alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Sastra & Budaya
icon featured
Sastra & Budaya

Masyarakat Santri Pesisiran Bedah Buku Peraih Rancage

17 Maret 2020, 18: 54: 24 WIB | editor : Abdul Basri

GAYENG: Dari kiri, Fayat Muhammad, Amin Bashiri, Lukman Hakim AG., dan Mat Toyu membedah buku Kerrong ka Omba’ di Desa Beraji, Kecamatan Gapura, Senin (16/3).

GAYENG: Dari kiri, Fayat Muhammad, Amin Bashiri, Lukman Hakim AG., dan Mat Toyu membedah buku Kerrong ka Omba’ di Desa Beraji, Kecamatan Gapura, Senin (16/3). (RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Buku cerita pendek (cerpen) berbahasa Madura peraih hadiah Rancage Kerrong ka Omba’ mendapat apresiasi pegiat seni. Apresiasi itu terungkap dalam Kompolan Ahad Kalebun Ke-97 Masyarakat Santri Pesisiran (MSP) Minggu (15/3). Agenda rutin tersebut digelar di Desa Beraji, Kecamatan Gapura.

Bedah buku itu dihadiri Mat Toyu selaku penulis, Pemred Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim AG., dan aktivis Lembaga Kajian Seni Budaya Pangesto Net-Think Community Sumenep Amin Bashiri sebagai pembanding. Diskusi berlangsung cair sekaligus menjadi forum tukar gagasan pelestarian dan pengembangan sastra Madura.

Kerrong ka Omba’ merupakan kumpulan careta pandha’ (carpan) kedua Mat Toyu. Buku yang dirilis 2019 ini memuat 17 cerita, 14 di antaranya pernah terbit di media. Perinciannya, 11 cerpen pernah tayang di JPRM dan sisanya dimuat di majalah Jokotole. ”Dua cerpen yang lain baru terbit dalam buku ini,” jelas Toyu.

Pada 2016, Toyu juga menerbitkan buku cerpen Embi’ Celleng Ji Monentar. Buku bersampul merah ini memuat sembilan cerpen. Delapan di antaranya pernah terbit di JPRM. ”Toyu merupakan salah satu generasi muda Madura yang kreatif dan produktif melahirkan karya sastra berbahasa Madura,” ungkap Lukman Hakim AG.

Sementara itu, Amin Bashiri menilai, Kerrong ka Omba’ merupakan serpihan kehidupan masyarakat yang berhasil dihimpun dan diracik oleh Toyu. Menurut Amin, Toyu berhasil mengais khazanah kehidupan masyarakat yang sebenarnya biasa didengar dan dilakukan. ”Namun, tidak semua orang bisa menangkap peluang dan membidik kekayaan itu,” jelas Amin. 

(mr/luq/yan/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia