Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Suka Duka Tim SAR Laut BPBD Sumenep Selama Bertugas

Berhadapan dengan Ombak seperti Menantang Mau

13 Januari 2020, 22: 20: 58 WIB | editor : Abdul Basri

DEMI KEMANUSIAAN: Petugas Tim SAR Laut BPBD Sumenep melakukan patroli rutin di perairan Kalianget, Sumenep, kemarin.

DEMI KEMANUSIAAN: Petugas Tim SAR Laut BPBD Sumenep melakukan patroli rutin di perairan Kalianget, Sumenep, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

PETUGAS tim SAR laut di Sumenep bermarkas di Pelabuhan Kalianget. Personelnya hanya enam orang. Mereka harus selalu siap siaga selama 24 jam.

Setiap personel tim SAR laut mendapat jadwal piket. Dua petugas setiap harinya piket di markas selama 12 jam. Dari pukul 07.00 hingga 19.00. Kemudian sif dua diganti petugas lainnya, mulai pukul 19.00 hingga 07.00. Sementara dua petugas lainnya libur. Begitu seterusnya.

Tim SAR laut besutan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep itu siaga 24 jam. Tidak hanya di markas, jadwal patroli di laut juga sudah dibagikan kepada masing-masing anggota. Berbeda jika terjadi kecelakaan laut, semua petugas langsung diterjunkan ke lapangan.

Banyak suka duka enam anggota tim SAR laut BPBD Sumenep selama setahun dibentuk. Enam petugas tersebut yakni, Moh. Nur Fajri, A. Khairus Shafi, Halim Subiantoro, Mohammad Alfan Romansyah, Ach. Furqan Dinata, dan Toni Juniansyah.

Bagi Moh. Nur Fajri, kebanggaan bergabung dengan tim SAR laut ketika bisa membantu masyarakat yang membutuhkan. Sedangkan ombak besar merupakan duka dari tugasnya. Dia menceritakan pengalaman terparah bertemu dengan ombak besar sewaktu pencarian korban KM Hanin Jaya yang tenggelam di perairan Dungkek.

Saat ini tim SAR laut BPBD Sumenep tidak diizinkan oleh syahbandar Kalianget untuk berlayar. Karena ukuran speedboat tidak memungkinkan untuk melakukan pencarian, mengingat kondisi cuaca dan gelombang laut cukup tinggi. ”Tapi teman-teman memaksakan diri karena ingin membantu menyelamatkan para korban. Karena kalau menunggu tim dari Basarnas masih lama,” ceritanya kemarin (12/1).

Bagi A. Khairus Shafi, bergabung dengan tim ini, dirinya bisa jalan-jalan pada saat patroli ke kepulauan, seperti ke Gili Labak dan Pantai Sembilan. A. Khairus Shafi bergabung sejak Oktober 2019.”Kadang lupa makan ketika melaksanakan tugas. Karena sudah disibukkan dengan kegiatan di lapangan,” kata Khairus.

Sementara bagi Halim Subiantoro, ombak dan hujan deras saat bertugas selalu menyisakan kenangan buruk. Pernah lebih dari dua hari tidak pulang ke rumah saat menjalankan tugas. ”Waktu mengawal kunjungan istri Wakil Gubernur Jatim, Arumi Bachsin, ke Pantai Sembilan. Tidurnya di musala,” ujarnya.

Rela tidak pulang berhari-hari saat bertugas menurutnya sudah dimaklumi keluarga.”Sukanya, ketika bertugas dan air laut tenang. Itu suka sekali. Karena speedboat melaju dengan cepat dan misi bisa terselesaikan dengan cepat dan baik,” ucap Halim.

Kesan bergabung dengan tim SAR bagi Mohammad Alfan Romansyah hampir sama dengan rekan-rekannya. Bisa menikmati pantai saat melaksanakan patroli. Selain itu, bisa mendapat pengalaman dan pengetahuan baru. Bisa membaca arah angin, kondisi laut, dan cuaca. Membantu orang lain menjadi motivasi awal dirinya bergabung dengan tim ini.

Yang mengkhawatirkan masalah risiko keselamatan. Meski tidak sebanding dengan materi yang didapatkan, tapi baginya ini pekerjaan mulia. Tidak hanya untuk mencari materi, melainkan juga pahala. ”Memang kurang, tapi ini sudah tugas dan pekerjaan yang kami pilih,” tuturnya.

Sebagai tim penyelamat, Ach. Furqan Dinata punya kesana tersendiri selama menjadi anggota tim SAR seperti saat ada kejadian laka laut. Berada di laut menurutnya seperti menantang maut. ”Taruhannya nyawa. Menyelamatkan orang, tapi juga berisiko bagi keselamatan kita sendiri,” tuturnya.

Pengalaman mengawal kapal yang membawa korban selamat dari kebakaran KM Santika Nusantara menurutnya masih menyisakan kenangan tersendiri. Sekitar satu jam dia bersama anggota tim lainnya berupaya mendeteksi keberadaan kapal nelayan yang tidak memiliki lampu, GPS, maupun HT untuk dikontak. ”Baru diketahui keberadaannya saat di perairan Tanjung, Saronggi. Banyak pengalaman selama setahun ini,” tandasnya.

Sayangnya, Toni Juniansyah tidak bisa ikut bergabung dengan tim kemarin karena sakit. Namun, suka duka yang dirasakan selama menjadi tim SAR laut tidak jauh berbeda dengan lima rekannya. (*)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia