alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Sumenep
icon featured
Sumenep

Polisi Abaikan Affan Group Tetapkan Satu Tersangka Beras Oplosan

22 Maret 2020, 14: 39: 51 WIB | editor : Abdul Basri

MALU: Latifa yang ditetapkan sebagai tersangka pengoplosan beras digelandang petugas menuju ruang tahanan Polres Sumenep.

MALU: Latifa yang ditetapkan sebagai tersangka pengoplosan beras digelandang petugas menuju ruang tahanan Polres Sumenep. (JUNAIDI PONDIYANTO/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Kasus pengoplosan beras memasuki babak baru. Latifa selaku pemilik gudang UD Yudatama ART akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Namun, polisi belum menelusuri lebih jauh keterlibatan nama Affan Group.

Kapolres Sumenep AKBP Deddy Supriadi menyampaikan, penetapan tersangka  dilakukan setelah melakukan pemeriksaan sejumlah saksi. Termasuk keterangan saksi ahli. Saksi ahli didatangkan dari berbagai instasi yang dianggap berkaitan dengan kasus ini.

Hasilnya, perempuan asal Desa Pamolokan, Kecamtan Kota Sumenep, itu dijerat tiga pasal sekaligus. Latifa disangka melanggar pasal 62 UU 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasal 139 UU 18/2012 tentang Pangan, dan pasal 106 UU 7/2014 tentang Perdagangan.

Setelah melakukan pemeriksaan pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadau Satu Pintu (DPMPTSP) Sumenep, UD Yudatama ART tidak memiliki legalitas untuk perdagangan. Badan usaha itu belum mengantongi izin. Sifatnya masih permohonan, belum dikabulkan. Dengan begitu, disimpulkan aktivitas perdagangan yang dilakukan selama ini ilegal.

”Sementara yang ditetapkan satu tersangka dan pengembangan terhadap kasus ini akan terus dilakukan. Apabila ada pihak lain yang diketahui terlibat, tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka lain,” tegasnya.

Deddy mengimbau para pelaku usaha tidak melakukan kegiatan usaha dengan cara curang. Mengingat, pengungkapan pengoplosan beras ini merupakan pertama kali yang dilakukan Polres Sumenep. Para pelaku usaha tidak boleh melanggar hukum untuk mendapat keuntungan lebih banyak.

Kasatreskrim Polres Sumenep AKP Oscar Stefanus Setjo menambahkan bahwa butuh waktu tidak sebentar untuk menetapkan tersangka. Penetapan tersangka setelah melakukan pemeriksaan kepada 10 saksi ahli dan 4 saksi.

Keterangan saksi untuk mengaitkan kesesuaian fakta di TKP dengan pasal yang disangkakan. Latifa disangka pasal berlapis dengan ancaman hukuman total sebelas tahun penjara. Barang bukti dianggap lengkap. Namun, hasil uji labolatorium terhadap cairan pandan yang dicampurkan dengan beras belum keluar.

Oscar mengungkapkan, hasil pemeriksaan tidak ada yang mengaitkan dengan Affan Group. Bahkan, Affan Group belum diketahui sebagai identitas apa. Walaupun, label Affan Group tertera pada banner gudang UD Yudatama ART ketika penggerebekan.

”Affan Grup ini kita belum tahu, apakah ini perusahaan atau lembaga lain. Termasuk sudah berbadan hukum atau tidak. Tidak dilakukan pemeriksaan karena tidak ditemukan keterkaitan,” jelasnya.

Sebelumnya, Latifa mengklaim usaha yang dilakukan selama ini sesuai aturan.Semua persyaratan administrasi untuk perizinan usaha dikantongi. Pengoplosan beras petani dan beras Bulogjuga diklaim tidak melanggar hukum. Sesuai dengan standar kebutuhan pasar yang dibutuhkan konsumen.

Terkait dengan penyaluran bantuan, UD Yudatama ART juga ditunjuk menjadi supplier BPNT sejak 2019. Tahun lalu, dalam kontrak itu, beras yang bisa disalurkan kepada e-warung adalah beras medium. Tahun ini harus premium.

Latifa menegaskan, pada 2020 belum menjual beras. Semua masih tahap penawaran. Termasuk 10 ton beras yang disita belum terjadwal untuk pengiriman.

Karung beras yang ditujukkan polisi sebagai merek beras tertentu merupakan karung yang tidak pernah digunakan oleh penjual lain. Karung itu dibeli dari toko yang berizin.

Aktivitas pengoplosan beras itu digerebek polisi di gudang UD Yudatama ART Affan Group. Berada di Jalan Merpati 3/A, Desa Pamolokan, Kecamatan Kota Sumenep. Badan usaha tersebut diduga mencampur beras Bulog dengan beras petani. Kemudian, didistribusikan kepada pemesan di kepulauan. Total beras yang dijadikan barang bukti mencapai 16 ton 3,5 kuintal.

Pemilik usaha Latifa dan Islamil diamankan untuk diperiksa. Kepada polisi, pasangan suami istri ini mengaku telah melakukan aktivitas pengoplosan sejak 2018. Beras juga disemprot dengan cairan pandan untuk mengelabui konsumen. Dengan begitu, aroma beras tercium seperti beras premium.

Beras dibungkus dengan karung Ikan Lele Super dan beras Dua Putri kemasan 5 kg. Dari TKP, polisi menyita satu unit truk M 8267 V bermuatan 10 ton beras siap antar. Kemudian, 105 karung beras merek Bulog kemasan 50 kg (5.250 kg), 22 karung beras tanpa merek kemasan 50 kg (1.100 kg), dan 73 lembar karung beras Bulog.

Lalu, 63 lembar karung beras tanpa merek, timbangan duduk digital, mesin penjahit karung, 1 unit sekop, 1 alat semprotan manual, dan cairan warna hijau (pandan). Kini Latifa jadi tersangka. Sedangkan Islamil sebagai saksi. (jun)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia