Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Sumenep

Warisan Budaya Minim Penerus, Pemerintah Harus Hadir

28 Januari 2020, 09: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

LESTARIKAN BUDAYA: Pelaku seni saat menampilkan aksinya pada acara Madura Awards 2019 di Keraton Sumenep beberapa waktu lalu.

LESTARIKAN BUDAYA: Pelaku seni saat menampilkan aksinya pada acara Madura Awards 2019 di Keraton Sumenep beberapa waktu lalu. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Perhatian generasi muda terhadap warisan budaya semakin memprihatinkan. Di Kabupaten Sumenep, pelestarian kebudayaan rata-rata dilakukan orang yang sudah usia lanjut. Misalnya, kebudayaan macapat dan saronen.

Sumudianto, 28, warga Desa Juluk, Kecamatan Saronggi, menyampaikan, sudah jarang menemukan pemuda belajar budaya macapat. Kesenian tarik suara dengan membaca kitab tertentu itu dianggap tidak menarik untuk dipelajari. Mereka beralasan sulit dipelajari dan tidak menguntungkan.

Tidak hanya macapat, kebudayaan musik saronen hampir tidak tersentuh oleh pemuda. Semua pemain yang masih aktif sampai sekarang mayoritas kalangan orang tua. Padahal, kebudayaan seperti sangat layak dipertahankan dan diwariskan secara turun-temurun.

”Sekarang itu masalahnya bukan tidak ada yang mau mengajarkan. Namun, ketertarikan dari pemuda itu sendiri yang enggan belajar kebudayaan tersebut. Coba saja perhatikan, tidak ada pembacaan macapat yang dilakukan oleh pemuda,” jelasnya.

Tidak ada solusi lain untuk melestarikan budaya kecuali dengan menularkan kepada pemuda. Pemerintah harus turut andil dalam mendeteksi kebudayaan yang minim peminat dari pemuda. Dengan begitu, mimpi buruk kehilangan budaya itu tidak benar-benar terjadi.

”Mungkin sudah terpengaruh zaman, pemuda tidak tertarik belajar budaya itu karena merasa tidak modern,” jelasnya.

Kabid Kebudayaan Disparbudpora Sumenep Robby Firmansyah tidak menampik dengan hal tersebut. Untuk itu, setiap pelaksanaan event besar, budaya-budaya tersebut selalu ditampikan. Tujuannya, mengenalkan kepada pemuda bahwa Sumenep memiliki ragam kebudayaan yang layak dilestarikan.

Tidak hanya macapat dan saronen, tari sandur juga hanya diperankan oleh para lansia. Kebudayaan tersebut memang belum dijadikan sebagai bahan ajar dalam lingkungan pendidikan formal. Biasanya mereka hanya mewariskan kepada pemuda di daerah mereka masing-masing.

”Kalau untuk dimasukkan kurikulum itu sudah bukan ranah saya, intinya kita tidak menutup mata dan akan terus berupaya untuk mengenalkan kebudayaan itu kepada masyarakat,” jelasanya. (jun)

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia