Sabtu, 18 Jan 2020
radarmadura
icon featured
Features

Asma Leni, Warga Tak Mampu Lahirkan Anak dengan Wajah Tak Sempurna

Butuh Uluran Tangan untuk Biaya Operasi

10 Januari 2020, 14: 20: 43 WIB | editor : Abdul Basri

SEDIH: Abdur Rahman menunjukkan foto anaknya yang lahir tidak sempurna di halaman RSUD dr H Slamet Martodirdjo kemarin.

SEDIH: Abdur Rahman menunjukkan foto anaknya yang lahir tidak sempurna di halaman RSUD dr H Slamet Martodirdjo kemarin. (PRENGKI WIRANANDA/RadarMadura.id)

Share this      

Pasangan Abdur Rahman dan Asma Leni mendapat ujian berat. Anak ketiganya lahir dengan wajah tidak sempurna.

HALAMAN RSUD dr H Slamet Martodirdjo sesak dengan kendaraan pribadi kemarin (9/1). Satpam terlihat sibuk mengatur warga agar memarkir kendaraannya dengan baik. Sementara tepat di tiang penyangga rumah sakit, terlihat laki-laki muram.

Pria berbaju kotak-kotak itu tampak kebingungan. Sesekali dia melihat layar telepon gengggam yang diambil dari sakunya. Gerak-geriknya menunjukkan bahwa pria itu menunggu seseorang. Dia duduk tidak tenang.

Pria itu adalah Abdur Rahman, warga Dusun Barat, Desa Jarin, Kecamatan Pademawu, Pamekasan. Dia sedang mendapat musibah besar. Istri tercintanya, Asma Leni melahirkan bayi perempuan dengan wajah tidak sempurna.

Terdapat lubang besar di bagian hidung. Bibirnya sumbing menyambung dengan lubnag. Mata sebelah kanan tidak ada. Kemudian, terdapat benjolan di bagian kiri tepat di atas mata.

Bayi itu lahir Rabu (8/1) pukul 07.30. Saat ini sedang mendapat perawatan intensif di RSUD dr H Slamet Martodirdjo. Bayi malang itu dirawat di ruang 3B. Hanya ayahnya yang bisa masuk ruangan steril itu.

Abdur Rahman tidak menyangka anak ketiganya lahir dengan kondisi tidak sempurna. Sebab, dua anak lainnya lahir normal. Tetapi selama masa kehamilan, Asma Leni hanya periksa biasa ke bidan. Dia tidak pernah melihat kondisi anaknya melalui ultrasonography (USG). Alasannya, tidak memiliki biaya.

Pria yang biasa disapa Durahman itu hanya bekerja serabutan. Pendapatannya tidak menentu. Sementara istrinya fokus mengurus anak yang masih kecil di rumah. Anak pertama berusia 5 tahun dan yang kedua 3 tahun.

Durahman bingung. Anaknya yang baru lahir harus dioperasi agar memiliki wajah normal. Sementara dia sama sekali tidak punya biaya. ”Saya tidak tahu harus ke mana (mencari uang),” katanya.

Dia ingin melihat anaknya tumbuh normal. Satu-satunya cara harus melalui operasi yang membutuhkan biaya tinggi. Dengan demikian, Durahman berharap uluran tangan dari dermawan dan pemerintah.

Tanpa uluran tangan itu, operasi tidak akan pernah bisa dijalani. Sekalipun biaya medis ditanggung pemerintah, tetapi biaya akomodasi selama proses operasi juga tinggi. ”Semoga ada bantuan,” harapnya.

Durahman sekuat tenaga akan berupaya agar buah hatinya itu bisa hidup normal. Dia akan bekerja banting tulang mencari uang di samping berharap ada bantuan dari dermawan dan pemerintah. ”Anak saya harus dioperasi,” katanya haru.

Ketua Komisi IV DPRD Pamekasan Muhamamd Sahur mengatakan, banyak kasus warga miskin tidak bisa berobat lantaran tidak memiliki biaya akomodasi. Eksekutif harus peka terhadap kejadian seperti itu.

Banyak pos anggaran yang bisa digunakan untuk keperluan sosial. Tinggal realisasinya harus optimal. ”Kami akan berkoordinasi dengan eksekutif agar kasus semacam ini tidak terus-terusan terjadi,” tandasnya.

(mr/pen/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia