alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Sebar Hoaks Korona, Kasek Diperiksa

Satgas Nyatakan Tidak Ada Indikasi

26 Maret 2020, 08: 37: 44 WIB | editor : Abdul Basri

NGAKU SALAH: Mohammad Suhri (MS) diperiksa Kanitreskrim Polsek Pademawu Ipda Suyanto di kantor Polsek Pademawu, Pamekasan.

NGAKU SALAH: Mohammad Suhri (MS) diperiksa Kanitreskrim Polsek Pademawu Ipda Suyanto di kantor Polsek Pademawu, Pamekasan. (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

Di mana ada gula, di situ ada semut. Setiap ada kehebohan hampir selalu disertai hoaks. Bahkan, tindakan gegabah itu tak jarang dilakukan oleh orang berpendidikan.

WABAH coronavirus disease 2019 (Covid-19) memang menimbulkan kekhawatiran. Apalagi dibumbui dengan informasi tidak bertanggung jawab. Seperti dilakukan Mohammad Suhri (MS), warga Dusun Karang Dalem, Desa Pademawu Barat, Kecamatan Pademawu. Dia harus berhadapan dengan polisi karena menyebarkan hoaks terkait korona.

Lelaki kelahiran 1965 tersebut harus berurusan dengan polisi karena menyebarkan hoaks korona melalui voice note WhatsApp pada Selasa (24/3). Berdasarkan voice note yang direkam dan disebarnya sendiri, MS menyampaikan kepada masyarakat, utamanya guru-guru di lingkungan dia kerja di wilayah Kecamatan Omben.

Dia berpesan agar berhati-hati karena ada warga Desa Lemper, Kecamatan Pademawu, Pamekasan, positif Covid-19. ”Di Pamekasan, khususnya di Desa Lemper, Kecamatan Pademawu, tidak jauh dari rumahnya Subairi (seorang guru), sudah positif terjangkit korona. Sekarang sudah ada di RSUD Pamekasan. Informasi ini bukan hoaks, saya diberi tahu bapak kepala Desa Lemper,” bunyi voice note yang disebarkan MS.

Warga yang dimaksud oleh MS telah terpapar Covid-19 tersebut adalah Lukman Hakim, karyawan salah satu diler mobil di Pamekasan. Lukman tersebut memang sakit dan pernah bepergian ke Surabaya. ”Dia berada di ruang isolasi RSUD Pamekasan,” tambah MS di dalam voice note-nya.

Dalam voice note tersebut, pria yang berprofesi sebagai guru itu mengimbau agar teman-temannya di Sampang dan hendak ke Pamekasan untuk tidak pergi ke Desa Lemper dan sekitarnya. ”Termasuk jangan dekat dengan Kepala SDN Sogiyan 2 Bapak Muhlis karena rumahnya tidak jauh dari sana,” sambung Kepala SDN Sogiyan 3 Kecamatan Omben, Sampang, itu.

MS dalam voice note tersebut bahkan secara tegas meminta teman-temannya di Sampang untuk menangguhkan rencana bepergiannya ke Pamekasan. Sebab, akan ada kemungkinan terjangkit Covid-19 di wilayah Pamekasan. Namun faktanya, tidak ada warga Desa Lemper yang terjangkit Covid-19.

Lukman Hakim memang sakit, kemudian masuk dalam daftar orang dalam pemantauan (ODP). Namun, tidak terjangkit virus korona.

Atas tindakannya itu, MS diperiksa oleh Satreskrim Polres Pademawu. Saat ini MS berstatus saksi dalam kasus penyebaran informasi bohong tersebut.

Kanitreskrim Polsek Pademawu Ipda Suyanto menerangkan, MS menyebarkan hoaks korona tersebut sekitar pukul 10.00 Selasa (24/3). Mulanya, MS hanya menerima informasi dari pamong Desa Pademawu Barat bahwa di Desa Lemper ada yang terpapar korona.

Kemudian, MS meminta konfirmasi kebenaran informasi tersebut melalui grup WhatsApp IPBV (grup bola voli di Pademawu). Di dalam grup tersebut ada Kades Lemper Hosnan. Kemudian, ada salah seorang anggota grup yang memberikan konfirmasi terkait korona di Desa Lemper. Bukan Kades Lemper.

”Ada salah seorang anggota grup yang mengonfirmasi pertanyaan MS, bahwa yang bernama Lukman Hakim terkena korona atau diisolasi di RSUD Pamekasan. Dan MS ini langsung memberikan informasi dan merekam sendiri serta dikirimkan ke grup-grup WA-nya bahwa warga tersebut positif korona,” terang Suyanto.

Suyanto menjelaskan bahwa pihak kepolisian telah mengecek soal kebenaran informasi korona di Desa Lemper. ”Setelah kita cek ke kepala Desa Lemper, ternyata berita tersebut berita bohong alias tidak ada yang terpapar korona,” tegasnya.

Kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM), Kades Lemper Hosnan menyampaikan, Lukman Hakim sudah sehat. ”Hanya saya belum menjenguk. Itu berdasarkan laporan dari petugas yang datang ke rumahnya,” ungkap Hosnan.

Sementara MS memohon maaf atas tindakan yang dilakukan. Dia mengaku telah membuat heboh masyarakat. ”Terkait korona di Desa Lemper adalah hoaks. Jadi, sekali lagi saya mohon maaf, utamanya warga Desa Lemper, korban, dan kepala desa,” ucap MS.

Sementara itu, Ketua Tim Satgas Covid-19 RSUD Pamekasan Syaiful Hidayat menjelaskan, Lukman memang sempat masuk ke IGD sebagai ODP. Saat itu memang dia ada keluhan demam, batuk, dan sesak. Setelah diperiksa, tidak ada gejala Covid-19. ”Dalam artian, indikasi sebagai PDP atau Covid-19 tidak ada,” tegasnya.

Lebih lanjut Syaiful Hidayat menegaskan bahwa Lukman tidak masuk kategori PDP. Pneumonianya tidak ada setelah difoto rontgen. Hasil uji laboratorium juga normal. ”Jadi tidak ada pneumonia atau radang paru-paru. Kalau PDP kan ada radang paru-paru,” tambahnya. (ky)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia