alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Bangun Mimpi Anak Pulau Garam

oleh Zainal A. Hanafi*

12 April 2020, 18: 44: 34 WIB | editor : Abdul Basri

KELAS INSPIRASI: Relawan dari lintas profesi mengajar siswa kelas VI A dan B di SDN Paseseh 1, Tanjungbumi, Bangkalan, Sabtu (7/3).

KELAS INSPIRASI: Relawan dari lintas profesi mengajar siswa kelas VI A dan B di SDN Paseseh 1, Tanjungbumi, Bangkalan, Sabtu (7/3). (Zainal A. Hanafi for RadarMadura.id)

Share this      

KEBERHASILAN akan diperoleh bagi orang-orang yang selesai melakukannya. Tidak peduli apa yang didapat dan mengapa harus berbuat. Ini kali pertama pengalaman saya ikut Kelas Inspirasi Bangkalan (Kiba). Bertemu dengan berbagai kalangan di Indonesia yang berangkat dari profesi masing-masing. Saya sendiri berangkat dari profesi penulis, ada Ina Herdiyana, editor bahasa Jawa Pos Radar Madura, dan banyak lainnya.

Sebelum berangkat ke Bangkalan, saya sudah ragu dengan apa-apa yang saya bawa. Melihat profesi saya ini yang kebanyakan tidak berlaku di Madura. Bahkan, saya menyaksikan sendiri, di antara angkat tangan para siswa, tidak seorang pun yang memiliki cita-cita menjadi penulis. Ini bukan sesuatu yang membuat saya terkejut dan lagi pula tujuan saya menjadi relawan di sana bukan mengajak mereka menjadi penulis, tetapi lebih ke bagaimana sih menjadi penulis dan mengapa memilih itu?

Kiba mengusung tema Bangun Mimpi Anak Pulau Garam yang kali ini acara keempat yang berhasil diadakan. Konotasi bangun disandingkan dengan mimpi seakan-akan masih banyak anak Madura yang belum beranjak dari tidurnya. Ini memang cocok. Kita tidak tahu kenyataan yang terjadi di pelosok desa. Apakah mereka mendapat pendidikan yang tepat, yang anak-anaknya termotivasi untuk berani mencoba? Atau justru sebaliknya? Berangkat dari kecemasan atau kegelisahan itulah barangkali kegiatan ini tercipta.

Saya ada di Rombongan Belajar (Rombel) 1 di SDN Paseseh 1, Tanjungbumi, Bangkalan. Sementara masih ada beberapa rombel lagi yang disebar ke sekolah-sekolah dasar di kawasan itu. Sekitar 20 orang kami berkumpul di lapangan. Menyapa murid-murid dan guru-gurunya. Sebelum ke lokasi itu, beberapa panitia mengatakan bahwa sekolah yang akan kita tempati ini belum pernah mendapat juara di berbagai perlombaan. Begitu kata gurunya. Saya tidak peduli tentang hal itu. Pencapaian tertinggi di pendidikan buat saya adalah ketika banyak siswa yang masih berminat untuk belajar dan tidak menjadikan sekolah hanya ingin mendapatkan ijazah.

Terfokus pada minat siswa di sana, tidak sedikit yang memiliki cita-cita yang tinggi. Mereka sangat antusias ketika ditanya tentang cita-citanya. Ada yang ingin jadi dokter, polisi, PNS, koki, dan tidak sedikit pula yang bercita-cita menjadi YouTuber. Itu wajar jika memang kenyataannya, kekayaanlah sesungguhnya yang dicari. Bagi mereka, profesi tersebut memiliki masa depan yang cerah dan tidak akan ketinggalan zaman sampai kapan pun. Itu pun juga tidak masalah. Kita tahu bahwa setiap orang memiliki kenyamanan masing-masing. Dalam bidang-bidang tertentu yang mereka bisa. Dan, kehendak mereka itu tidak bisa dipaksa untuk diubah ke hal yang lain. Intinya, mereka harus bisa menerima diri mereka sendiri sebagai sesuatu yang unik, yang berbeda dengan orang lain.

Tugas saya hanya membantu mereka membangun mimpinya, dengan bekal dan kemampuan yang mereka punya. Tentu saja tidak banyak yang saya berikan perihal kepenulisan. Saya malah lebih banyak melemparkan pertanyaan yang meskipun ujung-ujungnya saya jawab sendiri. Terutama soal kepedulian terhadap sesama dan memberi. Value-value kemanusiaan. Sementara itu, saya harus menyesuaikan juga dengan karakter mereka yang setiap anaknya tidak sama. Itu tantangan bagi saya untuk terus belajar memahami mereka.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan penempelan cita-cita mereka yang ditulis ke pohon cita-cita yang kami buat. Semoga menjadi akar yang kuat selama belum lapuk.

Harapan saya adalah, mereka tetap tumbuh sebagai orang yang mandiri, tidak mencoba untuk menjadi orang lain. Membangun dirinya sendiri sebagai sosok yang tangguh dan memikul keberanian. Berani mencoba dan banyak-banyak memberi.

Pesan saya kepada gurunya adalah, jangan lupa untuk tetap membimbing mereka sampai menemukan jati dirinya. Terima kasih saya ucapkan kepada teman-teman di Kiba 2020 atas tempat dan lingkungannya. Saya seperti berada di bawah pohon beringin dan meskipun kalian rata-rata berasal dari luar Madura, saya merasakan rampa’ naong bȃringѐn korong di sana. Sampai jumpa kembali! 

*)Buku perdana Ѐsarѐpo Bѐncong, 2017. Bergiat di Komunitas Sivitas Kotheka dan pemilik lapak Sangkolan Bookstore.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia