alexametrics
Kamis, 04 Jun 2020
radarmadura
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Kota Bahari vs Kota Sumekar

Oleh: Anis Billah*

12 April 2020, 16: 22: 10 WIB | editor : Abdul Basri

Kota Bahari vs Kota Sumekar

Share this      

MUNGKIN sulit terpikirkan bahwa persebaran coronavirus disease 2019 (Covid-19) akan menyerang Madura. Virus yang dikenal cepat penyebarannya itu awalnya berasal dari Tiongkok. Jika melihat letak geografisnya, Pulau Madura berada jauh dari Tiongkok. Dan tidak ada orang Tiongkok yang datang ke Madura, kecuali tujuan pariwisata atau mungkin ada penelitian tertentu. Selama ini hanya produknya saja yang dikenal oleh orang Madura dengan ciri khas Made in China.

Karena itu, sebelum pemerintah pusat mengumumkan status darurat bencana nonalam Covid-19, masyarakat banyak yang meremehkan virus tersebut. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa virus korona tidak akan masuk ke Indonesia, apalagi Madura. Padahal, jika melihat produknya, bertebaran di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tercinta melalui jalur impor.

Sulit diakui, pada 2 Maret tiba-tiba Presiden RI Joko Widodo mengumumkan pasien pertama di Indonesia terpapar Covid-19. Sesuai dengan tanggalnya, kasus pertama menyerang dua warga asal Depok, Jawa Barat. Keduanya diketahui pernah kontak langsung dengan orang Jepang yang tinggal di Malaysia. Sebelumnya, orang Jepang tersebut dinyatakan terkonfirmasi Covid-19.

Jumlah pasien positif Covid-19 terus bertambah seiring berjalannya waktu. Meski persebaran Covid-19 begitu nyata masuk ke Indonesia, belum berpengaruh terhadap masyarakat di Madura.

Aktivitas masyarakat di Madura mulai ada perubahan setelah Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengeluarkan kebijakan khusus bagi pelajar. Semua jenjang pendidikan di Jatim siswanya dirumahkan, kecuali yang menjalani ujian nasional. Kebijakan tersebut diambil pasca terjadi peningkatan status persebaran virus korona dari endemi ke pandemi.

Sejak itulah, masyarakat Madura mulai ketir-ketir terhadap persebaran covid-19. Sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa Covid-19 tidak akan masuk ke Madura mulai terpatahkan. Sebagian masyarakat yang lain mulai waspada dan melakukan antisipasi. Di antaranya dengan menyediakan masker dan hand sanitizer.

Meningkatnya kasus yang terkonfirmasi Covid-19 membuat masyarakat yang tinggal di daerah zona merah gelisah, termasuk perantau. Di tengah pandemi Covid-19, gelombang mudik dari berbagai daerah memilih pulang ke kampung halaman. Saat itu desas-desus pemerintah akan memberlakukan lockdown muncul ke permukaan.

Akhirnya, perantau banyak yang memilih mudik dini karena khawatir tidak bisa bertemu dengan keluarga di kampung halaman. Begitu juga dengan perantau berdarah Madura. Setiap hari kedatangan pemudik di Madura tidak bisa dibendung. Puluhan perusahaan otobus (PO) dan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) membawa pemudik masuk ke pulang Madura.

Hal ini menimbulkan masalah baru. Pasalnya, kedatangan pemudik tanpa ada pengawasan di pintu masuk Madura. Sterilisasi Jembatan Suramadu baru dilakukan 29 Maret. Hal itu bersamaan dengan diumumkannya pasien terkonfirmasi Covid-19 pertama di Madura. Hal itu berdasarkan hasil laboratorium Balitbangkes Jakarta.

Setelah Pamekasan masuk zona merah, Bangkalan menyusul. Jika melihat data sebaran Covid-19 di Madura, tinggal dua kabupaten yang masih bertahan di zona hijau. Yakni Sampang dan Sumenep. Dari 38 kabupaten/kota, dua kabupaten di Madura menjadi perwakilan Jatim yang berada di zona hijau. Belum bisa dipastikan, apakah kedua kabupaten tersebut akan bertahan di zona hijau hingga pandemi berakhir.

Akan tetapi, jika melihat letak geografisnya, Kota Sumekar lebih diuntungkan karena berada di kabupaten paling timur. Sementara, Kota Bahari saat ini sudah diapit kabupaten zona merah yakni Kota Zikir dan Salawat serta Kota Gerbang Salam.

Jika berkaca pada hasil penelitian Pusat Kajian Kebijakan Publik Bisnis dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PKKPBI ITS) dipredikasi puncak pandemi Covid-19 terjadi pada bulan ini. Begitu juga prediksi dari pakar statistika UGM dan alumni FMIPA UGM. Dengan intervensi pemerintah, diperkirakan pesien terkonfirmasi Covid-19 akan mencapai 6.200 orang.

Setelah puncak pandemi Covid-19, diperkirakan angka kasus terkonfirmasi akan menurun. Namun, hal itu merupakan proyeksi skenario ideal. Artinya, jika kebijakan yang dilakukan pemerintah berhasil dan tidak terjadi jumlah pemudik yang signifikan.

Di samping itu, hasil penelitian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang hubungan cuaca dengan perkembangan Covid-19 bisa dikorelasikan dengan hasil pemikiran peneliti di atas. Penelitian BMKG tersebut didukung oleh 20 peneliti termasuk dari kedokteran untuk melacak informasi ilmiyah terkait hubungan iklim dengan penyebaran wabah.

Beberapa penelitian menunjukkan penyebaran epidemi tersebut dikontrol oleh beberapa faktor. Antara lain faktor iklim atau cuaca, demografi manusia dan mobilitasnya, interaksi sosial, serta upaya intervensi kesehatan masyarakat. Disebutkan, iklim ataupun cuaca dapat berpengaruh terhadap kestabilan virus korona yang cenderung stabil pada suhu udara rendah (1 derajat Celsius s.d 10 derajat Celsius) dan kelembapan udara rendah (40% s.d 50%).

Indonesia merupakan negara yang terletak di sekitar garis khatulistiwa. Suhu rata-rata berkisar antara 27–30 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70–95 persen. Karena itu, kondisi iklim tersebut cenderung tidak ideal untuk outbreak Covid-19. Namun, hal ini tidak sejalan dengan realita yang ada di lapangan. Fakta menunjukkan bahwa kasus Covid-19 telah menyebar di Indonesia.

Akhirnya, BMKG membuat kasimpulan bahwa iklim atau cuaca bukan satu-satunya faktor yang dapat mengontrol persebran epidemi Covid-19. Faktor mobilitas orang lebih berpengaruh dalam persebaran dan peningkatan Covid-19 di Indonesia.

Dari hasil penelitian tersebut, BMKG merekomendasikan upaya pembatasan mobilitas orang dan interaksi sosial secara lebih optimal. Dengan begitu, cuaca dapat berpengaruh lebih maksimal untuk pengurangan risiko persebaran wabah Covid-19.

Hingga akhir Maret, BMKG mencatat intensitas polutan akibat mobilitas orang kurang lebih masih setara seperti hari-hari sebelum work from home (WFH) diterapkan. Pembatasan mobilitas orang belum berjalan efektif. Hal ini harus lebih serius dalam menerapkan pembatasan sosial.

Di samping itu, BMKG memprediksi perkiraan suhu dan kelembapan udara beberapa bulan ke depan. Sepanjang April–Juni, suhu udara diprediksi berkisar antara 26–29 derajat Celcius. Pada periode Juli–September, suhu udara diprediksi berkisar antara 26–28 derajat Celcius. Sementara prediksi kelembapan udara sepanjang April–September bervariasi antara 60–80%. Namun, pola spasialnya berubah mengikuti waktu (bulan).

Jika melihat prediksi suhu dan kelembapan udara, kondisi iklim beberapa bulan ke depan diperkirakan dapat memperlambat persebaran Covid-19. Umumnya Indonesia memasuki musim kemarau peningkatan suhu maksimum pada siang hari mencapai 36 derajat Celcius. Di samping itu, kelembaban udara diperkirakan tetap tinggi sepanjang tahun.

Ke depan, entah bagaimana kebijakan pemerintah di Madura dalam memanfaatkan peluang cuaca untuk mengusir Covid-19 dari Pulau Garam. Tapi, jika melihat estimasi anggaran yang disiapkan tiap daerah untuk menangani virus korona cukup tinggi. Kebijakan pemerintah tersebut akan sia-sia jika tidak beriringan dengan antusiasme masyarakat.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia