Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Features

R Muhammad bin Rachmad, Pendiri Padepokan Songgo Sukmo

Warisan Budaya dan Sejarah Harus Tetap Lestar

27 Januari 2020, 20: 40: 37 WIB | editor : Abdul Basri

BANGGA: R Muhammad bin Rachmad menunjukkan beberapa benda pusaka di rumahnya di Jalan Durinan Gang 2 Nomor 104 Bancaran, Bangkalan.

BANGGA: R Muhammad bin Rachmad menunjukkan beberapa benda pusaka di rumahnya di Jalan Durinan Gang 2 Nomor 104 Bancaran, Bangkalan. (HELMI YAHYA/RadarMadura.id)

Share this      

Kecintaan R Muhammad bin Rachmad pada benda-benda pusaka, budaya, dan sejarah Bangkalan tak surut. Pendiri Padepokan Songgo Sukmo ini mengajak pemuda agar terus melestarikan warisan leluhur.

HELMI YAHYA, Bangkalan, RadarMadura.id

PRIA yang akrab disapa Aang itu tinggal di Jalan Durinan Gang 2 Nomor 104 Bancaran, Bangkalan. RadarMadura.id menemuinya pada Jumat pagi (24/1). Banyak benda-benda pusaka dipajang di rumahnya.

Aang lahir di Bangkalan pada 11 Mei 1986 lalu. Dia merupakan pendiri Padepokan Songgo Sukmo. Padepokan tersebut mendidik banyak anggota untuk diajari jemparingan atau memanah hingga berprestasi.

Banyak pula anggotanya yang sudah mendirikan cabang sendiri. ”Saya selalu mengutamakan kedisiplinan dalam setiap latihan, agar mereka tahu bahwa kekuatan waktu dan kesadaran tanggung jawab juga penting,” terang alumnus SDN Bancaran 2 Bangkalan itu.

Aang mengaku sudah diajari tentang benda pusaka oleh kakek dan ayahnya sejak kecil. Dia sendiri mengoleksi benda pusaka sejak kelas 2 SMP.

Kecintaannya terhadap benda pusaka terus tumbuh. Salah satunya dengan terus menambah koleksi peninggalan sejarah. ”Saya kadang menghabiskan waktu untuk mencari benda sejarah di toko antik atau bahkan di tempat-tempat keramat,” ungkap lulusan SMPN 4 Bangkalan itu.

Aang bangga punya hobi mengoleksi benda pusaka. Sebab, dengan begitu dia dapat mewariskan terhadap anak cucu dan generasi muda betapa pentingnya merawat dan melestarikan kebudayaan.

Prestasi membanggakan pernah Aang raih. Yakni, pembuatan ikat kepala khas Madura barat (tongkosan) yang masuk dalam Rekor Muri. Penghargaan tersebut menambah kecintaannya pada budaya dan sejarah leluhur.

”Saya juga tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan berkelas semacam itu,” kata alumnus SMAN 3 Bangkalan tersebut.

Aang mengenal jemparingan melalui kakaknya, Muhammad Amin, yang masih memiliki garis keturunan Pangeran Trunojoyo. Menurut dia, jemparingan itu harus dilestarikan. Sebab, itu memang senjata khas Madura. ”Saya tertarik untuk melestarikan jemparingan ini karena memiliki kualifikasi khusus dan memang milik R Praseno (Pangeran Cakraningrat 1),” tegasnya.

Lagi pula, di Bangkalan juga belum ada. Maka dari itu, dia mendirikan Padepokan Songgo Sukmo sejak 2015 lalu. Harapannya, dapat menjadi padepokan yang digemari pemuda Bangkalan, sehingga membuat budaya Bangkalan lebih hidup.

Dia mulai mengenalkan jemparingan pada istrinya, R Ay Riska Fendita Ningrum dan tiga anak. Aang bangga anaknya dapat menjuarai beberapa perlombaan jemparingan tingkat provinsi. ”Saya diberikan karunia dan kebahagiaan lagi, saya percaya ini dari Allah, ini juga berkahnya merawat budaya leluhur,” tuturnya.

Dia berharap apa yang telah dilakukan menjadikan dirinya dan Bangkalan terus berkembang. Dengan demikian, tidak ada lagi sindiran bahwa Bangkalan tidak memiliki budaya. ”Saya akan tunjukkan bahwa Bangkalan punya banyak sekali budaya dan sejarah. Dan, harus disaksikan oleh masyarakat,” tegasnya.

Nantinya Padepokan Songgo Sukmo tidak hanya untuk jemparingan, akan terus dikembangkan. Dengan begitu, bisa mengakomodasi semua yang berhubungan dengan pelestarian budaya. ”Budayanya harus dilestarikan oleh kita sendiri, tidak mungkin diperiksa orang lain,” pungkasnya.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia