Sabtu, 22 Feb 2020
radarmadura
icon featured
Features

Bincang Potensi Wisata Pulau Garam dengan D. Zawawi Imron

Madura Ini Ketan, Dasarnya Memang Enak

22 Januari 2020, 22: 02: 58 WIB | editor : Abdul Basri

SI CELURIT EMAS: Budayawan D. Zawawi Imron saat berbincang di Hotel Front One.

SI CELURIT EMAS: Budayawan D. Zawawi Imron saat berbincang di Hotel Front One. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Alam Madura memiliki keindahan. Kaya seni dan budaya. Sangat potensial dikembangkan menjadi jujukan wisata.

PRENGKI WIRANANDA, Pamekasan, RadarMadura.id

TONGKAT hitam itu menciptakan bunyi saat mengentak lantai Hotel Front One di Jalan Jokotole kemarin (21/1). Tangan kiri pria berbaju putih menggenggam erat tongkat berujung besi kuning keemasan tersebut.

Puluhan pasang kaki melangkah mengikuti irama tongkat setinggi paha orang dewasa. Sesekali, si pria berbincang dengan orang yang mengikuti langkahnya. Senyum tersungging setiap menyapa yang berpapasan.

Pria itu bukan orang sembarang. Dia adalah D. Zawawi Imron. Budayawan sekaligus penyair internasional kelahiran Batang-Batang, Sumenep. Meski sudah menginjak usia senja, semangat membangun Madura terus berkobar.

Ratusan bait puisi lahir dari tangan dinginnya. Tidak sedikit di antara syair indah itu menceritakan Madura. Bagi pria yang lahir di tahun kemerdekaan Indonesia itu, Madura ibarat ketan. Dasarnya enak. Tinggal dikemas untuk menjadi hidangan yang lebih enak.

 Pak De –sapaan akrab D. Zawawi Imron– menuturkan, potensi Madura untuk dikembangkan menjadi jujukan wisata sangat besar. Tinggal warga mampu mengelola dan merias menjadi tempat yang menarik dikunjungi.

”Bahannya sudah bagus, ketan saja kalau masaknya tidak enak, ya tidak enak. Walaupun singkong, kalau dimasak enak, pasti enak. Madura ini ketan, dasarnya memang enak,” katanya kemarin (21/1).

Menurut pria yang dijuluki si Celurit Emas itu, masyarakat dan pelaku wisata harus punya lompatan kreatif dan kebersamaan dalam mengelola potensi Madura. Satu sama lain harus saling melengkapi kekurangan.

Masyarakat Pulau Garam harus bersatu. Mulai dari Sembilangan, Bangkalan, hingga Pulau Sakala, Sumenep, harus bersatu padu mengelola bongkahan surga itu menjadi lebih baik dan menarik.

Sangat banyak potensi alam yang mampu menarik perhatian pengunjung. Kekayaan seni dan budaya juga menjadi daya tarik tersendiri. Tinggal dikemas dan digalakkan lebih baik di hadapan publik.

Pertunjukan seni harus dikemas. Misalnya, ludruk tidak mungkin dipertontonkan semalam suntuk kepada wisatawan luar daerah. Dengan demikian, butuh kemasan lebih ringkas, tapi tidak menghilangkan nilai seni yang disampaikan.

Pak De menyampaikan, mendiang Edi Setiawan, budayawan sekaligus fotografer asal Sumenep, pernah mengemas pertunjukan seni lebih ringkas. Yakni, topeng Madura yang hanya dalam durasi 1–2 jam.

Pertunjukan seni yang digelar di Jakarta itu juga menggunakan bahasa Indonesia. Harapannya, penonton yang dari luar Pulau Garam paham alur cerita pertunjukan seni tersebut. ”Dibutuhkan orang kreatif,” tegasnya.

Pak De mengaku optimistis Madura akan maju dan berkembang di bidang pariwisata. Apalagi, melihat semangat anak muda yang mau menggalakkan wisata Madura. ”Saya sangat mendukung,” ucapnya.

Diharapkan, para anak muda itu saling mendukung dan mengisi kekurangan. Pak De yakin anak muda Madura cerdas dan pintar. Kecerdasan itu harus digunakan untuk bersatu dalam membangun Madura.

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia