Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Bincang Bareng Ketua Tim Penyusun Terjemahan Alquran Bahasa Madura

Belum Beredar Luas karena Masih Terbatas

11 Januari 2020, 23: 14: 15 WIB | editor : Abdul Basri

LESTARIKAN BAHASA MADURA: Ketua Tim Penyusun Terjemahan Alquran bahasa Madura Moh. Zahid menunjukkan hasil terjemahannya di ruang kerjanya, Rabu (8/1).

LESTARIKAN BAHASA MADURA: Ketua Tim Penyusun Terjemahan Alquran bahasa Madura Moh. Zahid menunjukkan hasil terjemahannya di ruang kerjanya, Rabu (8/1). (ONGKY ARISTA UA/RadarMadura.id)

Share this      

Penerjemahan Alquran ke bahasa Madura butuh sekitar 16 tahun. Dimulai penerjemahan oleh jamaah pengajian Surabaya yang rata-rata orang Madura hingga terbit secara terbatas pada 2018. Namun, hingga saat ini masih dicetak terbatas.

ONGKY ARISTA UA, Pamekasan, RadarMadura.id

TAMPAK mahasiswa hilir-mudik ketika RadarMadura.id tiba di IAIN Madura, Rabu (8/1). Koran ini kemudian menuju ruang kerja Moh. Zahid. Di ruangan itu tampak beberapa buku menghiasi rak berpintu kaca bening.

Buku-buku tersusun dengan baik. Juga, sejumlah berkas di atas meja lelaki yang menjadi Wakil Rektor II IAIN Madura tersebut. Dan yang menjadi objek pembicaraan kami saat itu adalah Alquran tebal. Alquran yang diterjemahkan ke bahasa Madura. Kitab suci tersebut turut dipajang pada rak yang berisi buku-buku itu.

RadarMadura.id disambut dengan hangat oleh ketua tim penyusun terjemahan Alquran bahasa Madura tersebut. Dia mulai menunjukkan kitab suci yang setelah diterjemahkan menjadi 866 halaman. ”Sampai hari ini Alquran yang diterjemahkan ke dalam bahasa Madura ini masih dicetak terbatas,” terangnya.

Dari sisi proses, penerjemahan Alquran tidak mudah. Bahasa dalam Alquran berbeda dengan sejumlah bahasa di dunia. Termasuk dengan struktur bahasa Madura.

   Para penerjemah harus memiliki kemampuan berbahasa Arab yang baik. Kemudian memiliki kemampuan menelaah tafsir-tafsir, utamanya Tafsir Jalalain yang menjadi rujukan utamanya. ”Karena tidak mungkin kita menerjemahkan Alquran dengan merujuk terjemahan bahasa Indonesia,” ungkapnya.

Jika menerjemahkan Alquran dengan cara merujuk pada terjemahan bahasa Indonesia, itu namanya menerjemahkan hasil terjemahan. ”Tidak begitu, dan kita cukup alot untuk memilih padanan kata Alquran ke dalam bahasa Madura secara tepat,” terangnya.

Lebih lanjut Zahid menjelaskan, ada kolaborasi dalam proses penerjemahan. Antara mereka yang paham tata ejaan bahasa Madura dan mereka yang paham tafsir. ”Tim itulah yang kemudian secara tekun menyusun, mulai mendiskusikan bagaimana penerjemahan tersebut tepat secara bahasa Alquran dan bisa dimengerti juga tidak menyalahi ejaan dan struktur di dalam bahasa Madura,” ungkapnya.

Zahid juga menjelaskan bahwa dalam beberapa tahap penerjemahan tim harus benar-benar berpikir padanan kata yang tepat antara bahasa Alquran yang kaya dengan diksi itu dengan bahasa Madura. Itu menjadi kendala. Jika ada yang tidak bisa dipadankan antara Alquran ke dalam bahasa Madura, maka ditambahi catatan kaki untuk menambah penjelasan agar tidak menyebabkan kesalahan.

Struktur bahasa Arab mengenal jumlah ismiyah dan jumlah fi’liyah. Itu tidak kita temukan dalam kesamaan struktur dalam bahasa Madura. ”Dan dari dua sisi pesan maknanya (mendahulukan kata kerja atau pelakunya dahulu) akan berbeda,” terangnya.

Kalau dipaksakan struktur bahasa Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa Madura dengan apa adanya, bisa membuat pembaca tidak mengerti dan terjemahan menjadi tidak komunikatif lagi bagi pembaca Madura sendiri. ”Kesulitan lain itu, Alquran penuh dengan nilai-nilai sastra,” tambahnya.

Dia tidak mungkin menerjemahkannya dengan menggunakan sajak bahasa Madura. Sebab, itu bisa jauh dari inti makna yang dimaksud dalam Alquran. Penerjemahan kitab suci umat ini ke bahasa Madura tidak lain untuk merawat bahasa daerah. Sejumlah daerah di luar Madura punya terjemahan versi bahasa daerahnya dan Madura baru saja digagas.

”Saya hanya berharap ini bisa mempertahankan atau menyelamatkan bahasa Madura itu sendiri dan bisa membantu orang Madura memperkaya pengetahuannya tentang Alquran melalui sedikit terjemahan kendati juga mesti belajar lebih lanjut,” terangnya.

Dia berharap Alquran berbahasa Madura tersebut dicetak masal. Dia menyadari susunan terjemahan Madura tersebut terdapat banyak kekurangan. Dengan masukan itu dia menganggap bisa mendorong adanya revisi pada edisi pertama tersebut. ”Karena selain perlu masukan dalam proses penerjemahan, juga pasti ada kesalahan dalam proses tata bahasa Madura yang perlu diberi masukan,” tandasnya.

(mr/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia