Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Features

Jokowi Bakal Bangun Terowongan Toleransi, Warga Sumenep Surati Stafsus

11 Februari 2020, 17: 09: 23 WIB | editor : Haryanto

Kolase foto Ayu Kartika Dewi dan Moh Syahri.

Kolase foto Ayu Kartika Dewi dan Moh Syahri. (Istimewa)

Share this      

Assalamu'alaikum Kak Ayu.......

NAMA kak Ayu Kartika Dewi tidak asing bagi saya. Sejak saya ikut mengampanyekan gerakan toleransi, Islam moderat di berbagai wilayah, nama kak Ayu selalu mengemuka.

Kiprahnya luar biasa dan tak diragukan. Tujuh tahun bergelut dan menginisiasi gerakan seribu anak bangsa merantau untuk kembali (Sabang-Merauke). Pantas diangkat stafsus milenial Presiden Jokowi.

Saya bangga, Pak Jokowi pada periode kedua ini mengangkat tujuh stafsus milenial. Mereka mewakili gagasan-gagasan anak muda untuk menjadi teman ngobrol Pak Jokowi.

Semoga kak Ayu sudah ngobrol dengan Pak Jokowi tentang terowongan toleransi itu. Kalau pun tidak, minimal sudah mendengar wacana pembuatan terowongan tersebut.

Kalau nggak dengar, ya parah, wa nauzubillah min dzalik. Tapi saya husnudzan saja dan yakin, kak Ayu pasti dengar. Semoga kak Ayu juga bisa menjadi mitra kritis sekaligus teman ngobrol asyik milenial.

Saya meyakini, Pak Jokowi mengangkat stafsus milenial di bidang toleransi karena menyadari betul betapa Indonesia masih darurat toleransi. Lebih-lebih di era reformasi.

Tapi mohon maaf kak, mengenai wacana pembuatan terowongan toleransi, bukankah itu hanya simbol belaka. Saya masih bingung, apa hubungan terowongan dan toleransi.

Kalau infrastruktur jalan, mungkin masih bisa diterima karena untuk mengoneksikan antar daerah. Tapi infrastruktur dengan toleransi apa hubungannya?

Kak Ayu, saya yakin anda masih punya pemikiran yang sangat visioner-progresif tentang toleransi, tidak mentok di bagian simbol saja. Imajinasi tentang toleransi melalui terowongan bukan langkah konkret menekan tindakan intoleransi.

Bahkan jauh dari cara-cara yang kongkret. Kak Ayu, saya rasa ini perlu diobrolkan lebih intens dengan Pak Jokowi.

Kak Ayu termasuk orang yang memiliki segudang prestasi dan pengalaman tentang kelompok masyarakat intoleran. Itu menjadi magnet untuk mencari solusi terbaik.

Saya rasa Kak Ayu juga tahu betul penyebab-penyebab intoleransi di negeri ini. Itu pernah dikatakan Kak Ayu sendiri, pendidikan budi pekerti kita masih minim.

Masih tataran filosofis-normatif. Diakui atau tidak, kita masih sulit menerapkan sikap toleran. Ini kalau dari sisi pendidikannya. Tapi itu tidak cukup kak, sekali pun pendidikan itu hal yang fundamental.

Sebab, kakak juga pernah bilang kalau toleransi itu tidak cukup bicara koridor agama. Tapi juga melibatkan koridor etnis, sosial dan ekonomi.

Kalau itu benar, lantas, apa maksud dan tujuan yang ingin dicapai dari proyek besar itu. Anggarannya Rp 475 miliar. Dan itu sama sekali tidak menyentuh nilai sosial ekonomi, apalagi koridor etnis.

Ya sama dengan buang-buang anggaran. Apa tidak lebih baik membangun sumber daya manusia di bidang pendidikan misalkan. Kan itu salah satu penyebabnya pendidikan budi pekerti kita tidak maksimal.

Ditambah, tidak sedikit guru agama yang memiliki pemahaman bahwa jihad agama sebatas perang. Kan parah kalau begitu?.

Sebenarnya, ada perkara serius di negeri ini mengenai intoleransi yang diharapkan bisa diselesaikan secara resolutif-permanen. Misalnya, pembakaran gereja di Aceh, pelarangan pendirian gereja di Yogyakarta dan di Semarang.

Pendirian gereja juga harus ada ijin dari RT hingga gubernur. Entah ini termasuk penindasan atau birokrasinya berbelit-belit. Jemaat gereja tidak nyaman beribadah karena intimidasi.

Ini hal yang sangat urgent untuk segera diselesaikan. Biar toleransi beragama tidak hanya sekadar jadi fantasi saja, seperti yang dikatakan Human Rights Watch (HRW) pada tahun 2017.

Kak Ayu telah diangkat menjadi stafsus milenial di bidang toleransi. Ini kesempatan besar berbicara langsung dengan Pak Jokowi. Saya yakin, Pak Jokowi akan mendengar pendapat Kak Ayu untuk menyelesaikan intoleransi di negeri ini.

Kak Ayu, kalau rencana membuat terowongan toleransi terus berlanjut, saya khawatir apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam sebuah kesempatan menjadi kenyataan.

"Semua manusia di planet ini, bahwa konsumsi, pemborosan dan pengrusakan lingkungan telah melampaui kapasitas (planet, Red). Gaya hidup seperti ini akan berujung pada bencana," tegas Paus Fransiskus.

Yang terakhir, saya berharap akan ada banyak ruang komunikasi berlanjut. Kita masih sama-sama muda yang senang berdiskusi. Terima kasih kak Ayu. (*)

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabaratuh

Sumenep, 11 Pebruari 2020

Moh Syahri (Pemuda desa, yang merindukan kenyamanan hidup beragama)

DISCLAIMER: Tulisan ini juga dimuat di akun FB Moh Syahri bertajuk "Surat untuk Kak Ayu Kartika Dewi, Stafsus Milenial Jokowo-KMA bidang Toleransi".  (redaksi)

(mr/*/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia