Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Features

Tekad Suparman Rumanto Lestarikan Topeng Dalang

Kenalkan pada Generasi Milenial

13 Februari 2020, 10: 10: 26 WIB | editor : Abdul Basri

LESTARIKAN WARISAN LELUHUR: Pembina Sanggar Madusekar Suparman Rumanto (kiri) bersama dalang Sudirman di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (11/2).

LESTARIKAN WARISAN LELUHUR: Pembina Sanggar Madusekar Suparman Rumanto (kiri) bersama dalang Sudirman di Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (11/2). (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Pamekasan kaya warisan seni dan budaya. Salah satunya topeng dalang. Kesenian yang mati puluhan tahun itu kembali dihidupkan.

IRAMA gamelan terdengar sayup di Jalan Masjid Bagandan, Kelurahan Jungcangcang, Kecamatan Kota Pamekasan, Selasa (11/2). Bunyi rintik hujan seirama dengan simfoni alat musik klasik itu. Sesekali juga terlihat kilat di langit.

Kuda besi yang dikendarai RadarMadura.id menepi di salah satu pintu masuk rumah. Rumah itu bertulis Sanggar Madusekar. Musik gamelan yang berhasil membuat debar jantung meronta itu lahir dari rumah itu.

Halamannya asri dan rindang. Pepohonan tumbuh subur di sekitar rumah. Sejumlah alat musik tradisional seperti gamelan dan gong tertata rapi. Puluhan topeng berjejer rapi di etalase kaca yang terletak di teras rumah itu.

Sementara si penghuni rumah berada di tengah gamelan. Pemilik rumah itu adalah Suparman Rumanto. Pria 66 tahun itu menginisiasi topeng dalang dihidupkan kembali setelah mati puluhan tahun.

Suparman mengatakan, topeng dalang kesenian asli Pamekasan. Penciptanya adalah Pangeran Suhra dari Keraton Jambringin, Proppo. Pada masanya, topeng dalang menjadi hiburan keraton hingga rakyat.

Pada 1925 masehi, topeng dalang mulai diajarkan kepada masyarakat. Salah satu warga yang mendalami kesenian itu adalah Sabidin. Warga Sumenep yang berguru langsung pada Pangeran Nimprang, keturunan Pengeran Suhra.

Topeng dalang kemudian berkembang pesat di Sumenep sampai sekarang. Kesenian asli Bumi Ratu Pamelingan itu juga berkembang di Situbondo. Pada masa kejayaan seni topeng dalang, Sabidin memiliki murid bernama Kerteh asal Situbondo.

Kerteh mengembangkan topeng dalang di Situbondo. Sampai sekarang, topeng dalang terkenal di kabupaten tersebut dengan sebutan Topeng Kerteh. ”Pangeran Nimprang punya murid namanya Sabidin, Sabidin punya murid namanya Kerteh,” katanya.

Ironisnya, topeng dalang mati di Pamekasan. Kesenian tradisional itu kali terakhir muncul di hadapan publik sekitar 1960. Setelah itu, tidak ada lagi pertunjukan kesenian warisan leluhur tersebut.

Sangat jarang masyarakat mengetahui topeng dalang. Bahkan, kesenian tersebut berkembang pesat di Sumenep. Sejak 2018, Suparman mulai menghidupkan kembali topeng dalang.

Dia mendatangi sesepuh topeng dalang di Sumenep untuk meminta izin menghidupkan kembali di Sumenep. Permohonan izin itu disambut baik karena kesenian itu memang tercipta di Pamekasan.

Beberapa upaya dilakukan untuk melestarikan topeng dalang. Di antaranya, menggelar pementasan secara mandiri. Kemudian, menggandeng generasi milenial seperti siswa dan mahasiswa.

Kemudian, komunitas pencinta seni dan keraton di luar Madura juga digandeng. Harapannya, topeng dalang kembali berjaya dan menjadi hiburan masyarakat Madura. ”Kami bekerja sama juga dengan perguruan tinggi,” katanya.

Suparman menyampaikan, topeng dalang warisan leluhur. Identitas warga. Dengan demikian, kesenian itu wajib dikenalkan kepada generasi milenial agar dilestarikan. Apalagi, dalam lakon topeng dalang tersirat pesan bijak dan mendidik.

Selain menjadi tontonan, kesenian itu juga sebagai bahan edukasi. Suparman bertekad untuk terus mengembangkan topeng dalang. ”Setelah Wali Sanga masuk, ada pesan religius yang disampaikan melalui kesenian,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia