alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Pamekasan
icon featured
Pamekasan

Perpustakaan Tutup, Warga Binaan Dijemur

19 Maret 2020, 13: 12: 07 WIB | editor : Abdul Basri

PENGOBAT RINDU: Napi berbincang dengan keluarganya melalui sambungan video call di Lapas Narkotika Kelas II-A Pamekasan kemarin.

PENGOBAT RINDU: Napi berbincang dengan keluarganya melalui sambungan video call di Lapas Narkotika Kelas II-A Pamekasan kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Pamekasan siap menutup layanan. Sebelum keluar surat edaran bupati Pamekasan untuk antisipasi Covid-19 pada Senin (16/3), DPK sudah melakukan survei.

Survei dilakukan 15 hingga 18 Maret. Survei online melalui aplikasi Kunang-Kunang tersebut melibatkan 592 responden. Survei dimulai melalui perangkat milik responden yang terhubung dengan jaringan internet di DPK.

Kepala DPK Pamekasan Budi Ashari menyampaikan, survei tersebut cukup penting dilakukan sebagai landasan kebijakan. Akhirnya muncul pengumuman dari DPK bahwa pada Rabu (28/3) tutup.

Dari total responden, 317 orang tidak bersedia merespons. Sebanyak 90 orang tidak mengirimkan jawaban dan 185 bersedia merespons dengan mengirim jawaban. Dua pertanyaan dalam survei tersebut. Pertama, apakah pemustaka setuju bila DPK ditutup untuk sementara waktu? Sebanyak 75 mengatakan setuju dan 110 tidak setuju.

Pertanyaan kedua, berapa lama waktu tutup perpustakaan yang ideal menurut pemustaka. Sebanyak 155 pemustaka menjawab sebaiknya DPK menutup layanan selama sepekan. Kemudian, 30 pemustaka menjawab sebaiknya dua pekan.

”Nanti kita akan lakukan trial and error juga. Ketika kita masih aman dalam kondisi ini, dalam masa inkubasi satu minggu kita buka setengah hari. Dengan catatan, Pamekasan tidak ada kasus Covid-19,” tambahnya.

Pelayanan buku untuk pemustaka dialihkan ke kanal-kanal e-library. Ketersediaan buku di e-library berjumlah ribuan. Mulai ke aplikasi E-Maos Pamekasan juga ke Ipusnas. ”Pemustaka bisa melalui perpustakaan digital,” lanjutnya.

Sebelum wabah Covid-19, kunjungan pemustaka ke DPK setiap hari sekitar 300 orang. Untuk itu, dalam survei yang dilakukan DPK, banyak responden yang menolak penutupan perpustakaan.

Salah satu alasannya, masih banyak tugas dan ingin menyelesaikan skripsi. ”Lebih baik tidak ditutup, karena banyak referensi yang perlu dicari. Banyak mahasiswa yang mau skripsi dan butuh referensi,” kata salah seorang responden dalam survei usulan.

Selain itu, banyak responden yang meminta agar DPK menyediakan alat-alat yang bisa mencegah Covid-19. ”Salah satu contoh, menyediakan masker dan memperketat pengamanan,” usul yang lain.

Sementara ada juga yang setuju bila perpustakaan ditutup demi kenyamanan dan kesehatan bersama. ”Sementara tutup saja demi kebaikan bersama,” bunyi responden yang lainnya.

Lapas Narkotika Kelas II-A Pamekasan juga meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Covid-19. Seluruh warga binaan pemasyarakatan (WBP) sepakat tidak menerima kunjungan.

Pantauan Jawa Pos Radar Madura (JPRM), keluarga napi dan tahanan masih berkunjung. Sebelum masuk area lapas, mereka harus melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan secara ketat.

Di antaranya, pengecekan suhu tubuh. Lalu, disemprot disinfektan untuk memastikan tidak ada virus menempel. Kemudian, cuci tangan menggunakan hand sanitizer yang disediakan lapas.

Kepala Lapas Narkotika Kelas II-A Pamekasan Hernowo Sugiastanto mengatakan, pasca merebaknya virus korona, langkah antisipasi langsung dilakukan. Di antaranya, empat blok hunian disemprot disinfektan.

Kemudian, seluruh WBP wajib berjemur setiap pagi. Tujuannya, jika ada benih virus di tubuhnya bisa mati. Sebab, virus pandemi yang menyerang ratusan negara di dunia itu diyakini bisa mati jika terkena panas.

Tiap blok hunian napi disiapkan wastafel. Tiap 20 menit seluruh penghuni lapas wajib cuci tangan. ”Langkah antisipasi ini kami lakukan untuk mencegah penyebaran virus korona,” katanya kemarin (18/3).

Pria asal Cilacap itu menyampaikan, pihak lapas tidak menutup jadwal kunjungan. Tetapi, seluruh WBP sepakat untuk tidak menerima kunjungan selama sepekan. Kesepakatan tersebut diambil setelah 969 napi dan tahanan tahu bahaya korona.

Kesepakatan itu sekarang masih secara lisan. Dalam waktu dekat, seluruh WBP diminta menyetor kesepakatan secara tertulis. ”Pernyataan secara tertulis nanti akan dikoordinasi oleh klebun masing-masing,” katanya.

Lapas Narkotika Kelas II-A Pamekasan memiliki empat blok hunian. Tiap blok ada koordinator yang disebut klebun. ”Jadi (larangan tidak berkunjung) itu bukan dari kami, tapi kesepakatan WBP,” sergahnya.

Hernowo mengatakan, napi tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga. Pihak lapas menyiapkan fasilitas video call. Selama napi tidak menerima kunjungan, komunikasi bisa dilakukan melalui telepon itu.

Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jatim Krismono mengatakan, belum ada kebijakan pembatasan pengunjung. Tetapi, kewaspadaan terhadap penyebaran virus mematikan itu terus ditingkatkan. Di antaranya, suhu badan pengunjung dicek dan wajib cuci tangan. ”Semoga virus ini tidak masuk lapas,” harapnya. (ky)

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia