alexametrics
Kamis, 02 Apr 2020
radarmadura
Home > Features
icon featured
Features

Potensi Pendapatan Negara di Tengah Candu Minuman Berpemanis

14 Maret 2020, 08: 06: 10 WIB | editor : Haryanto

Potensi Pendapatan Negara di Tengah Candu Minuman Berpemanis

Share this      

MINUMAN berpemanis menimbulkan tingkat kecanduan setara narkotika. Temuan itu hasil penelitian ahli kesehatan di Luke’s Mid America Heart Institute.

Level hormon dopamin atau kecanduan di otak akibat gula mengalahkan garam bahkan nikotin. Sadar atau tidak, jika sudah terbiasa hidup dengan yang manis-manis, sulit mengucapkan selamat tinggal, benar bukan?

Di sinilah negara ambil posisi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berencana mengenakan cukai terhadap minuman manis atau minuman ringan. Kebijakan tersebut disampaikan oleh Sri Mulyani kepada para pimpinan dan anggota Komisi XI DPR RI pada Rabu (19/02/2020).

Sri Mulyani dalam rapat kerja menyampaikan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi konsumsi barang yang dianggap sebagai penyebab utama diabetes karena tujuan utama cukai minuman manis ini adalah menyehatkan masyarakat dari potensi penyakit degeneratif seperti diabetes dan obesitas.

Sri Mulyani mengatakan bahwa penderita diabetes melitus di atas usia 15 tahun meningkat cukup tajam dari 1,5 persen di 2013 menjadi 2 persen akibat minuman berpemanis ini.

Hal inilah yang kemudian Sri Mulyani anggap dapat menjadi beban bagi keuangan BPJS Kesehatan, dan mau tidak mau BPJS Kesehatan terus jebol akibat penyakit degeneratif seperti diabetes dan obesitas.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut bahwa pengenaan cukai pada minuman ringan ini berpotensi meningkatkan penerimaan negara.

Sesuai data tahun 2015, produksi minuman berpemanis sekitar 5.900 juta liter, potensi cukainya mencapai 6,25 triliun rupiah. Apalagi, masyarakat minimal belanja minuman manis 2 persen dari pengeluaran bulanan.

Apakah semua ini akan diterima dengan mudah? Belum tentu, karena tanggapan tersebut ditolak oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman.

Menurut dia, rencana tersebut dapat menurunkan pendapatan pajak negara. Alasannya, pengusaha justru tidak setuju dengan rencana tersebut, mereka menilai pengenaan cukai akan menambah beban karena apabila harga naik.

Tentu saja berimbas pada daya beli masyarakat hingga akhirnya menurunkan penjualan para pelaku usaha dan nantinya akan berpengaruh pada pendapatan pajak. Alasan lainnya, belum ada data yang menunjukkan pengenaan cukai bisa menurunkan penyakit diabetes dan obesitas.

Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan tingkat penderita diabetes dan obesitas, antara lain mengedukasi konsumen, melakukan reformulasi produk.

Termasuk mencari alternatif pemanis lain karena semua ini juga berhubungan dengan pola pikir konsumen untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi minuman berpemanis.

Minuman berpemanis yang akan dikenakan cukai ini dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti teh kemasan, minuman berkarbonasi, dan minuman berpemanis lainnya. Tarif cukai yang diusulkan oleh Sri Mulyani adalah Rp 1.500 per liter untuk teh kemasan.

Untuk produk minuman berkarbonasi Rp 2.500 per liter. Kalau dilihat potensi penerimaan, minuman berpemanis penjualannya mencapai Rp 2,1 juta, terutama untuk teh berpemanis.

Jika tarif cukai yang dipungut sebesar Rp 1.500 per liter, Sri Mulyani memperkirakan potensi penerimaan pemerintah dari cukai bisa tembus hingga Rp 2,7 triliun. Semua minuman kemasan yang mengandung gula dipastikan akan kena cukai baru.

Namun, Sri Mulyani mengutarakan bahwasanya pemerintah akan memberikan pengecualian bagi minuman produksi nonpabrikasi, UMKM, madu dan jus sayur tanpa gula, dan barang diekspor yang mudah rusak dan musnah. (*)

oleh: Widya Cita Pramesti

Mahasiswi Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Muhammadiyah Malang

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia