alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarmadura
Home > Esai
icon featured
Esai

Hilangnya Para Pendoa

Oleh Matroni Musèrang*

03 Mei 2020, 18: 31: 56 WIB | editor : Abdul Basri

Hilangnya Para Pendoa

Share this      

TERPAAN kritis kemanusiaan dan keteladanan terus meroket ditandai dengan anak-anak remaja yang amoral, pembunuhan, seks bebas, minum-minuman keras, dan game online-offline. Di tengah kesibukan itu, dibutuhkan keseriusan dalam mendidik dan mendoakan siswa dan santri (anak didik) agar mereka tidak menjadi penerus bangsa yang gagap dan tanpa ahlak, ilmu, dan pengetahuan yang memadai. Untuk memperoleh ilmu tentu dibutuhkan kesungguhan yang disiplin dalam membaca dan belajar. Bagaimana mungkin anak didik akan serius ketika bangun tidur yang dibuka WA, Facebook, Instagram bahkan langsung main game.

Ketika saya jalan-jalan ke Legung melihat anak kecil kelas 1 MI/SD yang sibuk main game, belum di balai desa yang sudah disediakan wifi. Logika anak didik ketika memegang Android adalah mainan, dalam hal ini game offline dan online. Ketika Android menyediakan berbagai game, lantas kapan ada waktu untuk membaca dan belajar apalagi menulis. Bila keseharian anak didik diisi dengan kesibukan Android, maka nilai-nilai spiritual akan menipis. Karenanya masuk akal jika di pesantren para santri dilarang pegang Android.

Ketika anak didik dibiarkan secara spiritual, jelas akan berdampak pada perkembangan psikologi anak yang gersang, tanpa moral, tanpa kesadaran, dan tanpa rasa. Oleh karena itu, doa dalam hal ini menjadi penting di tengah-tengah kritis dan ketidakpedulian. Lalu siapa pendoa itu? Dalam hal ini, mari kita refleksi bersama.

Salah satu produk dari krisis kemanusiaan, ia hanya mengaji ke YouTube, Google, Alquran terjemahan dan fikih terjemahan, itu adalah adanya aksi bela Islam, aksi bela agama, dan sederet aksi-aksi keagamaan bermunculan di negara yang mayoritas sudah jelas-jelas beragama. Apa yang salah dari keberagamaan masyarakat Indonesia sehingga harus diagamakan kembali?

Oleh karena itu, semakin canggih teknologi, maka semakin canggih kegersangan spiritual anak didik. Di saat kegersangan spiritual anak didik semakin tandus, yang dibutuhkan tiada lain yaitu air yang membasahi kegersangan itu sendiri atau dengan bahasa lain, kesejukan yang mampu meminimalkan kegersangan itu. Jika tanah gersang, tentu ia membutuhkan air. Tapi jika spiritual anak didik mengalami kegersangan, tentu hanya para pendoa yang mampu memberikan air. Air dalam hal ini sebuah manifestasi dari kesejukan atau spiritualitas yang mendalam dari anak didik dan para pendoa.

Anak didik kita dewasa ini mengalami dua hal. Yakni, krisis keteladanan dan krisis spiritual. Bukti nyata krisis keteladanan yaitu, anak didik tidak memiliki figur guru yang disegani, mengapa guru datang ke madrasah ”hanya” untuk mengisi presensi dan mengajar, itu saja. Kalau ada aturan RPP dan RPS dijawab ada, walau tidak membuat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena tuntutannya hanya laporan tertulis dan jamnya sesuai aturan walau kadang fiktif.

Artinya, jangan kemudian guru menyalahkan anak didik yang kebanyakan tidak serius belajar dan membaca, karena tidak adanya keteladanan dari guru yang juga rajin membaca dan menulis. Guru seharusnya belajar di rumah sehingga ada kreativitas untuk disampaikan kepada anak didik, sehingga tidak monoton, kemudian turun gaji bulanan. Lantas gaji bulanan itu turun untuk apa? Padahal kita tahu, gaji bulanan itu untuk membayar pendidik, sementara pendidik sendiri tidak serius dalam belajar dan mengajar. Dampaknya, guru dan anak didik mengalami krisis spiritual.

Maka, krisis itu harus diselesaikan dengan para pendoa. Doa dalam KBBI jilid V bermakna permohonan (harapan, permintaan, pujian) kepada Tuhan. Pendoa adalah orang yang mampu memohon, berharap, meminta, dan memuji Tuhan. Siapa yang punya kemampuan berdoa seperti itu? Dalam hal ini saya susah sekali menjawab, tapi saya harus menjawab walau dengan hati yang cukup berat.

Yaitu ”kiai kampung”, yang memiliki tradisi mengajar tanpa pamrih, hidupnya bertani, selalu bersyukur, kalau diberi uang justru menangis, setiap malam bangun dan salat, kemudian menangis berdoa kepada Tuhan agar anak didiknya menjadi anak didik memiliki ilmu yang bermanfaat. Bahkan, berpuasa hanya agar anak didiknya benar-benar menjadi manusia yang bermanfaat kepada dirinya, keluarga, dan bangsa.

Bisa dikatakan, bukanlah kiai yang hanya menjadi legalitas salah satu calon. Kita tahu bahkan dapat dipastikan setiap pemilihan pemerintah, baik pusat maupun daerah, di sana ada banner-banner bergambar calon dan kiai pendukung. Artinya, kiai di banner hanya legalitas sekaligus penegas. Ketika kiai menjadi legalitas calon yang dipampang, tentu sedikit banyak akan mengurangi karisma ke-kiai-annya. Seolah-olah jika tidak mengikuti gambar ada kiainya ia tidak taat pada kiai. Kalau ini yang terjadi, bahaya, sebab itu bukan wilayah taat dan tidak taat, itu wilayah politik, dan di dalam ranah politik, setiap kita punya hak politik. Di sinilah penting anak didik memiliki ilmu politik agar paham mana wilayah agama dan mana wilayah politik.

Apakah pendidik tidak bisa menjadi pendoa? Sangat bisa. Jika pendidik itu benar-benar memiliki keikhlasan untuk mendidik. Maka, di sini dibutuhkan kesungguhan dari pendidik agar benar-benar mendidik, bukan hanya yang sifatnya material, akan tetapi imateriel juga. Memuasakan anak didik, mendoakan anak didik tengah malam, istigasahkan anak didik, kirimi Fatihah untuk anak didik, dan kerja-kerja spiritual yang lain yang dikhususkan kepada anak didik.

Kalau pendidik sudah melakukan demikian, insyaallah anak didik tidak banyak yang melanggar moral. Semoga para pendoa tidak benar-benar mati terkena Covid-19. Amin. 

*)Pemerhati masalah sosial budaya

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia