di rumahnya di Dusun Karang Dalam, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu, kemarin. (RadarMadura.id)

Share this      

Seorang siswi kelas V SDN Pademawu Barat 1 bisa ngobrol langsung dengan Mendikbud Nadiem Makarim melalui video conference. Dia adalah Alfiatus Sholehah.

JUPRI, Pamekasan, RadarMadura.id

SDN Pademawu Barat 1 tampak sepi kemarin (20/5). Hanya terlihat tenaga pendidik yang menjalankan aktivitasnya. Kegiatan belajar mengajar (KBM) melalui daring. Siswa belajar melalui daring dari rumah masing-masing.

Sekolah ini dinakhodai Abdul Muheth. Dia berada di ruang guru saat ditemui Jawa Pos Radar Madura kemarin siang. Setelah panjang lebar ngobrol seputar pendidikan, dia lalu menceritakan salah satu siswanya yang baru saja mengharumkan nama sekolah dan Pamekasan.

Siswi yang duduk di kelas V itu bernama Alfiatus Sholehah. Dia baru saja menang dalam lomba surat untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

Muheth mengaku tidak pernah absen memantau informasi pendidikan di laman Kemendikbud setiap hari. Saat mendapati pengumuman lomba menulis surat untuk guru dan siswa untuk Mendikbud bertema ”Hikmah Hari Kemenangan di Masa Pandemi, Surat untuk Mas Menteri Nadiem Makarim” dia langsung mengumumkan di sekolahnya.

Muheth meminta guru dan siswa agar mengikuti sayembara tersebut. Pemenang nantinya akan bertemu dengan menteri muda itu. Setidaknya, terdapat sekitar 20 siswa dan guru yang berpartisipasi dalam lomba itu.

Pengiriman lomba menulis surat itu berlangsung Senin (11/5)–Minggu (17/5). Surat yang ditujukan kepada menteri yang biasa dipanggil Mas Nadiem itu boleh diketik atau lewat tulisan tangan. Pengirim diharuskan menyertakan nomor telepon yang bisa dihubungi.

Muheth tidak menyangka, satu dari tiga tulisan yang dipilih Mendikbud adalah karya siswanya. Apalagi, surat yang ditulis Alfiatus Sholehah cuma tulisan tangan. Dia juga meyakini pengirim juga mencapai ribuan. Sebab, sayembara itu secara online dan tingkat nasional. ”Yang penting bagi saya, ada siswa dan guru yang berpartisipasi,” kata Muheth.

Tidak ada intervensi atas surat yang ditulis guru dan siswanya. Semua murni hasil karya siswa dan guru. Pihaknya cuma memberikan contoh format penulisan surat. Sebab, tidak semua siswanya tahu format penulisan surat.

Kata Muheth, Mendikbud hanya memilih tiga surat terbaik yang dikirim guru dan siswa. Pemenang berkesempatan video conference dengan Mendikbud. Dari tiga surat siswa yang terpilih di antaranya, berasal dari Papua, Kalimantan Timur, dan anak didiknya sendiri.

Bincang ringan Alfiatus Sholehah melalui video conference dengan Mendikbud terjadi pada Selasa (19/5) di kediaman Alfiatus Sholehah di Dusun Karang Dalam, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu. Semua guru, kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Pamekasan datang langsung ke rumah Alfiatus Sholehah.

Namun, proses video conference harus dilakukan oleh Alfiatus Sholehah sendiri. Guru, Kadisdik beserta jajarannya, serta para tetangga tidak boleh menyaksikan secara langsung. Mereka hanya menunggu dari luar rumahnya.

Setelah banyak mendengar cerita dari Muheth, koran ini datang ke kediaman Alfiatus Sholehah. Setiba dirumahnya, siswi yang akrab dipanggil Fia itu tidak ada. Dia bermain di rumah tetangganya dengan teman sebayanya. ”Ibu yang memanggil saya untuk pulang barusan,” ucap Fia kepada Jawa Pos Radar Madura.

Tentang prestasinya, Fia juga tidak menyangka suratnya menarik perhatian Mendikbud. Dirinya hanya mengirimkan surat setelah mendapat informasi dari gurunya bernama Yayuk bahwa ada lomba menulis surat untuk menteri dan surat terbaik berkesempatan berbincang langsung dengan Nadiem Makarim.

Isi surat yang Fia kirimkan yaitu tentang pembelajaran daring yang harus dilakukan di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya, keterbatasan ekonomi menjadi penghambat dirinya dalam pembelajaran daring. Selama ini Fia harus meminjam HP milik kakaknya agar tidak ketinggalan materi pelajaran yang diberikan gurunya.

Siswi yang bercita-cita menjadi dokter itu tidak memiliki smartphone yang dapat mendukung pembelajaran daring. Meminta HP Android kepada orang tuanya juga bukan hal yang mudah. Sebab, bapak dan ibunya hanya buruh tani. Dalam surat yang dikirim, Fia menyampaikan ibunya harus meminjam uang untuk bisa membeli paket internet.

Dalam video conference dengan Mendikbud, dirinya diminta untuk menyampaikan kembali isi surat yang sudah dikirimkan. Hal itu sebagai bukti bahwa yang menulis dirinya sendiri, bukan orang lain.

”Pesan Pak Menteri untuk terus belajar. Belajar sulit karena tidak ada pendamping,” ceritanya.

ave

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia