alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Pertimbangan Pemkab Sumenep Siapkan GIC untuk Ruang Isolasi

Bentuk Kesiapan dalam Melakukan Antisipasi

26 Maret 2020, 08: 08: 47 WIB | editor : Abdul Basri

PANTAU KESIAPAN: Bupati Sumenep A. Busyro Karim (kanan) beserta forkopimda dan jajaran pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Sumenep melihat persiapan ruangan yang direncanakan dijadikan tempat isolasi PDP Covid-19 di GIC, Kecamatan Batuan, Sumenep.

PANTAU KESIAPAN: Bupati Sumenep A. Busyro Karim (kanan) beserta forkopimda dan jajaran pimpinan OPD di lingkungan Pemkab Sumenep melihat persiapan ruangan yang direncanakan dijadikan tempat isolasi PDP Covid-19 di GIC, Kecamatan Batuan, Sumenep. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

Menyediakan ruang isolasi bukan berarti berharap ada pasien yang akan menempati. Namun, langkah itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi. Berikut pertimbangan Pemkab Sumenep memilih Gedung Islamic Center (GIC).

HUJAN mengguyur wilayah Kota Sumenep Selasa (24/3) sekitar pukul 11.00. Pendapa Agung Kraton Sumenep ramai dengan pergelaran konferensi pers terkait upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19. Berbagai unsur berkumpul. Pemkab, forkopimda, dan awak media.

Dalam jumpa pers, Bupati Sumenep A. Busyro Karim menyiarkan data terbaru mengenai hasil pantauan tim terhadap potensi virus korona di Kota Keris. Ada 690 orang dengan risiko (ODR), 12 orang dalam pemantauan (ODP), dan tidak ada pasien dalam pengawasan (PDP). Suspect juga dinyatakan nol.

ANTISIPASI: Petugas mengecek fasilitas yang disiapkan jika nantinya terdapat PDP Covid-19 di salah satu ruangan GIC Sumenep.

ANTISIPASI: Petugas mengecek fasilitas yang disiapkan jika nantinya terdapat PDP Covid-19 di salah satu ruangan GIC Sumenep. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Lagi-lagi, pemerintah mengimbau masyarakat tidak resah. Terlebih jika melihat angka 690 ODR dan 12 ODP. Ratusan orang itu bukan lantas positif atau terinfeksi Covid-19. Hanya berisiko dan masih dipantau. Ada beberapa hal yang perlu dipahami masyarakat. ODR, ODP, PDP, dan suspect corona. Perbedaannya jauh.

Seseorang bisa disebut ODR jika pernah berkunjung ke daerah penularan Covid-19, tetai tidak menunjukkan gejala. Bisa juga pernah bertemu orang yang berasal dari daerah penularan virus korona.

Sedangkan ODP disebutkan bagi seseorang yang memiliki gejala panas tubuh di atas rata-rata, batuk, flu, dan mengalami gangguan saluran pernapasan. Ditambah jika seseorang tersebut pernah berkunjung atau tinggal di daerah yang diketahui menjadi tempat penularan virus korona.

Tidak hanya bagi yang mengalami gejala, orang yang sehat, tapi pernah melakukan kontak langsung dengan PDP dan suspect corona bisa masuk dalam kategori ODP.

Selanjutnya, PDP. Pada tingkatan ini, seseorang akan dinyatakan PDP jika menunjukkan gejala panas tubuh tinggi, batuk berat, flu, dan gangguan saluran pernapasan ringan maupun berat. Selain itu, pernah mengunjungi atau tinggal di daerah penularan Covid-19. Apalagi pernah berkontak langsung dengan kasus yang terkonfirmasi virus korona.

”Harus dibedakan. Yang jelas, sampai saat ini di Sumenep belum ada yang berstatus pasien, apalagi positif korona,” tegas orang nomor satu di lingkungan Pemkab Sumenep itu.

Hujan tak sempat reda, para pejabat pemerintah lanjut bergeser ke Masjid Jamik Sumenep usai menggelar press conference. Lalu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Gedung Islamic Center (GIC) di Kecamatan Batuan setelah rombongan melaksanakan salat Duhur berjamaah.

Di gedung lantai dua ini, pemerintah berencana menjadikan beberapa ruang bangunan sebagai tempat isolasi bagi PDP. Dua ruangan dilengkapi sarana kesehatan berupa ranjang pasien. Jumlahnya sekitar 13 ranjang. Belum lengkap. Namun, adanya sarana tersebut menegaskan bahwa rencana pemerintah daerah memanfaatkan GIC sebagai tempat isolasi.

Pertimbangan memilih GIC karena cukup jauh dari permukiman masyarakat sekaligus lebih representatif. Mantan ketua DPRD Sumenep itu menerangkan, beberapa peralatan medis yang dibutuhkan di ruang isolasi sudah dipesan dan masih dalam perjalanan. ”Ini hanya bentuk kesiapan kami dalam melakukan antisipasi,” terangnya.

Rencananya, dua ruangan tersebut mampu menampung 20 pasien. Ruang isolasi itu juga bakal dilengkapi tenaga medis berupa dokter, perawat, serta tim keamanan dari unsur TNI-Polri dan satpol PP. Petugas akan dilengkapi alat pelindung diri (APD) agar aman menjalankan tugas. ”Tapi, semoga tidak ada yang dirawat di ruangan ini,” kata bupati dua periode itu.

Sebelumnya, sempat ada gejolak penolakan dari masyarakat untuk menjadikan GIC sebagai tempat isolasi. Namun, dia mengaku sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, dan tokoh masyarakat setempat.

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Karimiyah, Beraji, Kecamatan Gapura, itu memaparkan, semua pihak khususnya masyarakat harus punya kesadaran kolektif untuk mengamankan Sumenep dari penularan Covid-19. Baik kesadaran yang tumbuh dari diri sendiri maupun dari sosialisasi.

Menurut dia, pemkab telah melakukan upaya pencegahan. Mulai pembatasan kegiatan kedinasan, batasan aktivitas keramaian, penyemprotan disinfektan, hingga pemeriksaan suhu tubuh.

Pihaknya juga mengaku telah memesan kotak sterilisasi. Informasinya, tidak lama akan tiba di Sumenep. Kotak tersebut nantinya akan ditempatkan di sejumlah titik seperti terminal, pelabuhan, dan bandara. Dengan begitu, warga yang keluar dan masuk ke Sumenep bisa disterilkan dari kemungkinan adanya virus.

”Termasuk di titik-titik orang banyak berkumpul. Mari bersama mencegah. Jangan meremehkan karena ini untuk kebaikan kita bersama. Semoga Sumenep aman dari Covid-19,” ajaknya.

(mr/bad/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia