alexametrics
Kamis, 02 Apr 2020
radarmadura
Home > Sampang
icon featured
Sampang

13 Anggota Keluarga Berisiko

Pasien Pernah Sakit Lambung

22 Maret 2020, 16: 39: 27 WIB | editor : Abdul Basri

13 Anggota Keluarga Berisiko

Share this      

SAMPANG – Pasien asal Kecamatan Sreseh, Sampang, yang meninggal di RSUD Syamrabu, Bangkalan, belum pasti terpapar virus korona. Kendati begitu, petugas kesehatan terus melakukan pemantauan kepada keluarga pasien berjenis kelamin lak-laki itu. Terdapat 13 anggota keluarga pria 35 tahun itu yang berstatus orang dalam risiko (ODR).

Kepala Puskesmas Sreseh Nurus Zakiyah mengatakan, pada saat pasien dirujuk ke RSUD Syamrabu berstatus ODR. Hal itu sesuai dengan kondisi kesehatan almarhum. Pada saat ditangani puskesmas, tidak ada gejala yang menunjukkan terpapar Covid-19.

Hanya, korban baru datang dari Jakarta. Daerah yang konfirm virus korona. Karena itu, pria termasuk masuk dalam status ODR. ”Kalau gejalanya, tidak mengarah pasien terpapar korona. Saat kami periksa hanya panas dan kejang. Tidak ada batuk dan pilek,” terang Nurus kemarin (21/3).

Nurus menjelaskan, orang itu tersebut pulang ke Kota Bahari bersama empat anggota keluarganya. Saat dalam perjalanan ke Madura, kondisi korban memang tidak sehat. Di perjalanan sering berhenti karena buang air besar (BAB).

Sepekan sebelumnyamempunyai riwayat sakit lambung. Selama di Ibu Kota dia sudah dua kali memeriksakan kesehatannya ke rumah sakit dan puskesmas.

Pada perjalanan pulang, tidak merasakan keluhan apa pun. ”Nah, ketika sudah di rumah, kondisi korban lemas, panas tinggi, dan kejang. Kami merujuk korban karena kejang-kejang,” jelasnya.

 Meski begitu, Puskesmas Sreseh tetap mewaspadai penyebaran Covid-19 di daerah Sreseh. Terutama anggota keluarga korban. Termasuk, mereka yang baru pulang dari Jakarta.

Hingga saat ini, pihaknya mencatat terdapat 13 anggota keluarga korban meninggal yang berstatus ODR. Puskesmas Sreseh sudah memeriksa semua keluarga korban. Hasilnya, sementara terbebas dari Covid-19.

Namun, pihaknya akan mengawasi mereka hingga 14 hari ke depan. ”Kami sudah tanya ke masing-masing keluarga korban. Mereka semuanya sehat dan tidak ada keluhan panas, batuk, pilek, apalagi sesak napas,” ungkapnya.

Koordinator Satgas Kesehatan Sampang Agus Mulyadi menuturkan, pihaknya akan mengecek kondisi kesehatan masyarakat yang keluar masuk Kota Bahari. Hal itu untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Menurut Agus, jumlah ODR di Sampang bertambah. Sebelumnya, pihaknya mencatat 448 ODR. Saat ini bertambah 28 orang menjadi 476. ”Termasuk keluarga korban meninggal di Sreseh kami pantau kesehatannya. Tapi, sepertinya tidak ada indikasi bahwa korban terpapar Covid-19,” tandasnya.

Sebelumnya, Dokter Spesialis Paru RSUD Syamrabu Bangkalan Catur Budi Keswardiono mengutarakan, pasien rujukan dari Puskesmas Sreseh itu berstatus orang dalam pemantauan (ODP). Saat pasien tiba di RSUD Syamrabu langsung diarahkan ke ruang isolasi. Sebab, versi Puskesmas Sreseh, pria 35 tahun itu berstatus ODP lantaran baru dari Jakarta.

Pihaknya langsung melakukan penanganan untuk memeriksa pasien. Semula dilakukan tensi darah. Lalu, pasien kejang-kejang dan sedikit reda setelah diberi obat.

Setelah itu, pihaknya ingin melakukan rontgen dan pengambilan darah. Namun, rupanya pasien tersebut meninggal dunia sekitar pukul 12.00, Jumat (20/3). Menurut dia, data Puskesmas Sreseh yang menyebut bahwa pasien itu sudah tidak sadarkan diri sejak dari Jakarta.

Data medis dari Puskesmas Sreseh menyebutkan, keluhannya panas, kejang-kejang, mual, muntah-muntah, dan mencret. Pilek dan batuk tidak ada. Namun, data medis pasien tersebut tidak cukup untuk memastikan terjangkit Covid-19 atau tidak. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia