alexametrics
Minggu, 05 Apr 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

KH. Abdul Hamid Mannaf Munif Ajak Masyarakat Tak Panik Berlebihan

17 Maret 2020, 17: 49: 13 WIB | editor : Abdul Basri

TENANG: Pendiri Ponpes Sabilul Ihsan di Desa Teja Timur, Kecamatan Kota Pamekasan, KH. Abdul Hamid Mannaf Munif saat ditemui kemarin.

TENANG: Pendiri Ponpes Sabilul Ihsan di Desa Teja Timur, Kecamatan Kota Pamekasan, KH. Abdul Hamid Mannaf Munif saat ditemui kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

coronavirus disease (Covid-19) memang telah menjangkiti sebagian kecil orang di Indonesia. Untungnya, di Madura belum ada yang terpapar hingga kemarin (16/3). Masyarakat diminta tidak panik dan resah berlebihan.

PONPES Sabilul Ihsan di Desa Teja Timur, Kecamatan Kota Pamekasan, tampak lebih tenang dari hari biasanya. Sejumlah santri mondar-mandir di halaman pondok.

KH. Abdul Hamid Mannaf Munif, sang pendiri ponpes, terlihat santai di kediamannya. Kedua tangannya sibuk mengutak-atik telepon pintar yang digenggam. Sesekali, raut wajah kiai karismatik itu serius membaca informasi yang dipandangi.

Mustasyar PC NU Pamekasan itu update informasi tentang virus korona. Bagi Kiai Hamid, wabah virus itu bukan kali pertama terjadi di Indonesia. Semasa dia kecil, penyebaran virus yang tak kalah mematikan juga pernah terjadi.

Yakni, virus kolera dan pes yang penyebarannya melalui tikus. Masyarakat diminta tidak panik dan resah. Kegiatan yang tidak membutuhkan kontak fisik dengan orang lain tetap harus dijalankan dengan normal.

Rasa khawatir dan cemas lumrah terjadi. Tetapi, jangan sampai mengabaikan ibadah. Sebab, penyakit apa pun yang turun di muka bumi pasti ada obatnya. ”Ketika kita sakit, maka Allah yang akan memberikan obat,” katanya kemarin (16/3).

Masyarakat diminta tetap tenang. Anjuran pemerintah menjaga pola hidup sehat harus diikuti dengan baik. Semisal, membiasakan mencuci tangan, makan makanan sehat, dan terus berdoa meminta pertolongan Allah.

Kebijakan pemerintah meliburkan sekolah dinilai sangat tepat. Kebijakan tersebut untuk menghindari penyebaran virus pademi itu. Ajaran Islam menyebutkan, menolak kerusakan atau menolak kemudaratan didahulukan daripada meraih kemaslahatan.

Meliburkan sekolah dan isolasi adalah bagian dari menolak kemudaratan. Dengan demikian, masyarakat diminta tenang dan senantiasa mengikuti anjuran serta kebijakan pemerintan untuk kebaikan bersama.

Kiai Hamid Mannan menyampaikan, isolasi juga bagian anjuran agama. Nabi Muhammad pernah bersabda, jika suatu tempat terjadi wabah penyakit, maka orang luar tidak boleh masuk dan orang yang ada di tempat itu tidak boleh keluar ke tempat lain.

Harapannya, wabah penyakit tersebut tidak meluas dan menular kepada orang banyak. Sama seperti korona, beberapa negara menerapkan isolasi dengan tujuan agar dampaknya tidak meluas. ”Jaga kesehatan itu penting,” dawuhnya.

Kiai yang mengenakan pakaian serbaputih itu menyampaikan, kegiatan keagamaan seperti istigotsah dan salawatan bisa digelar lebih intens. Tujuannya, memohon pertolongan Allah dari wabah virus mematikan itu.

Pada zaman terdahulu, jika terjadi wabah penyakit, masyarakat muslim biasanya menggelar salawatan keliling. Tujuannya, mengajak masyarakat lainnya juga meminta syafaat Nabi Muhammad agar terhindar dari penyakit itu.

Pemerintah bisa mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kegiatan keagamaan seperti yang dilakukan masyarakat terdahulu. Harapannya, virus mematikan asal Wuhan, Tiongkok, itu tidak mewabah di Pamekasan dan Madura pada umumnya.

”Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali juga menurunkan obatnya. Maka dari itu, masyarakat jangan panik, jangan resah, jangan cemas, cukup jaga pola hidup sehat dan terus meminta pertolongan Allah,” sarannya.

(mr/pen/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia