Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Features

Duet Yulianti-Indrawahyuni Menerbitkan Buku Fantasi

Menulis Cerita Anak Lebih Punya Tantangan

31 Januari 2020, 07: 10: 20 WIB | editor : Abdul Basri

AKRAB: Yulianti (kiri) dan Indrawahyuni menunjukan buku Istana di Atas Awan di lobi SMPN 1 Sumenep kemarin.

AKRAB: Yulianti (kiri) dan Indrawahyuni menunjukan buku Istana di Atas Awan di lobi SMPN 1 Sumenep kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

Menjadi guru tidak menjadi hambatan untuk terus berkarya. Yulianti dan Indrawahyuni misalnya. Mereka baru saja merilis buku Istana di Atas Awan yang ditulis bersama.

JUPRI, Sumenep, RadarMadura.id

PULUHAN siswa berseragam olahraga lalu-lalang ketika RadarMadura.id sampai di halaman SMPN 1 Sumenep kemarin (30/1). Semangat dalam menjalankan aktivitasnya terpancar di wajah mereka. JPRM kemudian menuju ruang lobi. Ratusan piala tertata rapi di ruang itu. Buku-buku bacaan juga tersedia. Mulai dari buku bacaan anak, antologi puisi hingga majalah.

Tidak berselang lama, seorang guru datang. Dia Indrawahyuni, salah satu penulis buku cerita fantasi anak berjudul Istana di Atas Awan. Dia sedikit bercerita mengenai karya yang ditulis bersama Yulianti.

Beberapa menit kemudian, Yulianti juga hadir di tengah perbincangan kami. Perempuan yang mengajar di SMPN 1 Dasuk itu menjadi pelengkap asal muasal buku tersebut ditulis.

Sejak kanak-kanak Yuli memang memiliki minat baca tinggi. Dari situ, ide dan imajinasinya mulai terbangun. Di bangku SMA dia aktif menulis lewat majalah sekolah. Bakatnya itu kian terasah sejak karyanya sering terbit di majalah Anita dan Aneka.

Yuli juga aktif menulis di lembaga pers kampus kala menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang (UM). Namun, aktivitas menulisnya sempat dia tinggalkan saat lulus dan mengajar di SMPN 1 Arjasa, Pulau Kangean, selama 6 tahun.

Gairah menulisnya kembali terbangun saat dimutasi ke daratan pada 2015. Dari situlah, buku pertama yang dikarang bersama temannya diterbitkan dengan judul Garuda Terbang. Kemudian, buku kedua, cerita pendek (cerpen) tentang pengalaman mengajar di Pulau Kangean selama 6 tahun berjudul Layar Berselimut Maut.

Perempuan kelahiran 1982 itu mengutarakan, buku Istana di Atas Awan karya pertama cerita fantasi anak yang dia terbitkan. Keinginan itu muncul karena buku paket fantasi anak tidak banyak. Padahal itu salah satu materi yang diajarkan di bangku SMP.

Keinginan itu semakin kuat saat tawaran menulis berkolaborasi dengan Indrawahyuni. Bahkan, Yuli dan Indra memasang target khusus untuk menuntaskan penulisan buku itu. Tetapi, baru bisa diluncurkan di SMPN 6 Sumenep Selasa (28/1).

Meski aktif sebagai penulis, Yuli mengakui tidak mudah menulis cerita fantasi anak. Sebab, dalam proses penulisan harus mengaktualisasikan sebagai anak. Sementara usianya sudah tidak lagi muda.

”Menulis buku anak itu lebih sulit dibandingkan menulis buku percintaan. Kita harus masuk ke dunia anak, dan bagaimana buku ini bisa diterima sesuai dengan kebutuhan anak-anak,” ucap Yuli yang pernah mengikuti program Ayo Menulis JPRM.

Profesinya sebagai guru cukup banyak membantu untuk memahami kebutuhan anak-anak. Sebab, kesehariannya bersinggungan dengan anak, membuat dirinya dan Indra memahami kebutuhan anak dalam membaca. Seperti narasi yang tidak terlalu panjang dan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.

Yuli berharap melalui buku yang ditulisnya dapat meningkatkan budaya literasi yang semakin menurun. Launching di forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) bahasa itu juga diharapkan menjadi rangsangan kepada pendidik yang lain untuk terus berkaya melalui tulisan. Terlebih, karya tulis dapat mendatangkan keuntungan. ”Mereka pasti bisa menulis,” kata perempuan yang aktif di Rumah Literasi Sumenep tersebut.

Situasi sulit dalam membuat cerita fantasi anak juga dialami Indrawahyuni. Padahal sudah banyak novel dan cerpen yang dilahirkan. Dia menerima tantangan Yuli karena tergugah ingin menulis cerita fantasi anak yang tidak pernah dilakukan.

”Saya kaget saat ditawari menulis cerita fantasi anak karena basis saya di cerpen dan novel,”  tutur perempuan yang aktif di komunitas Kata Bintang itu.

Kesulitan itu, lanjut Indra, karena dirinya harus kembali menempatkan posisinya sebagai anak. Sementara usia sudah hampir 50 tahun. Jadi ketika Yuli sudah mendapat 4 bab, dirinya baru bisa menulis 1 bab. Dalam Istana di Atas Awan Yuli dan Indra masing-masing menulis 10 judul.

Tetapi Indra tidak patah semangat. Anak dan cucunya menjadi media menyusun cerita itu. Tentunya cerita anak yang dituliskan tidak mengesampingkan pesan moral. Satu judul yang paling berkesan dalam cerita yang ditulis, yaitu cerita tentang bulan.

Bab itu menggambarkan pengalaman kecilnya yang sering diucapkan sang nenek. Yaitu, anak nakal akan dilempar ke bulan. ”Ketika saya kecil, nenek menakut-nakuti anak yang nakal akan dilempar ke bulan. Kala itu saya takut, bagaimana kalau bisa benar-benar ada di bulan,” kenangnya. (*)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia