alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Momentum Kebangkitan Sastra Madura

03 Mei 2020, 18: 35: 35 WIB | editor : Abdul Basri

BERSEJARAH: Sastrawan Madura Mat Toyu (tiga dari kanan) foto bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi (kiri) dan beberapa penerima Hadiah Sastra Rancage lainnya di Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 2020.

BERSEJARAH: Sastrawan Madura Mat Toyu (tiga dari kanan) foto bersama Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage Ajip Rosidi (kiri) dan beberapa penerima Hadiah Sastra Rancage lainnya di Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, 31 Januari 2020. (RadarMadura.id)

Share this      

BICARA sastra Madura otomatis bicara orang Madura. Selama ini generasi muda selalu menjadi kambing hitam dalam setiap perbincangan bahasa dan sastra Madura. Generasi muda dituding malu berbahasa daerah karena gengsi dan seabrek sebutan buruk padanya.

Pada 31 Januari 2020, pemuda Madura mencatat sejarah. Buku kumpulan cerpen berbahasa Madura Kerrong ka Omba’ (2019) mendapat penghargaan dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Penulisnya, Mat Toyu, masih muda. Lahir di Longos, Gapura, Sumenep, 1990. Ini baru pertama sastra Madura menetas di Rancage.

Penghargaan ini sekaligus menepis tudingan miring terhadap pemuda Madura. Penghargaan ini diperoleh karena beberapa tahun terakhir lahir buku sastra berbahasa Madura. Mayoritas ditulis oleh pemuda. Pada 2008, terbit buku puisi Madura Sagara Aeng Mata Ojan karya Lukman Hakim AG. Buku puisi Madura Cengkal Burung (2017) kembali dia terbitkan pada 2017 dan cerpen Madura Oreng-Oreng Palang (2018).

Zainal A. Hanafi juga menerbitkan buku cerpen Madura Èsarèpo Bèncong (2017). Sementara buku cerpen Supriyadi Afandi berjudul Èghirrep Sètan (2017). Kerrong ka Omba’ merupakan buku cerpen Madura Mat Toyu setelah meluncurkan Embi’ Celleng Ji Monentar (2016). Dua puluh tiga dari 26 cerpen dalam dua buku itu pernah terbit di majalah dan koran.

Embi’ Celleng Ji Monentar memuat sembilan cerpen. Hanya cerita berjudul Kampanye yang tidak pernah dimuat di halaman Sastra Budaya Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Sebelas dari 17 cerita dalam Kerrong ka Omba’ juga pernah terbit di JPRM. Empat cerpen pernah dimuat Majalah Jokotole. Hanya cerpen Ekamaen dan Seppet Atompang Mardha yang belum pernah terbit di media (halaman 122).

Toyu hanya satu dari sekian pemuda Madura yang menulis sastra Madura. Data ini bisa dilihat dari karya-karya yang muncul di halaman Sastra Budaya JPRM tiap Minggu. Baik penulis puisi maupun cerpen Madura. Penyediaan ruang khusus sastra Madura ini secara rutin lahir sejak 27 Juli 2015. Memuat cerpen dan puisi berbahasa Madura. Sesekali ada resensi dan esai, juga berbahasa Madura.

Dari halaman ini kemudian lahir buku antologi cerpen Tora; Satengkes Carpan Madura (2017). Buku ini merupakan himpunan 63 cerpen Madura yang pernah dimuat sejak Juli 2015 hingga Desember 2016. Puluhan cerpen itu karya 21 penulis. Mayoritas pemuda dan dari kalangan santri. Bahkan ada yang lahir 2000.

Sebagaimana Embi’ Celleng Ji Monentar, dalam Kerrong ka Omba’ Toyu menjadikan nuansa kampung sebagai latar cerita. Kehidupan masyarakat pedesaan dengan segala persoalannya diramu dengan apik sehingga enak dibaca. Celetukan joke khas orang kampung jadi bumbu. Cerita yang disajikan tidak sekadar menghibur, tetapi kerap diselingi kritik pedas.

Misal, cerpen Ngantos Lema Ratos dibuka dengan kalimat, ”Baddiyanna garowa gi kennengnganna presiden ban ko-palakona, tre-mantrena se ngurus, nape ngoras nagara, bula ju bikan bidana (ternyata itu ya tempat presiden dan para pembantunya, para menteri yang ngurus atau nguras negara, entah aku tak tahu perbedaannya). Pelesetan menteri sebagai pengurus atau penguras negara.

Ngantos Lema Ratos menceritakan sepasang suami istri dari Sumenep yang merantau ke kota besar sebagai penjaga warung. Sementara anaknya ditinggal bersama kakek-neneknya di kampung. Masyarakat urban yang buka usaha warung di Jakarta kini sangat banyak. Rumah mereka di kampung besar. Tapi, pemiliknya ada di Jakarta. Dalam bahasa Toyu ditinggalkan kepada bilis (semut).

Perantau mengais rezeki lima ratus demi lima ratus dari setiap pembeli. Suatu ketika mereka mendapati seorang perempuan membeli bensin. Dia tidak bayar karena dompet tertinggal. Pasutri penjaga toko pun dibuat pusing memikirkan itu. Namun, mereka segera sadar dan ingat penggarong uang negara (hlm. 86).

”Sajan senga elang raja, ja’ oreng ngoras pessena nagara, barampa M, barampa T, mesem maso’ tipi. Katon tadha’ apa (Bagaimana jika yang hilang dalam jumlah besar, namun orang yang menguras uang negara, berapa M, berapa T tersenyum masuk TV. Seolah tidak ada apa-apa)”.

Kelahiran Kerrong ka Omba’ dan hadiah Rancage ini perlu diapresiasi. Namun, penghargaan ini sekaligus menjadi tantangan sastra(wan) Madura agar terus eksis. Tiap tahun harus ada buku sastra Madura. Kegembiraan ini tidak lantas menjadikan jemawa.

Apalagi, beberapa hari setelah pengumuman Hadiah Sastra Rancage akhir Januari lalu disusul kabar buruk. Majalah Jokotole diputuskan berhenti terbit. Alasan utama majalah Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) ini tidak terbit karena payung yang menaungi majalah di Badan Bahasa Kemendikbud sudah tidak muncul lagi akibat perubahan nomenklatur. Selain majalah Jokotole (bahasa Madura), Using, Titis Basa (bahasa Jawa krama), Panji, dan Ajisaka (aksara Jawa) juga kini harus berhenti terbit.

Langkah pemerintah pusat itu mendapat reaksi keras dari para pemerhati bahasa daerah. Sebab, satu-satunya majalah yang masih terbit adalah Jokotole. BBJT masih berupaya meyakinkan dan mendesak Badan Bahasa agar menyediakan kembali payung hukum terbitnya majalah berbahasa daerah serta meyakinkan dampak dan manfaat pentingnya majalah berbahasa daerah dengan dilengkapi bukti-bukti pendukung yang menginginkan majalah tersebut tetap ada.

Dulu era 1990-an eksis buletin Konkonan terbitan Tim Nabara Sumenep. Media ini juga tidak berumur panjang. Kini media yang nenampung karya berbahasa tinggal JPRM dan buletin terbitan Yayasan Pakem Maddu Pamekasan. Sastra tulis Madura akan terus berkembang karena kantong atau komunitas sastra tetap eksis. Terutama di pesantren. 

LUKMAN HAKIM AG.

Wartawan Jawa Pos Radar Madura

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia