alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

KMMA, Koperasi Mandiri Berbasis Edukasi Masyarakat

Ikuti Wasiat Kiai untuk Bantu Perekonomian

23 Maret 2020, 13: 58: 26 WIB | editor : Abdul Basri

VISIONER: Ketua I KMMA Bangkalan Sulhan Badri saat ditemui di kantornya di Jalan Hos Cokroaminoto Bangkalan kemarin.

VISIONER: Ketua I KMMA Bangkalan Sulhan Badri saat ditemui di kantornya di Jalan Hos Cokroaminoto Bangkalan kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

Potensi pertanian, peternakan, perikanan, dan daur ulang di Madura belum sepenuhnya tergarap optimal. Koperasi Madura Multifarm Agromandiri (KMMA) mengajak masyarakat agar melirik potensi tersebut.

HELMI YAHYA, Bangkalan RadarMadura.id

KMMA resmi berdiri sejak 8 November 2019. Koperasi ini bergerak untuk mengembangkan pertanian, peternakan, perikanan, dan daur ulang (P3D) di Pulau Garam, khususnya Bangkalan.

KMMA bisa mengelola peternakan, jadi tidak membosankan. Bisa mendatangkan banyak keuntungan dan tidak menyulitkan masyarakat. ”Kami berdiri atas wasiat KHR As’ad Syamsul Arifin yang mengatakan untuk membantu perekonomian masyarakat. Itulah landasan dan cikal bakal berdirinya KMMA di Bangkalan,” jelas Sulhan Badri, Ketua I KMMA Bangkalan kemarin (22/3).

Berawal dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, saat itu hanya ada sembilan orang sebagai pendiri utama. Mereka memikirkan dan memperjuangkan bagaimana KMMA nantinya akan hidup dan berkembang di tengah kehidupan di Bangkalan.

Kini sudah ada sekitar 80 anggota dari berbagai kepengurusan di masing-masing wilayah. Sedangkan untuk anggota dalam mitra kerja di 2020 kemungkinan ada 200 orang yang bergabung di setiap wilayah.

”Kami menjalankan dan merekrut anggota juga tidak memungut biaya sepeser pun. Yang dilakukan oleh KMMA memang murni mengabdi pada masyarakat tanpa ada embel-embel gaji dan dana,” jelasnya.

Pendanaan di KMMA basisnya adalah sumbangan dengan jumlah nominal yang berbeda. KMMA terus berusaha berkembang meskipun dengan dana mandiri dan pas-pasan. Karena target dan tujuan utama memang pengembangan ekonomi masyarakat, bukan untuk mencari uang. Maka dari itu, seluruh anggota sudah diberikan pemahaman yang sama.

”Di seluruh korwil juga kami sampaikan agar tidak mengharapkan rupiah dalam melakukan edukasi pada masyarakat, karena targetnya mengabdi dan mengembangkan jaringan,” paparnya.

Saat ini KMMA sudah memiliki mitra dengan banyak petani, peternak, dan pembudi daya ikan di Bangkalan. Dengan jaringan tersebut, KMMA mampu membentuk koordinator wilayah di masing-masing kabupaten. Bahkan, sampai ke Kepulauan Kangean.

”Mitra kerja kami sudah lumayan banyak dan semuanya sudah dapat berjalan mengembangkan potensi di berbagai kabupaten di Madura,” sambungnya.

Kali pertama KMMA menemukan potensi peternakan yakni ajem gheuk, yang saat ini sudah diakuisisi dan dihakpatenkan oleh Sumenep. Padahal jenis ayam tersebut sebenarnya milik Kecamatan Blega.

”Hanya saja, karena pemerintah Bangkalan tidak memperhatikan dan belum menemukan spesies tersebut, maka didahului dan dikembangkan di Sumenep,” ungkap dia.

Selanjutnya ada ”kambing pote Arosbaya” itu merupakan salah satu hasil peternakan endemik asli Bangkalan. Hanya, sampai saat ini tidak diakui dan belum dipatenkan. ”Kami menemukan potensi tersebut setelah beberapa bulan mengabdi dan mencari potensi di masyarakat, maka akhirnya kami menemukannya,” ungkap Sulhan

Saat ini kambing tersebut juga dikirim ke Tuban untuk dibudidayakan secara besar-besaran. Kemungkinan besar jika Bangkalan tidak mengambil kesempatan dan langkah taktis, akan segera diakuisisi dan dihakpatenkan oleh pemerintah Tuban.

”Padahal kambing ini sejarahnya memang dibawa saudagar ke Bangkalan untuk menghasilkan susu perah dan daging konsumsi yang tidak berbau amis,” terangnya.

Sementara potensi pertanian di Kota Salak juga belum tergarap maksimal. Padahal Bangkalan memiliki potensi tanaman porang yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan dan kosmetik.

Tanaman porang itu kurang diperhatikan. Karena itu, pihaknya akan mendampingi dalam budi dayanya. ”Sangat disayangkan. Banyak potensi lokal Bangkalan yang tidak dimaksimalkan, sehingga ujungnya diklaim dan diakui oleh daerah lain,” tuturnya.

KMMA juga pernah dipanggil Bupati Bangkalan Abdul Latif Amin Imron untuk membicarakan mengenai pengelolaan sampah. KMMA menawarkan pengelolaan sampai berteknologi zero waste, agar sampah yang ada dikelola dan selesai di TPS. Sampah organik dijadikan pupuk dan pakan ternak. Sementara anorganik akan didaur ulang dan diproduksi kembali. Limbahnya pun juga akan dikelola dan dibakar tanpa polusi.

”Sayangnya pemerintah belum memercayakannya pada kami. Maka, kami menawarkannya ke Kabupaten Pamekasan dan alhamdulillah diterima,” bebernya.

Menurut dia, Bangkalan memiliki banyak potensi yang belum selesai dikembangkan, sehingga jika terus menunggu anggaran dan menunggu laporan masyarakat,kemungkinan aset tersebut akan dipatenkan daerah lain.

”KMMA akan terus berkembang meski dengan atau tanpa dukungan pemkab. Tapi, kami akan terus melakukan koordinasi dengan organisasi pemerintah daerah yang bersangkutan agar terus menjalin hubungan baik,” pungkasnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia