alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Mahasiswa Ikut Berperan Mengantisipasi Penyebaran Covid-19

Ini Tindakan Riil sebagai Sumbangsih Nyata

24 Maret 2020, 18: 50: 43 WIB | editor : Abdul Basri

IKUT BERJUANG: Mahasiswa melewati warga sambil menyemprotkan cairan disinfektan pada perahu rute Sampang–Pulau Mandangin di Pelabuhan Tanglok kemarin.

IKUT BERJUANG: Mahasiswa melewati warga sambil menyemprotkan cairan disinfektan pada perahu rute Sampang–Pulau Mandangin di Pelabuhan Tanglok kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

Siapa pun bisa terlibat dalam pencegahan penyerabaran virus korona (Covid-19). Seperti yang dilakukan mahasiswa di Jawa Timur yang terjun langsung untuk menyemprotkan disinfektan di fasilitan umum.

ANIS BILLAH, Sampang, RadarMadura.id

TUJUH belas perahu berjejer di Pelabuhan Tanglok, Sampang, kemarin (23/3). Perahu berisi penumpang dengan tujuan Pulau/Desa Mangadangin. Elpigi, beras, mi instan, dan beberapa peralatan kebutuhan penumpang juga dinaikkan ke perahu.

Fadlillah, pemilik perahu, keluar dari perahunya saat melihat sekumpulan orang berbaju putih mendekati perahu yang bersandar itu. ”Pergi jauh penyakit,” ucap dia yang mengenakan baju terbuka hingga kelihatan dadanya. ”Kalau sekarang virusanya sudah tidak ada,” imbuh pria 45 tahun itu.

Rombongan yang berkostum putih tersebut merupakan pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Sampang. Tujuh mahasiswa yang tergabung dalam mahasiwa Jawa Timur Peduli Covid-19. Yakni. dari Himpunan Mahasiswa (Hima) Teknik Perkapalan Universitas Muhammadiyah Gresik dan Hima Sthapati Arsitektur ITS Surabaya.

Empat mahasiswa di antaranya mengenakan pelindung plastik membawa peralatan untuk menyemprotkan cairan disinfektan di perahu tersebut. Mereka juga didampingi aparat kepolisian.

Satu per satu perahu disemprot. Warga di atas perahu hanya diam menyaksikan penyemprotan oleh mahasiswa. Sebagian warga yang lain sibuk menaikkan barang-barang ke perahu.

Ketua Hima Teknik Perkapalan M. Fikri Anwar mengaku tergerak melakukan penyemprotan atas dasar kepedulian dan kemanusiaan. Mereka ingin terlibat dalam aksi sterilisasi dengan penyemprotan disinfektan pada fasilitas umum dan rentan terhadap penyebaran Covid-19.

”Sudah seharusnya mahasiswa berperan aktif melakukan aksi nyata terjun ke masyarakat untuk bersama-sama mengantisipasi penyebaran Covid-19,” ujarnya usai melakukan penyemprotan.

Menurut dia, Covid-19 yang melanda Indonesia merupakan permasalahan bersama. Tidak hanya pemerintah, masyarakat juga harus bergandeng tangan. Hal itu dilakukan dalam rangka waspada, tanggap, sekaligus melakukan aksi nyata dalam penyebaran Covid-19.

Aksi tersebut juga merupakan inisiasi untuk menggerakkan masyarakat dalam meninggkatkan semangat gotong royong. Diharapkan, hal itu meluas ke wilayah di Jawa Timur sehingga menjadi gerakan aksi yang bergulir, masif, dan berkelanjutan.

”Masyarakat di Jawa Timur itu punya semangat gotong royong. Semangat ini yang kami yakini bisa mengatasi penyebaran Covid-19. Tidak lain karena kepedulian,” tutur Fikri.

Hal itu dilakukan atas donasi dan partisipasi dari berbagai pihak. Di antaranya, petani yang memberikan peralatan penyemprot. Di samping itu, dari peternak yang menyumbang sisa klorin.

”Kami memilih klorin karena merupakan bahan baku yang efektif dan harganya terjangkau. Gotong royong seadanya membuat cairan disinfektan,” ungkapnya.

Sayangnya, kondisi saat ini membuatnya kesulitan mendapat klorin dengan mutu yang bagus sebagai bahan disinfektan. Sudah seyogianya, badan usaha milik daerah (BUMD) yang berkenaan dengan hal ini bisa berpartisipasi.

Dia mencontohkan perusahaan daerah air minum (PDAM) yang memiliki stok bahan klorin sebagai salah satu zat aktif pembasmi virus. ”Gerakan ini mungkin hanyalah butiran buih dalam samudra alam raya. Tapi, kami berharap ini merupakan tindakan riil sebagai bagian kecil sumbangsih nyata kami,” harapnya.

Di samping itu, Fikri meminta masyarakat tetap mewaspadai penyabaran Covid-19. Hal itu juga bisa dengan mengikuti anjuran pemerintah. Yakni, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan menjaga social distancing.

Sementara itu, Humas Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang Yuliono menyampaikan masyarakat dengan status orang dalam risiko (ODR) setiap hari terus bertambah. Hingga saat ini, pihaknya mencatat sudah ada 704 orang.

Sebaliknya, status orang dalam pemantauan (ODP) bertambah dari jumlah awal 10 orang menjadi 18 orang. Kendati begitu, pihaknya belum menerima laporan adanya pasien dalam pengawasan (PDP).

Pihaknya terus memantau masyarakat dengan status ODR atau OPD. ”Sebenarnya, dengan tidak keluar rumah dan menjauhi kerumunan massa itu bagian dari solusi pencegahan,” jelasnya.

Apakah ada bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan masker? Yuli mengatakan tidak ada. Stok masker yang dimiliki pemerintah daerah terbatas. Hal itu cukup untuk digunakan petugas. ”Tidak ada, stok masker minim,” tandasnya. (bil)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia