Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Sampang

PPI Dunia Belajar Sejarah Sampang

31 Januari 2020, 07: 07: 56 WIB | editor : Abdul Basri

ANTUSIAS: Anggota PPI Dunia mendengarkan penjelasan dari gaet tentang koleksi benda sejarah di Wamas Disarpus Sampang kemarin.

ANTUSIAS: Anggota PPI Dunia mendengarkan penjelasan dari gaet tentang koleksi benda sejarah di Wamas Disarpus Sampang kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang tersebar di berbagai negara berkunjung ke wisata arsip masyarakat (wamas) Disarpus Sampang kemarin (30/1). Rombongan yang terdiri atas mahasiswa itu belajar sejarah dari koleksi foto benda-benda bersejarah.

Kepala Divisi Gerakan Komisi Pendidikan PPI Dunia Andika Ibrahim Nasution mengatakan, sejarah merupakan gambaran keadaan atau kondisi masyarakat terdahulu. Hal itu sangat penting untuk dilestarikan. Sebab, sejarah bisa memberikan banyak pelajaran bagi generasi berikutnya.

”Dari sebuah sejarah kita bisa membandingkan zaman dulu dengan kondisi sekarang. Dari situ kita bisa banyak mengambil pelajaran,” katanya usai melihat koleksi benda-benda bersejarah di wamas.

Menurutnya, langkah yang dilakukan Pemkab Sampang sudah tepat. Yakni, dengan mengambil intisari benda-benda bersejarah yang tersebar di pelosok desa. Kemudian, disajikan dalam bentuk foto. Dengan begitu, masyarakat Sampang bisa mengetahui gambar serta makna dari benda-benda bersejarah tersebut.

”Dari benda sejarah ini kita bisa menilai bagaimana orang-orang terdahulu hidup di negeri ini, khususnya di Sampang,” ujar mahasiswa International Islamic University Malaysia (IIUM) itu.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kumpulan koleksi foto di wamas. Di antaranya, sejarah yang menjadi latar belakang munculnya Air Terjun Toroan. Dari situ masyarakat bisa belajar tentang harmonisasi dalam hubungan keluarga.

Di samping itu, Andika mengaku terkejut ketika mendengar cerita tentang sumpah pocong. Di zaman yang serba digital ini, dia beranggapan bahwa tradisi sumpah pocong sudah tidak diterapkan di tengah masyarakat. ”Ngeri kalau sudah berhubungan dengan kalimat qasam (sumpah). Apalagi seperti sumpah pocong. Sebab, yang diucapkan kalimat yang sakral,” jelasnya.

Karena itu, tidak semua sejarah yang diterapkan masyarakat harus diaplikasikan oleh generasi selanjutnya. Menurut dia, setiap sejarah memiliki nilai positif dan negatif. Hal itu perlu disaring terlebih dahulu. ”Sejarah ini bisa menjadi pelajaran kita dalam memajukan daerah. Makanya harus bisa memilah mana yang positif dan negatif,” tuturnya.

Rombongan PPI dunia terdiri atas 10 orang. Mereka akan tinggal di Kota Bahari selama empat hari. Selain belajar sejarah tentang Sampang, kumpulan mahasiswa dari berbagai kampus tersebut akan melakukan berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang didampingi komunitas Senyum Desa. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia