alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Berita Kota
icon featured
Berita Kota
Diisolasi setelah Datang dari Afrika

Angka ODR dan ODP Terus Naik

26 Maret 2020, 08: 13: 29 WIB | editor : Abdul Basri

PAPARKAN: Juru Bicara Satgas Penanggulangan dan Pencegahan Covid-19 di Bangkalan dokter Catur Budi Keswardiono diwawancarai wartawan.

PAPARKAN: Juru Bicara Satgas Penanggulangan dan Pencegahan Covid-19 di Bangkalan dokter Catur Budi Keswardiono diwawancarai wartawan. (DAFIR/RadarMadura.id)

Share this      

Masyarakat tidak perlu panik berlebihan meski angka orang dalam risiko (ODR) dan orang dalam pemantauan (OPD) di empat kabupaten di Madura meningkat. Namun, masyarakat harus tetap waspada dan wajib menjaga diri dari ancaman virus korona. Juga mematuhi imbauan pemerintah.

DI Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu) Bangkalan ada seseorang yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Saat ini warga Kecamatan Klampis itu berada di ruang isolasi. Dia pernah menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Afrika.

Juru Bicara Satgas Penanggulangan dan Pencegahan Covid-19 di Bangkalan dokter Catur Budi Keswardiono menyampaikan, satu orang yang berstatus PDP itu baru pulang dari Gabon, Afrika. ”Sekarang posisinya masih di ruang isolasi. Tidak boleh ada yang jenguk,” katanya Selasa (24/3).

Dokter spesialis paru RSUD Syamrabu Bangkalan itu menyampaikan, pada rontgen pertama, kondisi pasien tersebut tidak menunjukkan hasil lebih baik. Lalu, dilakukan rontgen kedua. Hasilnya justru mulai mengarah pada gejala Covid-19. ”Karena itu ditetapkan PDP. Tapi, sekali lagi belum positif Covid-19,” tegasnya.

Dia menjelaskan, pasien tersebut datang ke RSUD Syamrabu empat hari lalu. Saat itu gejalanya menunjukkan seperti demam berdarah dengue (DBD). Namun, belakangan dan berdasar hasil labaratorium mengarah ke Covid-19. ”Karena itu, kami lakukan swab tenggorokan,” terangnya.

Tindakan swab itu merupakan prosedur standar untuk memastikan seseorang positif Covid-19 atau tidak. ”Medianya sudah saya kirim ke Surabaya. Kita tunggu saja hasilnya,” ujarnya.

Sementara di bumi Gerbang Salam, kesehatan 45 anggota DPRD Pamekasan dipantau tim medis. Hal itu dilakukan setelah wakil rakyat datang dari beberapa daerah untuk keperluan kunjungan kerja (kunker).

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan Achmad Marsuki mengatakan, tim medis memeriksa kondisi kesehatan anggota dewan. Hasilnya, semua sehat. Menurut dia, tidak ada satu pun wakil rakyat yang masuk kategori orang dalam pemantauan (ODP).

Meski demikian, kesehatan mereka tetap dipantau. Harapannya, selama 14 hari ke depan tidak ada gejala terjangkit Covid-19. ”Yang pasti, semuanya dalam pemantauan,” katanya kemarin.

Ketua Tim Penanggulangan Covid-19 RSUD dr. H Slamet Martodirdjo Syaiful Hidayat menegaskan, kesehatan seluruh anggota dewan harus dipantau. Sebab, mereka baru datang dari luar kota.

Selama 14 hari ke depan, mereka disarankan melakukan isolasi mandiri. Sebab, meski saat pemeriksaan dalam kondisi sehat, khawatir beberapa hari kemudian mereka mengalami gejala terjangkit virus.

Isolasi mandiri tidak menghalangi anggota dewan bekerja. Aktivitas tetap dilakukan secara normal. Namun, pola hidup bersih dan sehat (PHBS) harus ditingkatkan. Di antaranya, menggunakan masker dan sering cuci tangan.

Kemudian, memisahkan diri di kamar dengan anggota keluarga yang lain. Lalu, tempat makan dan minum sendiri serta menghindari kontak fisik dengan orang. Termasuk dengan keluarga.

Jika dalam kurun waktu 14 hari ada keluhan, semisal demam dan batuk, diharapkan segera melapor ke tim medis. Bisa melalui puskesmas maupun rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. ”Sebaiknya di rumah saja selama 14 hari,” sarannya.

Syaiful menyatakan, sejauh ini ada dua ODP yang dirawat di rumah sakit. Kemudian, satu pasien dalam pengawasan (PDP). Pasien tersebut meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua DPRD Pamekasan Syafiuddin mengaku, isolasi mandiri memang perlu dilakukan. Tetapi, dewan sebagai pelayan rakyat tidak bisa meninggalkan secara total pekerjaan yang diemban.

Kesepakatan pimpinan dewan, selama 14 hari ke depan tidak ada kunjungan ke luar kota kecuali untuk kegiatan mendesak. Kesepakatan itu menyusul kebijakan pemerintah pusat yang membatasi kegiatan yang mengumpulkan orang banyak. ”Kalau kegiatan rutin kedewanan tetap jalan,” tandasnya.

Di Kota Keris, data pemantauan kewaspadaan Covid-19 juga terus berubah. Saat ini di Sumenep mengalami peningkatan drastis untuk ODR. Yakni, dari 400 orang meningkat jadi 690 orang per 24 Maret kemarin.

Peningkatan juga terjadi pada jumlah ODP. Yakni, dari 10 orang meningkat menjadi 12 orang. Sementara untuk PDP di Sumenep tidak ada. Semua berharap, tidak ada masyarakat yang terjangkit Covid-19.

Bupati Sumenep A. Busyro Karim menyampaikan, pemerintah selalu intens memantau masyarakat untuk mengantisipasi wabah Covid-19. Masyarakat tidak perlu risau dengan data ratusan ODR. Mayoritas, mereka sehat dan tidak terinfeksi Covid-19.

Setiap warga Sumenep yang datang dari perantauan, khususnya daerah yang dikategorikan lokal transmisi, bakal dikategorikan ODR. Mereka didata karena khawatir menjadi media penyebaran virus. Mereka akan terus dipantau selama masa inkubasi 14 hari.

Untuk ODP, mereka yang terdeteksi karena memiliki gejala ringan. Namun, mereka hanya disarankan melakukan isolasi mandiri. Selama ini, pemerintah terus berupaya melakukan tindakan antisipastif.

Bupati juga mengimbau warga Sumenep menunda rencana berkumpul yang melibatkan banyak orang. ”Sudah kami lakukan juga penyemprotan disinfektan secara berkala di tempat- tempat umum. Misalnya, masjid, pasar, dan perkantoran,” jelasnya.

Untuk diketahui, tim Dinas Kesehatan Sumenep juga melakukan penyemprotan disinfektan di kantor Jawa Pos Radar Madura Biro Sumenep kemarin. Seluruh ruangan, dari ruang kepala biro hingga ruang redaksi, disemprot cairan antivirus itu.

Menanggapi itu, Kepala JPRM Biro Sumenep Feri Ferdiansyah menyampaikan, penyemprotan disinfektan di ruang kerja sengaja diajukan sebagai bentuk perhatian kepada seluruh kru JPRM Biro Sumenep. Termasuk menyediakan hand sanitizer dan masker kepada setiap kru, terutama kepada wartawan.

Bagi wartawan JPRM Biro Sumenep sudah diberlakukan tidak wawancara langsung kecuali liputan yang dianggap sangat mendesak. Menurut dia, profesi wartawan memiliki risiko tinggi tertular dan menularkan virus itu.

”Semua perusahaan apa pun wajib memperhatikan kondisi karyawannya. Semua ini adalah bentuk ikhtiar Jawa Pos Radar Madura untuk meningkatkan kewaspadaan,” jelasnya. (jun

(mr/daf/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia